Mau dengar cerita penderitaan? Berikut merupakan cerita pengalaman pribadi seseorang. Dia merupakan mahasiswa arsitektur tahun kedua. ia didiagnosa menderita depresi klinis.

Kurang tidur sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa arsitektur lantaran tugas-tugas kampus tuntutannya tinggi. Menurut pernyataan salah satu temannya, mengatakan kekurangan tidur menyebabkan mood-nya naik turun. Kondisi ini mempengaruhi hubungannya dengan pacar dan keluarga.
Tiga semester terakhir, jika sedang tidak begadang ia biasanya hanya bisa tidur dua jam sehari. Jadinya mirip tidur siang saja. Ya mirip waktu tidur anak TK, minus tidur malam. Sewaktu masih sering mendengar podcast horor untuk mengisi masa-masa kurang tidur, begadang terasa mudah. Begitu efek positifnya hilang, ia mulai ganti mendengar podcast metode pendidikan anak. Ibu-ibu yang bicara di podcast itu selalu berhasil meyakinkan saya, bahwa mendidik anak jauh lebih menyeramkan daripada mengidap depresi klinis.
Mahasiswa arsitektur dituntut mengutamakan pekerjaan di atas segalanya. Selain harus memutar otak, kamu juga harus berkarya menggunakan tangan (kadang-kadang kaki jika tak ada teman yang bisa membantu memegang perkakas gambar). "Secara emosional berat banget harus selalu fokus biarpun pikiran kalian sebenarnya kemana-mana.
Diperkirakan 25 persen mahasiswa arsitektur di Inggris memiliki masalah kesehatan mental. Data ini membuat dia semakin merasa sedih sekaligus menenangkan. Dia tidak sendiri. Para penderita depresi kerap mengalami breakdown, namun kami tidak punya waktu sekadar menangis saking banyaknya tugas yang harus dikerjakan.
Banyak teman merasa bersalah jika mereka terkesan punya waktu menjalani hobi. Buku-buku bacaan ia menumpuk di pojokan kamar tak tersentuh. Dia tidak pernah lagi pergi ke bioskop atau konser musik. Hidupnya dihabiskan di kampus. Dari pengalaman itulah—pengalaman anak arsitektur yang penuh penderitaan—sangat menyebalkan tiap kali mendengar komentar orang-orang yang tidak pernah merasakan perjuangan kami. Mereka kadang komentar, "wah gue juga kemaren gak sempet tidur tuh" atau "gue juga pernah kayak gitu dulu, tenang aja entar juga lewat." Rasanya tidak ada mahasiswa yang lebih sibuk dari anak jurusan arsitektur karena kami harus kerja nyaris 24 jam sehari.
"Buku-buku bacaan saya menumpuk di pojokan kamar tak tersentuh. Saya tidak pernah lagi pergi ke bioskop atau konser musik."
Anda dan saya boleh komentar kalau sudah pernah merasakan capek-capek tak tidur demi membuat model, lalu besoknya dosen dengan entengnya menyuruh anda mulai dari nol lagi. Satu hal lagi yang bikin frustrasi adalah sistem penilaian jurusan arsitektur. Standar kelas bergantung kepada nilai-nilai mahasiswanya. Kalau ada yang dapat nilai bagus, standar kelas otomatis naik. Dengan sistem semacam ini, tidak heran apabila anda cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Hal semacam ini merosotkan rasa percaya diri dan membuat anda meragukan kemampuan. Kalau sedang begitu, sudah pasti dia tidak akan bisa bikin karya yang bagus.
Jurusan arsitektur kerap dipandang sebelah mata. Namun anda baru bisa mengerti esensi jurusan ini kalau sudah merasakan sendiri,. Cuma jujur aja, kuliah itu lebih stres daripada kerja. Kalau kamu udah mulai kerja, kamu akan lebih santai karena engga harus membela karya terus-terusan.
Dari cerita tersebut, dapat disimpulkan kedalam penderitaan yang cukup berat 75%. Sebab, hal ini menyangkut psikologi mental seseorang bahkan dapat menyebabkan kematian/bunuh diri karena depresi yang sudah cukup parah. Oleh karena itu kita membutuhkan seorang teman agar dapat termotivasi dan terbebas dari depresi berat.
0 komentar:
Posting Komentar