Minggu, 25 Juni 2017

LEBARAN : FENOMENA KEBUDAYAAN NUSANTARA DI INDONESIA

TUGAS 12 ILMU BUDAYA DASAR
DYAH ALIA FAHRANA FILDZAHANI
1TB03
22316228


Gemerlap Dalam Lebaran

Dibelahan bumi ini, mungkin tak ada yang dapat menyamai keriuhan perayaan tradisi sebuah bangsa sebagaimana yang diperlihatkan oleh perayaan Lebaran. Sebuah pagelaran akbar dihelat begitu riuhnya yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan menelan biaya besar yang tak dapat disentuh oleh hukum-hukum ekonomi. Justru yang terjadi even akbar ini menjadi bidikan pelaku-pelaku ekonomi lintas latar belakang untuk dapat meraup untung besar. Keunikan dan sangat spesifik nusantara dapat dirasakan pada hari-hari sebelumnya. Tatkala masyarakat mulai menghitung hari kapan lebaran tiba dan bagaimana mempersiapkannya.

Aneka jajanan, mulai dari yang khas tradisional buatan sendiri sampai jajanan kemasan fabrikasi, mengisi daftar utama yang harus disediakan di setiap rumah tanpa kecuali. Bahan-bahan makanan untuk konsumsi keluarga dan jajanan untuk suguhan mulai dipersiapkan sedini mungkin. Seringkali jenis makanan tertentu hanya kita jumpai pada masa Lebaran saja. Pakaian baru juga identik dengan Lebaran. Baju baru tidak hanya kebutuhan anak-anak saja, namun orang-orang dewasa juga sibuk menyiapkan. Tak heran jika kios pasar penjual pakaian, toko-toko busana, mall hingga butik ramai diserbu pembeli. Kerumunan manusia berjubel memilih dan memilah pakaian yang dirasa pantas untuk dipakai pada hari kemenangan nanti. Tentunya yang terbaik menurut selera. Bagi yang menginginkan model khusus atau ukuran yang paling pas dan belum tentu ada di pasaran, mereka membeli bahan kain dan menjahitkan pada tukang jahit kepercayaannya. Rumah-rumah dibersihkan dan dicat ulang agar terlihat indah menyambut Lebaran. Interiornya ditata ulang bahkan kalau perlu perabotan baru mesti disediakan.

Kenyataan ini pula yang membuat para pelaku niaga membidik momen besar Lebaran sebagai sasaran menawarkan produk dagangannya. Mereka (kaum produsen barang dan jasa) seperti berlomba menawarkan dagangannya sebagai pelengkap demi sempurnanya menyambut Lebaran. Pasar, pusat pertokoan hingga mall turut serta dalam perayaan ini dengan mempercantik outlet-outletnya penuh dengan ikon-ikon lebaran. Bukanlah hal yang mengherankan jika pada hari-hari seperti ini omset penjualan barang-barang apa saja atau jasa meningkat dan berlipat-lipat dibanding hari biasa.

Media televisi tak mau ketinggalan. Tayangan-tayangan yang dipertontonkan pun yang berkaitan dengan hari raya dan telah dimulai dari bulan Ramadhan. Iklan-iklan yang muncul mulai dari makanan dan minuman, pakaian, perabotan rumah tangga, mainan anak-anak hingga kosmetika dihubung-hubungkan dengan nuansa Lebaran. Artis-artis yang semula terbuka mempertontonkan keindahan bagian tubuhnya kini harus memakai topeng beraroma religius. Badannya dibalut dengan busana khas muslim dengan rajutan bordir dan mengenakan jilbab yang akhirnya menjadi trend dan banyak ditiru pemirsa. Ustad-ustad permanen atau dadakan turut panen job dengan acara-acara pengajian di TV bahkan dalam acara komedi yang dilucu-lucukan bersama artis komedian yang dipaksakan.

Pada hari-hari menjelang lebaran tiba, gelap malam nusantara dihiasi oleh keindahan pijar-pijar kembang api aneka jenis dan gelegar bunyi petasan. Sampai-sampai aparat keamanan mesti turun tangan membuat pelarangan peredaran petasan demi keamanan dan kenyamanan. Tingkat penyambutan lebaran dianggap sudah berada pada tahap berlebihan sehingga dapat membahayakan orang banyak. Pada malam puncaknya, iring-iringan masyarakat membuat karnaval yang diberi istilah Takbir Keliling. Mereka berputar-putar keliling kota menggunakan mobil-mobil bak terbuka. Bagi anak-anak cukup keliling kampung membawa obor dan membawa alat bunyi-bunyian. Semuanya penuh kegembiraan. Para ibu-ibu atau wanita menjalani kesibukan di dapur merupakan keasyikan tersendiri. Mereka meramu masakan untuk dinikmati pada lebaran nanti. Inilah masakan terlezat yang pernah dibuat sekali dalam setahun.

Kesibukan menghadapi ‘hari penting’ ini menyentuh segala aspek. Pemerintah harus membuat kebijakan sebaik mungkin demi sempurnanya Lebaran. Ini adalah hari penting yang ditunggu semua lapisan masyarakat, dan merupakan hari libur panjang. Pengamanan ditingkatkan di setiap titik-titik keramaian dengan penjagaan dan pengawasan petugas keamanan. Bank Indonesia harus menyediakan cadangan keuangan dalam jumlah yang besar, karena sudah dapat dipastikan pada hari-hari seperti ini jumlah transaksi mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Petugas pos bekerja ekstra keras agar segala kiriman via jasa pos berupa kartu ucapan, parsel atau kiriman paket-paket yang lain harus tuntas dan sampai ke tangan penerima sebelum hari raya. Perusahaan lain milik negara semacam Telkom harus menjamin kelancaran komunikasi jarak jauh, PLN harus menjamin tak ada gangguan pemadaman listrik, atau Pertamina harus menjamin stok BBM dalam kondisi cukup.

Fenomena dalam Lebaran 

Momen besar setahun sekali itu oleh masyarakat Nusantara disebut Lebaran. Masyarakat Jawa menyebutnya Bakda (Bada) yang berarti setelah atau sesudah. Yang dimaksud adalah hari sesudah atau setelah bulan Ramadhan. Masyarakat Jawa yang lain mengistilahkan Riraya (Riyaya) yang berasal dari kata Hari Raya. Lebaran memang tak dapat dipisahkan begitu saja dengan Ramadhan. Dapat dikatakan Lebaran merupakan grand final atas segala ritus yang telah dilaksanakan oleh umat Islam Nusantara pada bulan Ramadhan. Antropolog Andre Moller menyebut Lebaran merupakan puncak dari himpunan ritus-ritus yang menyertainya sejak menjelang bulan Ramadhan.
Lebaran memang satu nafas dengan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari besar yang dicanangkan bagi penganut Islam di seluruh dunia. Namun dalam bentuk perayaannya, Lebaran (Nusantara) sangat berbeda dengan penyambutan Idul Fitri di belahan dunia lain termasuk akar beradanya agama Islam yaitu di tanah Arab. Perayaan Lebaran di nusantara benar-benar unik dan tak berlebihan jika dikatakan sebagai khas nusantara atau tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Fenomena perayaan Lebaran dapat dilihat dari kebiasaan yang dilakukan orang-orang berurbanisasi ke kota besar dalam rangka mengais rejeki. Saat yang dirasa tepat untuk menumpahkan kerinduan terhadap kampung halaman adalah saat Lebaran tiba. Makin banyaknya kaum urban ini berada di kota besar dan memiliki perasaan yang sama terhadap Lebaran, maka kepulangan mereka menjadi massal dan terbentuklah adegan luar biasa dan kolosal di jalan raya negeri. Peristiwa ini populer disebut Mudik. Masyarakat kota besar terutama Jakarta menyebut kampung dengan istilah udik sehingga kepulangan orang-orang pendatang yang menghuni kota ke kampung halamannya disebut ‘mudik’. Tampaknya ada beberapa unsur pokok dalam Lebaran yakni : Agama, Tempat dan Sosial. 

Lebaran atau Idul Fitri sangat jelas sebagai hari besar yang dicanangkan umat beragama, dalam hal ini Islam. Ada ritus-ritus khusus yang mesti dijalani pada hari tersebut, Shalat Id misalnya. Pada tataran kebudayaan nusantara, shalat id berlangsung sangat fenomenal. Masjid-masjid, lapangan dan tempat-tempat terbuka lainnya penuh sesak oleh lautan manusia yang turut serta berjamaah. Membayangkan melihat upacara ini dari ketinggian laksana menyaksikan pagelaran teatrikal kolosal. Walaupun dalam ketentuan agama, shalat id hukumnya sunnah, namun ibadah ini dianggap sebagai upacara pertaubatan  penting artinya serasa tertebuslah sudah dosa-dosa selama satu tahun. 
Proses mudik juga berkaitan dengan tempat, yakni kampung halaman dimana tempat tersebut menjadi bagian penting perjalanan sejarah hidupnya. Di kampung halaman ini biasanya masih terdapat sanak keluarga yang masih bertahan mendiami tanah keluarga serta terdapat tempat yang sifatnya keramat, yaitu tempat beradanya makam para leluhur atau keluarga. Mengunjungi makam-makam leluhur dan keluarga (ziarah) dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan sebagai pengingat roda sejarah kehidupan. Dapat dijumpai dibeberapa tempat, dimana area makam menjadi ramai dikunjungi orang terutama pada saat-saat menjelang Lebaran.

Yang tak kalah penting adalah kaitan sosial dalam berlebaran. Pulang ‘mudik’ ternyata tak hanya mengunjungi tanah kelahiran saja melainkan ada ikatan-ikatan sosial yang tertinggal. Mereka pulang karena ada sanak saudara, handai taulan, tetangga dan sahabat-sahabat. Ini bisa terlihat pada beberapa orang yang sudah tidak lagi memiliki sanak kerabat di tanah kelahirannya, maka kemungkinan besar tidak turut serta dalam acara mudik. Makna yang tersirat dalam hal ini adalah bagaimana jalinan sosial yang terdekat (keluarga) dan pihak lain (tetangga, sahabat) menjadi sangat penting, dan dengan pemahamannya diharapkan hubungan atau identitas sosial semakin terkuatkan.

Hikmah dalam Lebaran

Budaya, dimanapun tempatnya jelas memiliki nilai dan juga memiliki norma-norma. Tetapi norma dimaksud tidaklah bersifat statis namun tumbuh berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan ruang, masa dan konteks tujuan. Kebudayaan bukan tidak ada yang merencanakan atau merancangnya demi pemahaman terhadap suatu peristiwa, tetapi budaya selalu tumbuh dan terjadi. Dengan kata lain, budaya bukan didesain oleh seseorang melainkan dihidupkan oleh banyak orang atau suatu komunitas.

Dalam Lebaran dimana muatan yang melekat dalam agendanya adalah bersilaturahmi dan saling maaf- memaafkan, maka terselip makna yang dalam yaitu  : yang jauh didekatkan, yang terputus disambung, yang terpisah dipertemukan, yang rusak diperbaiki, yang berbeda diharmoniskan.
Memandang implementasi masyarakat dalam berLebaran yang sedemikian rupa, tak urung terdapati pula sisi-sisi paradoksial. Tampak ada bentuk-bentuk ‘absurd’ antara kehalusan silaturahmi, maaf-memaafkan, ziarah, sujud pada orang tua, bersalaman pada sisi yang satu, dengan benturan saling berlomba-lomba unjuk aksi, penampilan, pesta dan juga bentuk-bentuk konsumerisme yang lain. Tetapi barangkali hal seperti itulah yang disebut budaya, mungkin juga fenomena tersebut merupakan gambaran sejati manusia dimana hal-hal yang bersifat paradoks bersatu. Atau memang sulit diterjemahkan terhadap dualisme yang terjadi dan telah menjadi tradisi. Antara kekhusukan ibadah dengan keriuhan suara bedug, kentongan dan petasan, antara spirit kembali jernih dengan pesta-pesta konsumtif, antara memperbanyak pemberian (amal) dengan meraup keuntungan (perdagangan).

Ironis memang, tapi barangkali saja lebaran adalah penggambaran umum dari sifat sejati kemanusiaan nusantara. Acara ‘mudik’ misalnya, secara fisik jelas melelahkan karena perjalanan yang cukup jauh, menyakitkan karena harus berdesak-desakan mengantri transportasi, mahal karena ongkos tarif angkutan bisa naik tiga kali lipat belum lagi bekal biaya yang akan dihabiskan untuk berlebaran di kampung, namun semangat dan kenikmatan yang mungkin dirasakan para pemudik tak dapat diukur dengan rumus-rumus atau perhitungan normatif.

Bisa jadi, “budaya Lebaran” adalah suatu sektor yang paling tidak jelas norma dan dogmanya, namun memuat suatu unsur penyeimbang atau yang paling menerima dan bahkan mampu mengelola kehadiran dualisme watak ekstrem manusia. Nilai spiritual dan sosial budaya pada kenyataannya memang tak bisa diukur hanya dari sisi praktis-ekonomis. Dengan demikian, persoalan pokok yang mesti disikapi adalah bukan membersihkan, memberantas atau memberangus hal-hal yang bersifat “hingar bingar” untuk digantikan dengan hal-hal yang bersifat “khusyuk syahdu”, namun lebih pada penghayatan makna Keseimbangan.

SUMBER:



Share:

Manusia Tanpa Harapan

TUGAS 11 ILMU BUDAYA DASAR
DYAH ALIA FAHRANA FILDZAHANI
1TB03
22316228
MANUSIA TANPA HARAPAN


“Manusia mungkin bisa bertahan hidup tanpa makanan, tapi tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup tanpa harapan.”



Mengapa setiap orang harus memiliki harapan? Harapan adalah sebuah kata yang dapat langsung membangkitkan perasaan yang mendalam bagi siapapun yang mendengar ataupun membicarakannya. Ada banyak definisi dari harapan. Entah yang dihubungkan dengan kepercayaan diri maupun dapat berarti landasan untuk melakukan perubahan demi suatu perbaikan bagi pribadi dan sosial.
Tanpa harapan, kita akan dengan mudah menyerah dan memohon kematian lebih cepat dari seharusnya. Mesin penggerak manusia adalah harapan. Hanya orang yang memiliki harapan yang mampu bertahan hidup dalam ujian yang ringan maupun berat. Hanya orang-orang yang memiliki harapan untuk perdamaian dan percaya bahwa mereka bisa menyumbangkan sesuatu untuk itu, akan menciptakan ketentraman.
Hanya penjual yang memiliki harapan bahwa ia akan menemukan pelanggan untuk produknya, berhasil menjual produk-produknya. Hanya atlet yang memiliki harapan, yang akan menang untuk mendukung semua upaya latihannya selama ini. Hanya dia yang percaya bahwa ada solusi untuk masalah, yang akan mengambil upaya untuk menemukan solusi itu. Tanpa harapan, tidak akan ada kemajuan, kelangsungan hidup dan masa depan.
Dengan rasa optimis, rasa percaya diri, dan penuh harapan, membuat kita dapat menuai lebih banyak sisi positif daripada orang-orang yang hanya bersikap pesimis atau menertawakan harapan kita. Mimpi, harapan, dan visi akan memotivasi kita untuk menunjukkan pada orang-orang tersebut bahwa sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin.
Optimisme akan menegaskan harapan bahwa hal-hal berkembang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka yakin bahwa mereka akan menemukan solusi untuk masalah-masalah yang mungkin timbul. Dan karena mereka percaya bahwa ada solusi untuk masalah yang muncul, maka solusi itu pun ditemukan.
Sedangkan pesimisme adalah bagian dari ketidakpercayaan diri untuk menemukan solusi untuk masalah mereka. Tentu saja pada awalnya tidak ada sikap pesimis. Tetapi dengan berjalannya waktu, sikap ini muncul akibat adanya pikiran dan keyakinan bahwa mustahil mencari sesuatu dari hal yang diyakini tidak ada. Artinya mereka tidak memiliki harapan.
Jangan takut untuk bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. Jika Anda berhenti bermimpi, kita telah kehilangan semua harapan. Berpikir positif dan bermimpilah, karena benih untuk kehidupan yang lebih baik adalah dengan menanam. Sampai muncul benih dan berbuah, hal itu hanya membutuhkan waktu yang agak lama saja. Harapan selalu ada di setiap situasi apapun. Tidak pernah ada situasi yang tidak menawarkan harapan. Yang perlu kita lakukan adalah tidak putus asa.


Share:

Sabtu, 24 Juni 2017

Fenomena Budaya Menyambut Bulan Ramadhan

Dalam menyambut bulan Ramadhan, biasanya banyak hal yang kita lakukan. Salah satunya adalah berziarah kubur. Ziarah kubur itu sendiri terdiri dari dua kata yaitu ziarah dan kubur, kata ziarah sendiri berasal dari bahasa arab yaitu zara dari kata yazuru-ziyaratan yang memiliki makna mengunjungi. Dan kata kuburan itu sendiri ialah makan atau tempat disemahyamkannya orang yang sudah meninggal, sehingga pengertian ziarah kubur itu sendiri ialah mengunjungi kuburan.
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, khususnya setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan, banyak lokasi kuburan umum yang dipadati oleh peziarah. Para peziarah ini pun tanpa disadari secara kompak mengenakan kostum khas, pakaian muslim yang serba hitam.

Sebenarnya, perintah khusus untuk berziarah kubur menjelang bulang Ramadhan sebenarnya nyaris tidak ada dalil yang sifatnya eksplisit. Sehingga hukumnya tidak secara khusus disunnahkan, apalagi diwajibkan. Maka bila kita ingin berziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, tidak ada anjuran khusus atau larangan. Yang pasti adalah, kamu tidak melanggar aturan-aturan mengenai ziarah kubur yang benar dan sesuai ajaran Islam. Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian.

Tidak hanya Indonesia yang memiliki tradisi menyambut Bulan Ramadhan, namun beberapa negara juga punya keunikannya sendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Di antaranya ada Mesir, Jepang, Albania, India, Austria, Cina dan Arab Saudi.

Sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, Mesir juga memiliki sebuah tradisi unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Umat Muslim yang ada di Mesir tepatnya di kota Kairo, menjelang bulan Ramadhan biasanya akan memasang semacam lampu gantung tradisional bernama Fanus di setiap rumah mereka. Tradisi unik kaum Muslim yang ada di Mesir ini sudah dimulai sejak sangat lama tepatnya sejak zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu lampu Fanus biasa di pasang guna menyambut kedatangan armada pasukan dari kerajaan yang datang mengunjungi daerah itu setiap menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini terus berlanjut hingga saat ini dan setiap bulan Ramadahan akan datang masyarakat Kairo akan berbondong-bondong membeli lampu Fanus untuk menghiasi rumah mereka, hal ini membuat kota mesir jadi penuh warna dan terlihat semakin indah di bulan Ramadhan.

Meskipun merupakan kaum minoritas di negaranya, kaum Muslim di Jepang tak kalah semarak dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Mereka akan saling berbagi kebahagiaan bersama umat muslim lainya, dengan mengadakan berbagai macam acara, yang tentunya berhubungan dengan bulan Ramadhan. Seperti kegiatan yang mereka lakukan di Japan Islamic Center misalnya, mereka akan membentuk semacam panitia Ramadhan untuk menyusun segala kegiatan berupa Majelis Taklim, Sholat Tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku yang bernafaskan ajaran Islam serta hal-hal lainya yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia ini juga bertugas menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikanya ke rumah-rumah keluarga Muslim, jadwal ini juga di bagikan ke restoran-restoran Muslim yang ada di seantero Jepang.

Kali ini kita akan beralih ke sebuah negara pecahan dari Uni Soviet yaitu Albania, di negara yang terletak di bagian tenggara Eropa ini terdapat sebuah tradisi unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Masyarakat di Albania biasanya akan menggelar sebuah kesenian tradisional yang di sebut dengan Lodra. Sebuah kesenian yang mirip dengan prosesi pukul bedug yang biasa diadakan di beberapa wilayah di Indonesia. Namun bedanya Kesenian Lodra asal Albania ini tak menggunakan bedug, melainkan sebuah perkusi yang berukuran agak besar yang terbuat dari sebuah tabung yang masing-masing ujungnya di balut dengan menggunakan kulit domba atau kambing. Alat untuk memukulnya sendiri juga terdiri dari dua buah stik yang mirip dengan alat untuk memukul drum hanya saja ujungnya sedikit melengkung. Kesenian Lodra juga sering di kombinasikan dengan alat musik tiup, hingga kesenian Lodra ini sekilas mirip dengan marching band. Selain untuk menyambut bulan puasa kesenian Lodra juga biasa dipentaskan untuk mengiringi sahur atau yang biasa disebut dengan Syfyr dan saat berbuka puasa yang disebut Iftar.

Selanjutnya kita beralih ke negara yang terkenal dengan produksi film Bollywoodnya yang sudah mendunia, yaitu India. Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini, ternyata juga terdapat sebuah tradisi unik yang di lakukan masyarakat Muslim yang ada di sana menjelang Ramadhan, atau warga India biasa menyebutnya Ramazan. Para pria Muslim disini akan menghiasi mata mereka dengan Kohl (Sejenis Celak Mata), sebuah tradisi yang hampir mirip dengan yang di lakukan oleh orang Jawa saat menyambut datangnya bulan Suro.

Sedikit berbeda dengan tradisi menyambut bulan suci Ramadhan di negara lain, di negara Austria menjelang bulan Ramadhan warga Muslimnya akan menggelar sebuah kampanye pengumpulan paket lebaran bagi keluarga miskin dan hadiah anak-anak yatim piatu yang ada di Palestina. Tindakan mulia ini dikoordinasi oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di negara Austria. Kampanye yang bernama Feeding Fasting Palestinians ini berjalan cukup sukses dan mendapat tanggapan yang sangat positif dari warga Muslim yang ada di Austria. Setelah terkumpul semua sumbangan biasanya akan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Menurut penuturan Joshua Kucera, seorang traveler yang pernah berkunjung ke negara Tiongkok pada saat bulan puasa, di negara tirai bambu ini terdapat sebuah kawasan yang mayoritas masyarakatnya memeluk ajaran agama Islam, kawasan itu bernama Kashgar. Sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan negara Turki dan di bangun pada tahun 1442. Dan karena kedekatan letak geologisnya ini, masyarakat Kashgar memiliki sebuah tradisi unik berupa nyanyian yang diselingi dengan tari-tarian. Namun sayangnya tradisi ini adalah salah satu hal yang masih tersisa dari kebudayaan bangsa Kashgar yang semakin termarjinalkan oleh kemajuan jaman. Di Kashgar jangankan serial televisi khusus yang bertemakan bulan Ramadhan, kumandang Adzan saja nyaris tak terdengar. Selain itu diantara suasana sepi dan khusuk, masyarakan kashgar masih menjaga salah satu tradisi lain yaitu Muslim Kashgar akan lebih menyukai kudapan yang di buat oleh Muslim lainya pada saat bulan Ramadhan daripada masakan Cina.

Sebagai salah satu negara yang memiliki penduduk Muslim mayoritas, kemeriahan bulan Ramadhan di  Arab Saudi sudah tak diragukan lagi. Salah satunya adalah tradisi "Meriam Ramadhan" yang ada di Makkah Al-Mukarramah, tradisi unik ini digunakan sebagai pertanda awal datangnya bulan suci Ramadhan. Meriam ini akan di bunyikan pada malam, tepat senbelum bulan puasa. Selain itu meriam ini juga akan di bunyikan sebagai tanda waktu untuk berbuka puasa, waktu sahur dan juga pertanda datangnya waktu Imsyakiyah. Meriam yang di letakkan di sebuah bukit bernama "Gunung Meriam" yang lokasinya berdekatan dengan Masjidil Haram ini akan senantiasa menggelegar sepanjang bulan puasa, sampai akhirnya di bunyikan untuk terakhir kali pada hari terakhir di bulan Ramadhan sebagai tanda masuknya Idul Fitri 1 Syawal. Setelah itu meriam itu akan di kembalikan ke tempatnya semula yaitu ke daerah bernama 'Azizah sampai akhirnya di kembalikan lagi ke "Gunung Meriam" pada bulan Ramadhan berikutnya.

Sumber:
- [ ] http://tuntunanshalat.info/pengertian-ziarah-kubur/
- [ ] https://www.muslimarket.com/blog/tradisi-ziarah-kubur-menjelang-bulan-ramadhan/
- [ ] https://rumaysho.com/3470-mengkhususkan-ziarah-kubur-menjelang-ramadhan.html
- [ ] http://www.wajibbaca.com/2016/05/inilah-tradisi-unik-yang.html

Share:

Manusia Tanpa Harapan

Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun adakalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha.
Menurut kodratnya, manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap manusia yang lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari interaksi hidup. Ditengah-tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat, ialah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan kebutuhan hidup, sudah kodratnya bahwa manusia mempunyai bermacam – macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia itu ialah:
a)      Harapan kelangsungan hidup (survival)
b)      Harapan keamanan (safety)
c)      Harapan hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d)      Harapan agar diakui lingkungan (status)
e)      Harapan dalam perwujudan cita-cita (self actualization)
Tanpa adanya harapan itu semua, manusia seperti langsung kehilangan tujuan hidup. Tanpa tujuan itulah, seolah hidup hanya sekadarnya saja tanpa mau berusaha jika ada kesulitan ataupun cobaan. Manusia akan mudah menyerah bila tidak memiliki harapan seperti yg telah dijelaskan di atas.
Banyak kasusnya yang telah terjadi, bahwa manusia mudah menyerah dalam hidup atau dalam kata lain yaitu mengakhiri hidupnya begitu kesulitan datang menghampiri. Jadi penting adanya manusia agar memiliki harapan.
Salah satu contoh kasus bunuh diri kebanyakan karena depresi. Seperti halnya yang tertera di bawah ini:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Penyebab meninggalnya dosen ITB Suryo Utomo yang ditemukan di waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat kini telah terungkap.
Dari keterangan awal yang didapat polisi dari saksi maupun hasil otopsi sementara polisi menyatakan Suryo meninggal akibat bunuh diri karena depresi. (http://m.tribunnews.com/metropolitan/2017/05/16/dosen-itb-diduga-bunuh-diri-karena-depresi)
Share:

Jumat, 23 Juni 2017

FENOMENA MUDIK KETIKA LEBARAN DI INDONESIA



NAMA : ERIKA BUDI H.
KELAS : 1TB03
NPM : 22316362

MUDIK LEBARAN

Image result for mudik

Memang sampai sekarang mudik masih menjadi fenomena di kalangan indonesia. Karena mudik adalah kegiatan setiap orang melakukan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia sangat identik dengan tradisi setiap tahun yang terjadi menjelang Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya orang Jawa, Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi Indonesia yang sering dilakukan dari zaman sampai zaman sekarang. Yang membuat  pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul bersama dengan keluarga – keluarga , saudara , dan teman lama yang terjadi ketika lebaran.

Tahukah anda Mudik diambil dari kata “udik” yang artinya  kampung atau jauh dari kota. Entah sejak kapan tradisi mudik yang pulang kampung ke halman masing – masing  di indonesia dimulai . Tetapi menurut seseorang budayawan Jacob Soemardjo, mudik ialah tradisi primordial masyarakat – masyarakat  Jawa yang sudah mengenal tradisi yang sudah lama  ini jauh sebelum berdiri Kerajaan besar Majapahit untuk membersihkan kuburan keluarga dan berdo’a bersama untuk dewa-dewa di kahyangan untuk meminta pertolongan keselamatan kampung halamannya yang sangat rutin dilakukan satukali dalam satu tahun. Kebiasaan membersihkan kuburan dan berdoa bersama di kuburan keluarga masing – masing  sewaktu pulang kampung sampai saat ini teradisi  tersebut masih banyak ditemukan di daerah Jawa.

Budaya mudik  tersebut merupakan suatu nilai sosial positif bagi orang Indonesia, karena dengan pulang kampung yang berguna untuk memperkuat nilai silaturahmi terhadap keluarga. Anda pastinya ada acara yang dilakukan ketika mudik khususnya menjelang lebaran ini  bukan hanya menjadi milik umat muslimah maupun muslimin yang akan merayakan idul fitri bersama keluarga, tetapi telah menjadi milik “masyarakat indonesia” seluruhnya. karena pada dasarnya bersilaturahmi adalah sebuah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak akan dapat hidup tanpa orang lain, meskipun manusia adalah  individu yang boleh menetukan tujuan hidupnya sendiri.

Selain melakukan bersilaturahmi, mudik juga merupakan  momen – momen dimana untuk menunjukkan sebuah eksistensi para pemudik terhadap orang lain. Dengan bertemu keluarga, mereka bisa menunjukkan sampai sejauh mana hasil jerih payah mencapai taraf hidup di perantauan. meskipun ajang “pamer” ini cenderung berdampak negatif. para perantau rela menghabisi tabungannya,disaat jerih payahnya selama dia merantau untuk menunjukkan “keberhasilan” kepada keluarga mereka dan tetangga. Tidak heran penjual handphone dan motor/mobil sangat laris ketika mendekati hari lebaran.

Sebetulnya pulang kampung bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di luar Negeri seperti Eropa atau Amerika, yang memiliki tradisi berkumpul untuk makan bersama dengan keluarga besar mereka pada saat malam natal. Walaupun mobilisasi yang ada tidak sehebat “pulang kampung” di indonesia. diperkirakan mobilitas mudik di indonesia, adalah mobilisasi penduduk terbesar di dunia setiap tahunnya.

Setiap negara memiliki tradisi yang berbeda didalam merayakan hari raya Idul Fitri. Seperti di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia. Kendati Islam adalah agama mayoritas dan penerapan syariat sangat ketat, namun tetap saja perayaan Idul Fitri tidak semeriah di Tanah Air.

Syarif Rahmat, warga Negara Indonesia yang 10 tahun bermukim di Arab Saudi, merasakan suasana berbeda perayaan Idul Fitri di jazirah Arab itu. Yang membedakan Idul Fitri di Indonesia dengan di Arab Saudi. Pertama, di Arab Saudi, tidak mengenal tabuh ‘beduk’. Beda di Indonesia, malam takbiran, masyarakat mulai anak-anak hingga orang dewasa larut dalam kegembiraan dengan menabuh beduk di Masjid, Musholla dan jalan raya.

“Di Indonesia ada beduk. Kalau disini tidak ada beduk. Disini hanya takbir-takbir saja,” kata Syarif Rahmat, dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Jumat (17/7/2015).

Kedua, di Tanah Air, setelah Shalat Ied biasanya saling mengunjungi sanak keluarga, dan tetangga bahkan keliling kampung untuk bersilaturahmi. Sementara di Arab Saudi, sebaliknya. Selesai shalat langsung kembali ke rumah masing-masing. Aktivitas di lakukan pada malam hari, itu pun hanya mengunjungi kelurga terdekat.

Ketiga, soal makanan. Di Indonesia menu utama adalah ketupat dan daging sapi atau ayam. Sementara di rumah orang Arab, justru lebih banyak makanan manis seperti cokelat.

“Jadi siap-siap saja dengan penyakit gula. Di Arab, pertama yang disajikan adalah kopi  arab dan kurma. Warna kopinya itu bukan hitam tetapi hijau kekuningan. Disini juga ada kunafa, sejenis mie kering yang ditimpa dengan susu kental”.

Bagi WNI yang ‘rindu’ dengan ketupat dan opor, tenang saja di Arab Saudi, ratusan toko menjual makanan khas Indonesia. Di wisma KBRI juga biasanya disediakan untuk memanjakan WNI.

Adapun perbedaan yang paling mencolok adalah tradisi mudik. Di Arab tidak dikenal tradisi mudik. “Tidak ada tradisi mudik. Disini lebaran dan tidak lebaran sama saja. Begini-begini saja. Di sini tidak mudik. Biasanya hari kedua masyarakat Arab pergi ke luar kota untuk liburan tapi sebentar. Misal ke daerah pegunungan di Thaif,” terangnya.

Sumber: rri.co.id
Share:

Kamis, 22 Juni 2017

TUGAS KE 2 & 3

Dampak  Masuknya  Budaya Asing (Barat) Terhadap Budaya Bangsa Indonesia

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan Barat sudah mendominanisasi segala aspek. Segala hal selalu mengacu kepada Barat. Peradaban Barat telah menguasai dunia. Banyak perubahan-perubahan peradaban yang terjadi di penjuru dunia ini. Kebudayan Barat hanya sebagai petaka buruk bagi Timur. Timur yang selalu berperadaban mulia, sedikit demi sedikit mulai mengikuti kebudayaan Barat. Masuknya budaya Barat ke Indonesia disebabkan salah satunya karena adanya krisis globalisasi yang meracuni Indonesia. Pengaruh tersebut berjalan sangat cepat dan menyangkut berbagai bidang kehidupan. Tentu saja pengaruh tersebut akan menghasilkan dampak yang sangat luas pada sistem kebudayaan masyarakat. Begitu cepatnya pengaruh budaya asing tersebut menyebabkan terjadinya goncangan budaya(culture shock), yaitu suatu keadaan dimana masyarakat tidak mamapu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Adanya penyerapan unsur budaya luar yang di lakukan secara cepat dan tidak melalui suatu proses internalisasi yang mendalam dapat menyebabkan terjadinya ketimpangan antara wujud yang di tampilkan dan nilai-nilai yang menjadi landasannya atau yang biasa disebut ketimpangan budaya. Secara timbal balik, tiap peradaban akan berpengaruh satu sama lain. Hukum sosial berlaku bagi semua peradaban. Peradaban yang maju, pada suatu masa, cenderung memiliki perngaruh yang luas bagi peradaban-peradaban lain yang berkembang belakangan. Perkembangan terknologi, terutama masuknya kebudayaan asing (barat) tanpa disadari telah menghancurkan kebudayaan lokal. Minimnya pengetahuan menjadi pemicu alkulturasi kebudayaan yang melahirkan jenis kebudayaan baru. Masuknya kebudayaan tersebut tanpa disaring oleh masyarakat dan diterima secara mentah. Akibatnya kebudayaan asli masyarakat mengalami degradasi yang sangat luar biasa. Budaya asing yang masuk keindonesia menyebabkan multi efek. Budaya Indonesia perlahan-lahan semakin punah. Berbagai iklan yang mengantarkan kita untuk hidup gaul dalam konteks modern dan tidak tradisional sehingga memunculkan banyaknya kepentingan para individu yang mengharuskan berada diatas kepentingan orang lain. Akibatnya terjadi sifat individualisme semakin berpeluang untuk menjadi budaya kesehariannya. Ini semua sebenarnya terhantui akan praktik budaya yang sifatnya hanya memuaskan kehidupan semata. Sebuah kebobrokan ketika bangsa Indonesia telah pudar dalam bingkai kenafsuan belaka berprilaku yang sebenarnya tidak mendapatkan manfaat sama sekali jika dipandang dari sudut keislaman. Artinya dizaman Edan sekarang ini manusia hidup dalam tingkat Hidonisme yang sangat tinggi berpikir dalam jangka pendek hanya mencari kepuasaan belaka dimana kepuasaan tersebut yang menyesatkan umat islam untuk berprilaku. Salah satu contoh Serdehana sesuai dengan kenyataan, Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa kita, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. dengan adanya budaya barat atau budaya asing di Indonesia, dapat membawa dampak bagi Indonesia. Dampak masuknya budaya asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi, keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif. Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan yang tidak, "maka kita semua sebagai warga Indonesia wajib membanggakan apa saja yang sudah menjadi budaya kita sendiri", jangan sampai melupakan budaya lama dengan sudah menemukan budaya baru. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa namun kita harus tetap menjaga agar budaya kita tidak luntur. Langkah-langkah untuk mengantisipasinya adalah antara lain dengan cara, Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri, Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya, Melaksanakan ajaran Agama dengan sebaik- baiknya dan Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.
Share:

Sabtu, 17 Juni 2017

Rangkuman Ilmu Budaya Dasar 4

TUGAS 10 ILMU BUDAYA DASAR
DYAH ALIA FAHRANA FILDZAHANI
1TB03
22316228

MANUSIA DAN KEGELISAHAN

Gelisah berarti tidak tenteram harinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Kegelisahan dapat diketahui dari gejala tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala, memandang jauh ke depan sambil mengepal-ngepalkan tangan, duduk termenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, dan malas bicara.

Sigmund Freud ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik, dan kecemasan moril.

a)      Kecemasan obyektif
Pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau bahaya dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda atau keadaan tertentu dari lingkungannya.

b)      Kecemasan neorotis (syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah.

c)      Kecemasan moril
Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi, antara lain iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, dan rasa kurang.
Rasa iri, benci, dengki, dendam merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Oleh karena itu, sering alasan untuk iri, benci, dengki itu kurang dapat dipahami orang lain. Sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji, bahkan mengakibatkan manusia akan merasa khawatir, takut, cemas, gelisah, dan putus asa.

KETIDAKPASTIAN

Ketidakpastian artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas.

Macam-macam penyebab terjadinya ketidakpastian

1.      Obsesi
Merupakan neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus. Biasanya hal – hal yang tidak menyenangkan.

2.      Phobia
Ialah rasa ketakutan yang tidak dikehendaki, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian tanpa diketahui sebab – sebabnya.

3.      Kompulasi
Ialah adanya keragu – raguan tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada yang tidak disadari melakukan perbuatan yang serupa berkali – kali.

4.      Hysteria
Ialah neurosa yang disebabkn oleh tekanan mental,kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang lain.

5.      Delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu kenyataan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman.
Delusi ada 3 macam yaitu :
- Delusi persekusi : mengaggap keadaan sekitarnya jelek.
- Delusi keagungan : menganggap dirinya orang penting dan besar.
- Delusi melancholis : manganggap dirinya bersalah, hina, dan dosa.

6.      Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca indera dengan sugesti dari orang dapat juga berhalusinasi, yang umumnya halusinasi buatan.

7.      Keadaan emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang berpengaruh oleh emosinya. Ini Nampak pada keseluruhan pribadinya.


MANUSIA DAN HARAPAN

Setiap manusia mempunyai  harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam bidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing.

Sebab manusia mempunyai harapan

1.      Dorongan kodrat
Dalam  diri  manusia  masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat  atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan  kodrat  ini, maka  manusia  mempunyai  harapan.

2.      Dorongan kebutuhan hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam  kebutuhan hidup. Kebutuhan   hidup  itu  pada  garis  besarnya  dapat  dibedakan menjadi  kebutuhan  jasmani   dan kebutuhan  rohani. Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

3.      Kelangsungan hidup
Untuk melangsungkan  hidupnya  manusia membutuhkan  sandang, pangan  dan papan(tempat  tinggal). Dengan  pengetahuan   yang  tinggi  harapan  memperolleh   pangan, sandang,  dan papan  yang layak  akan terpenuhi.  Atau tiap manusia  perlu kerja keras dengan harapan  apa  yang  diinginkan.

4.      Keamanan
Setiap orang membutuhkan  keamanan. Rasa  aman    tidak harus  diwujudkan   dengan  perlindungan  yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi  rasa aman. Walaupun  secara fisik keadaannya  dalam  bahaya, keyakinan  bahwa Tuhan memberikan  perlindungan  berarti sudah memberikan   keamanan  yang diharapkan.

5.      Mencintai dan dicintai
Bila seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai.

6.      Cita-cita
Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya  atau profesinya. Pada  saat itu manusia mengembangkan  bakat  atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.





Share:

MANUSIA DAN KEGELISAHAN

NAMA: TIARA NUR INDAH RAHMA P
NIM     : 27316384

RESUME
MANUSIA DAN KEGELISAHAN
       Gelisah artinya rasa yang tidak tentram dihati atau selalu merasa khawatir, tidak dapat tenang, tidak sabar atas apa yang di alaminya dan cemas. Era Globalisasi kemoderanan tidak sedikit dapat menyebabkan kegelisahan. Hal ini diakibatkan oleh kebutuhan hidup yang meningkat, rasa individualistis dan egoisme. Dari sudut konteks budaya, kegelisahan muncul akibat adanya Instink manusia untuk berbudaya yaitu instink mencari kesempurnaan.  Namun demikian alasan utama timbulnya kegelisahan adalah karena manusia punya hati dan perasaan
Asal kata “gelisah” à  rasa tidak tenang
                                      rasa tidak tentram
                                      rasa khawatir
                                      rasa tidak sabar


Sumber kegelisahan
Internal à dari dalam diri individu itu sendiri  (rasa berdosa, rasa malu)
Eksternal à ancaman/bahaya dari luar (kriminalitas)
Bentuk-bentuk kegelisahan :
1. Keterasingan
2. ketidakpastian
3. kesepian
Kegelisahan dalam Karya Seni
              Melalui karya seni kita bisa menangkap  fenomena kegelisahan dalam dimensi yang lebih  jauh dan lebih luasRefleksi dari kepekaan terhadap kegelisahan lebih mudah ditangkap melalui berbagai karya seni dan terasaberat untuk disampaikan melalui media lainnya.

Macam-Macam Kegelisahan
Menurut Sigmund Freud:
1.Kegelisahan Obyektif
      Bersumber kepada sesuatu kekuatan yang ada diluar diri manusia
Bisa muncul dari antisipasi seseorang berdasar pada pengalaman perasaannya terhadap kemungkinan adanya bahaya yang mengganggu dirinya
2. Kegelisahan Neorotis (syaraf)
      Timbul karena perasaan tidak mampu menghadapi apa yang terjadi (bisikan naluri)
      Takut bayangan sendiri
      Takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
      Takut irrasional (phobia)
3. Kegelisahan Moril
      Muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan marah, malu, berdosa dsb.
      Bersumber pada struktur kepribadian seseorang



KETIDAKPASTIAN
            Ketidakpastian artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tampa arah yang jelas, tampa asal-usul yang jelas, Kata ketidakpastian berarti suatu keraguan.
Sebab-sebab ketidakpastian:
1.  obsesi, gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar      dihilangkan
2.  phobia, Phobia biasanya disebabkan karena seseorang mengalami trauma masa lalu dan biasanya trauma itu membekas didalam kesadarannya
3.  kompulsi,  tindakan yang biasanya dilakukan secara berulang untuk mengurangi kecemasan.
4.  histeria, adalah gangguan mental yang timbul dari kecemasan intens.
5.  delusi, ketidaksinambungan antara pemikiran dan emosi sehingga penderitanya kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya. Delusi deibagi menjadi tiga:
Ø  Penekusià keadaan disekitarnya jelek
Ø  Keagungan à orang penting, besar
Ø  Melancholic à bersalah, hina, dosa
6.  halusinasi,  terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas, substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya.




MANUSIA DAN HARAPAN
            Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan dapat diartikan sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Yang dapat disimpulkan harapan itu menyangkut permasalahan masa depan. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing – masing.

Sebab-sebab manusia memiliki harapan
            Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga atau sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari interaksi hidup. Ditengah – tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik / jasmani maupun mental / spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
            Dorongan kodrat, ialah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
            Dorongan kebutuhan hidup, sudah kodratnya bahwa manusia mempunyai bermacam – macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manuis itu ialah :
a)      Kelangsungan hidup (survival)
b)      Keamanan (safety)
c)      Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d)      Diakui linkungan (status)
e)      Perwujudan cita – cita (self actualization)


BAGAIMANA MANUSIA TAMPA HARAPAN ?

Manusia tampa harapan seperti manusia yang tidak mmiliki tujuan hidup ,berarti manusa itu mati dalam hidup. Harapan adalah bentuk transformasi atas perjalanan hidup. Jika harapan itu terpotong maka proses transformasi tersebut menjadi terhenti dan hidup akan menjadi tidak jelas. 

Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.