Jumat, 30 September 2016

Kepadatan Penduduk dan Pranata Sosial

  1.            Kepadatan Penduduk

      

Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk di suatu wilayah per satuan luas atau perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan. Berikut ini faktor- faktor penyebab kepadatan penduduk
a.         Faktor kelahiran
b.         Faktor iklim dan tempat strategis
c.         Faktor ekonomi
     d.         Faktor sosial
Cara untuk mengatasi kepadatan penduduk yang semakin tinggi adalah dengan cara membangun tempat-tempat permukiman penduduk secara efesien seperti membangun rumah susun, menyediakan prasarana yang memadai (rumah sakit, sekolah, dan ruang terbuka).

2. Pranata Sosial
Pranata sosial adalah system norma yang mengatur segala tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. Dr. Koentjaraningrat  membagi pranata sosial menjadi 8 macam yaitu:
1.   Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah, contoh : metode ilmiah, penelitian, dan  pendidikan ilmiah.
2.   Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan menyatakan rasa keindahan dan   reaksi, contoh : seni rupa, seni drama dan sport.
3.        Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan dan domestic institutions, contoh : pertunangan, perkawinan, dan perceraian.
4.      Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian tertentu, contoh : pertanian, peternakan, dan industry.
5.       Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, contoh : TK, SD, SMP, dan SMA.
6.   Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam terhubungnya dengan Tuhan, contoh : masjid, gereja, dan klenteng.
7.      Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan suatu kelompok atau Negara, contoh : pemerintah demokrasi, kepolisian, dan kehakiman.
8.  Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia, contoh:     pemeliharaan kecantikan, kesehatan, dan kedokteran.

Sumber:     
     https://www.plengdut.com/macam-macam-pranata-sosial/323/ 
   http://xoenabhie01.blogspot.co.id/2009/10/macam-macam-pranata-sosial.html

Share:

KEPADATAN PENDUDUK DAN PRANATA SOSIAL


A. KEPADATAN PENDUDUK

kepadatan penduduk Indonesia sumber: Google.com

   Kepadatan Penduduk adalah perbandingan dari jumlah penduduk dibagi dengan luas wilayahnya. Contohnya : Setiap 1 Km2 wilayah dihuni oleh 120 penduduk, jika melebihi batas tersebut menyebabkan terjadinya ledakan penduduk. Hal ini dapat kita lihat di Indonesia yang laju pertumbuhan penduduknya meningkat pesat.
    Pertumbuhan penduduk di Indonesia pun meningkat dengan cepat,bahkan Indonesia menempati posisi ke 4 dengan penduduk terbanyak di dunia setelah China,India dan Amerika Serikat, banyak sekali faktor penyebab terjadinya kepadatan penduduk seperti pola pikir orang Indonesia yang “banyak anak banyak rezeki”, banyaknya pergaulan bebas dikalangan remaja Indonesia dan program KB (Keluarga Berencana) yang kurang efektif di Indonesia membuat pengendalian pemerintah terhadap jumlah populasi penduduk tidak terkendali.
    Jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya bertambah, menurut data sensus penduduk terakhir pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia mencapai 237641326 jiwa. Banyak sekali dampak yang terjadi akibat terjadinya kepadatan penduduk ini seperti banyaknya pengangguran,banyaknya penduduk yang tidak mempunyai rumah dan masih banyak lagi.
Menurut saya ada banyak juga cara untuk menanggulangi kasus kepadatan penduduk ini,seperti:
1. Melakukan penyuluhan pada penduduk tentang program KB
Penyuluhan disini bermaksud memberi tahu pada penduduk apa itu KB dan apa gunanya agar penduduk yang awam soal ini mengetahui dan menerapkan program ini.
2. Pemindahan penduduk
Melakukan pemindahan penduduk dari yang padat penduduk ke wilayah yang masih sepi penduduk nampaknya juga bisa mengatasi kepadatan penduduk di Indonesia.
3. Membuat rumah susun
Pembuatan rumah susun untuk dihuni penduduk yang kurang mampu agar penduduk tidak membuat rumah atau tempat tinggal dilahan pemerintah.
4. Memperluas lapangan pekerjaan
Perluasan lapangan pekerjaan pada wilayah yang masih sepi penduduk juga sepertinya bisa mengatasi masalah ini,agar rakyat bisa mencari kerja dan tinggal diwilayah sepi penduduk dan tidak terfokuskan untuk mencari kerja dan tempat tinggal pada satu wilayah saja.


B. PRANATA SOSIAL
Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dalam hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. Pranata sosial berasal dari bahasa asing social institutions, itulah sebabnya ada beberapa ahli sosiologi yang mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan, di antaranya adalah Soerjono Soekanto. Berikut contoh contoh dari pranata sosial:
1. Domestic Institutions
 Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan social dan kekerabatan,contohnya: perkawinan,sopan santun antar kerabat,tolong menolong antar kerabat,bisnis antar kerabat.
2. Economic Institutions
 Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan mendistribusikan harta benda, contohnya :pertanian,perikanan,bekerja,koperasi,perdagangan.
3. Educational Institutions
 Pranata yang bertujan memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan manusia atau, contohnya : pendidikan masyarakat dari SD,SMP,SMA dan perguruan tinggi.
4. Aesthetic & recreational Institutions
  Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan rasa keindahan dan rekreasi, contohnya : seni suara,seni rupa,seni lukis, seni teater, seni sastra, seni tari.
5. Religius Institutions
Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, contohnya : berdoa,beribadah, bangunan bangunan agama seperti masjid,gereja.
6. Political institutions
  Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara, contohnya : demokrasi,hukum,pemerintahan.
7. somatic institutions
    Pranata-pranata yang mengurus kebutuhan jasmani manusia, contohnya : memelihan kebugaran tubuh, menjaga kecantikan dan kedokteran.
8. Scientific Institutions
Pranata yang betujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia, contohnya : bermacam metode metode ilmiah dan pendidikan ilmiah.





SUMBER:
http://www.pengertianpakar.com/2015/08/pengertian-kepadatan-penduduk-dampak-penyebab-dan-cara-mengatasi.html oleh Sugiharyanto
http://www.seocontoh.com/2016/01/data-jumlah-sensus-penduduk-update-2016.html oleh Syamsul
http://ilmupengetahuanumum.com/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/ oleh Dickson
http://dhanti1001.blogspot.co.id/2012/06/pengertian-dan-fungsi-pranata-sosial.html oleh Dhanti Aulia
semua pada pukul 23.23 pm
Share:

Kepadatan Penduduk dan Pranata Sosial



1.    Meningkatnya populasi penduduk
Indonesia menempati posisi 4 besar dengan jumlah penduduk terbanyak dibawah China, India, dan Amerika Serikat dengan jumlah penduduk kurang lebih 240 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, Indonesia tentu memiliki beberapa masalah, salah satunya adalah meningkatnya jumlah populasi manusia. Sejalan dengan bertambahnya jumlah populasi manusia, jumlah lahan yang ditempati oleh manusia juga berkurang, yang dapat menyebabkan kepadatan penduduk yang tidak merata dibeberapa daerah. Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk dalamsetiap wilayah seluas satu kilometer persegi. Contohnya, pusat pemerintahan dan segala hal-hal inti di Indonesia kebanyakan berpusat di pulau jawa, sedangkan di pulau-pulau lain hanya seadanya saja. Beberapa faktor yang menyebabkan mengapa kepadatan penduduk tidak merata, dan hanya terpusat di pulau jawa saja, yaitu; jumlah lapangan pekerjaan yang banyak, fasilitas yang memadai, transportasi yang mudah, dan keinginan untuk mencari pengalaman.  Bagaimana cara untuk mengatasi masalah populasi penduduk yang membludak dan dapat menyebabkan kepadatan penduduk yang tidak merata?
a.       Melakukan program transmigrasi
Sekitar beberapa puluh tahun silam, Indonesia sempat melakukan program transmigrasi. Menyebarkan banyak kepala keluarga yang berada di pulau jawa yang padat ke pulau-pulau yang masih sepi penduduk. Masing-masing kepala keluarga diberikan sebidang  tanah untuk bangunan rumah dan juga lahan untuk berkebun. Jika adanya program transmigrasi, banyaknya populasi penduduk yang ada di Indonesia ataupun kepadatan penduduk tidak akan terlalu terlihat, bahkan akan memajukan dan mengembangkan daerah yang menjadi tujuan transmigrasi.  
b.      Melancarkan program KB
Masih banyak masyarakat yang menyepelekan program keluarga berenca alias KB, seharusnya dilakukan banyak sosialisasi dan memberikan pemahaman ke masyarakat tentang program keluarga berencana dan keuntungannya.
c.       Meningkatkan kualitas pendidikan
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan di seluruh penjuru indonesia, maka akan membuat masyarakat tidak perlu berpindah ke pusat negara atau pulau jawa yang akan menyebabkan kepadatan penduduk yang tidak merata, dan akan meningkatkan pula kesadaran dan kepekaan masyarakat terhadap jumlah populasi manusia di Indonesia.
d.      Memperluas lapangan kerja
Kebanyakan masyarakat takut untuk tinggal di daerah-daerah kecil dan memilih untuk hijrah ke ibu kota adalah sedikitnya lapangan pekerjaan. Seandainya pemerintah dapat menemukan solusi untuk memperluas lapangan pekerjaan, mungkin antusias masyaraat untuk mencari kerja ke ibu kota tak akan sebesar sekarang dan tak akan menyebabkan kepadatan penduduk yag tidak merata.
e.      Meningkatkan infrastruktur
Infrastruktur sama saja dengan prasarana, yaitu segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Infrastruktur dapat berupa jalan, kereta api, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul, pelabuhan, dan lain-lain. Dalam proses ini tentu dibutuhkan Arsitek profesional dan juga beberapa teknisi lain untuk mewujudkannya.
f.        Mengatur tata kota
Akibat perencanaan tata ruang kota yang tidak jelas dapat menyebabkan banyak masalah, seperti banjir, kemacetan, pemukiman yang tidak teratur, dan lain-lain. Tata kota yang baik akan membuat masyarakat yang menempati daerah-daerah tujuan transmigrasi atau daerah yang dianggap tidak menarik menjadi nyaman untuk tinggal walaupun bukan di daerah pusat seperti jawa. Pengaturan tata kota juga tidak luput dari campur tangan Arsitek.
g.       Meningkatkan fasilitas umum
Fasilitas umum seperti gedung-gedung atau tempat umum di atur sebaik dan semenarik mungkin, seperti gedung sekolah, gedung pemerintahan, tempat wisata, taman kota, dan lain-lain. Tujuannya sama, yaitu untuk membuat masyarakat merasa nyaman dan tidak jenuh, dan memang sudah seharusnya fasilitas umum di buat dengan baik. Untuk meningkatkan fasilitas umum tentu membutuhkan Arsitek yang memiliki desain dan ide yang baru.


2.    Pranata sosial 
         Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dalam hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. Pranata sosial dibagi menjadi 8 bagian, yaitu;
a.       Domestic institutions
Domestic institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan. Contohnya pernikahan, pertunangan, pertemanan, dan lain-lain.
b.      Economic institutions
Economic institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan mendistribusikan harta benda. Contohnya, koperasi, perikanan , pertainian, perdagangan, dan lain-lain.
c.       Educational institutions
Educational instituions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan. Contohnya, tk, sd, smp, sma, perguruan tinggi, dan lain-lain.
d.      Scientific institutions
Scientific institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia. Contohnya, berbagai metofi ilmiah dan pendidikan ilmiah lainnya.
e.      Aesthetic and Recreational institutios
Aesthetic and Recreational institutions adalah pranata yang memilki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia  untuk menyatakan rasa keindahan rekreasi. Contohnya, seni suara, seni lukis, seni tari, dan lain-lain.
f.        Religius institutions
Religius institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. Contohnya, doa, shalat, dan lain-lain.
g.       Politic institutions
Politic institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk megatur kehidupan berkelompok atau bernegara. Contohnya, pemrintahan, demokrasi, pemilu, kehakiman, dan lain-lain.
h.      Spmatic institutions
Spmatic institutions adalah pranata yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Contohnya, kesehatan, kecantikan, dan lain-lain.

Sumber:

Share:

Pelebaran Kali Krukut Menggusur Bangunan-Bangunan Disekitarnya

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Sedangkan menurut saya permasalahan sosial adalah suatu hal yang harus diselesaikan dalam lingkup masyarakat dan berkenaan dengan kepentingan umum.

Contoh permasalahan sosial di Indonesia adalah pelebaran kali Krukut dari bangunan disekitarnya yang bertujuan untuk mengatasi luapan banjir di Kemang



Penataan Kali Krukut akan dilakukan Dinas Tata Air DKI Jakarta. Kepala Dinasnya, Teguh Hendrawan, mengatakan, saat ini masih menunggu inventarisasi bangunan oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan. Teguh hanya menyatakan bahwa Kali Krukut sudah akut sebab di beberapa titiknya hanya tersisa tiga meter dari lebar seharusnya 20 meter. "Kuncinya (pelaksanaan inventarisasi) sama Pak Wali Kota Selatan, pengembalian lebar kali yang diminta Pak Gubernur itu selebar 20 meter," kata dia. Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi sendiri mengatakan tidak akan pandang bulu dalam menertibkan bangunan di wilayahnya. Tak hanya rumah tanpa sertifikat di bantaran kali, Tri menyebut Hotel Pop Kemang, Kemang Village, dan Joop Fine juga harus dibongkar. "Pokoknya melanggar trase lima meter bongkar. Biar dia punya sertifikat juga tapi kan dia melanggar peraturan bangunan," kata Tri.

Pelebaran kali Krukut tersebut dikarenakan bangunan-bangunan dan pemukiman warga yang berada disekitar kali tersebut berada terlalu dekat dan memakan lahan yang seharusnya merupakan bagian dari kali tersebut, dan bangunan-bangunan tersebut menyebabkan banjir di daerah kemang. Sebagian warga sudah menerima bantuan pemerintah yang telah menyiapkan 38 unit rusun, tetapi jumlah tersebut masih kurang untuk semua warga yang sebelumnya tinggal disekitar kali tersebut. (sumber: kompas.co.id)

Solusi dari warga yang tempat tinggalnya dibongkar adalah seharusnya pemerintah sudah melakukan riset tata kota arsitektur terlebih dahulu sebelum menetapkan jumlah rusun yang akan disiapkan, sesuai dengan konsep teori arsitektur di bidang sosial dan humaniora. Sedangkan pemerintah juga harus peka dan tanggap akan keadaan kali tersebut yang sejak dulu sudah ada gedung-gedung yang dibangun terlalu dekat dengan kali, sesuai dengan konsep arsitektur dibidang sosial dan politik, sehingga banjir dan penggusuran seharusnya tidak terjadi sama sekali. Namun saja dibiarkan oleh pemerintah sehingga bermunculan bangunan-bangunan lain yang dibangun karena pemerintah lalai dan tidak menanggapi perbuatan tersebut sejak dulu.


Referensi:
http://www.ilmupsikologi.com/2015/10/pengertian-dan-bentuk-masalah-sosial-menurut-para-ahli.html
http://www.google.co.id/url?url=http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/30/10572301/
Share:

PERMASALAHAN SOSIAL: Angin Kencang Sebabkan Atap Plaza Kalibata Ambruk

Sabtu, 24 September 2016 - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Ibu Kota petang ini menyebabkan satu titik atap di Plaza Kalibata, Jakarta Selatan, ambruk. Beruntung, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.Menurut salah satu saksi mata bernama Nurdin (30), peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Dia menduga angin kencang membuat atap di Plaza Kalibata itu ambruk. ( http://news.detik.com/berita/d-3305995/angin-kencang-sebabkan-atap-plaza-kalibata-ambruk-tak-ada-korban )
metro.sindonews.com
Runtuhnya atap yang ditiup angin kencang diduga karena atap yang kurang kokoh baik dari bahan ataupun struktunya. Meskipun tidak memakan korban jiwa, namun satu orang mendapat luka ringan akibatnya. Peristiwa itu tentu saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sang perancang bangunan maupun masyarakat yang menikmati fasilitas hiburan di dalamnya, menjadikan hal tersebut termasuk dalam permasalahan sosial.
Menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Dalam kasus ini, runtuhnya atap Plaza Kalibata yang membahayakan kehidupan kelompok sosial yang bisa saja tertimpa puing-puing reruntuhan atap bangunan. Dalam teori arsitektur Vitruvius, yakni Utilitas, Firmitas, dan Venustas, harus ada keseimbangan antara kekuatan, komponen fungsi, dan komponen estetika pada setiap bangunan. Oleh karenanya, setiap bangunan memiliki struktur dan bahan yang berbeda. Maka dari itu, renovasi atap Plaza Kalibata yang runtuh yang akan dilakukan ke depannya harus lebih memperhatikan kekuatan struktur dan bahan yang digunakan agar dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.
Sumber:
Nama : Yola Safitri (27316791)
Kelas : 1TB03
Share:

Kamis, 29 September 2016

KEPADATAN PENDUDUK DAN PRANATA SOSIAL

 A.      KEPADATAN PENDUDUK

Pengertian Kepadatan Penduduk adalah perbandingan dari jumlah penduduk dibagi dengan luas wilayahnya. Contohnya : Setiap 1 Km2 wilayah dihuni oleh 120 penduduk, jika melebihi batas tersebut menyebabkan terjadinya ledakan penduduk. Hal ini dapat kita lihat di Indonesia yang laju pertumbuhan penduduknya meningkat pesat. 

Penduduk Indonesia yang sudah mencapai 240 juta jiwa saat ini telah menjadi masalah yang sangat serius. Penduduk yang begitu besar telah menempatkan Indonesia menjadi 4 besar negara penduduk terbesar di Dunia di bawah China, India dan Amerika Serikat. Menurut A. Raymond S. Pearl, arah pertumbuhan penduduk mengikuti kurva normal, akibat pengaruh kepadatan penduduk di ruang hidup. Semakin tinggi kepadatan penduduk, maka tingkat fertilitas berkurang. Jika ada perubahan, misalnya sistem ekonomi berubah, maka akan terbentuk kurva normal yang baru. Kepadatan penduduk akan berdampak pada berbagai sektor seperti sektor pendidikan, kesehatan, pendapatan dan lingkungan. Masalah yang sering terjadi dengan kepadatan penduduk  adalah:

1. Banyaknya jumlah pengangguran
Hal ini terjadi karena jumlah lapangan kerja tidak sebanding dengan angkatan kerja. Sehingga sebagian besar tenaga kerja tidak kebagian pekerjaan yang layak. Pengangguran bisa menjadi masalah yang besar karena menimbulkan banyak ekses negatif, terutama semakin sedikitnya pendapatan masyarakat yang memicu banyaknya tindak kriminal dan semakin meningkatnya kemiskinan.

2. Kebutuhan semakin meningkat
Negara harus bersiap menjaga ketahanan pangan karena jumlah penduduk yang terus meningkat. Menurut data BPS kebutuhan beras pada tahun 2014 sebanyak 34,4 juta ton beras. Pada tahun 2015 pasti terus meningkat lagi. Dengan meningkatnya kebutuhan itu maka pemerintah harus menimpor sebagaian kebutuhan. Padahal impor itu bisa mengurangi devisa dan pendapatan negara. 

3. Munculnya ketidakmerataan kumlah penduduk
Pada pulau Jawa terlalu banyak penduduk, sedangkan di pulau-pulau lain penduduknya sedikit. Di Jawa muncul banyak pemukiman-pemukiman kumuh dan padat. Sementara banyak daerah yang kekurangan tenaga kerja karena terlalu sedikitnya jumlah penduduk.

4.  Adanya kesenjangan ekonomi yang lebar
Banyaknya jumlah penduduk tidak dibarengi dengan pemertaaan kesejahteraan. Sebagian besar penduduk hidup penuh kekurangan sementara hanya sebagian kecil yang menikmati kemakmuran yang berlebih. 



Sudah ada berbagai cara yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah kependudukan ini, salah satu contohnya adalah dengan mengadakan Program Keluarga Berencana. Akan tetapi, program tersebut tidak mampu untuk membendung kebiasaan serta pola pikir masyarakat untuk memiliki banyak keturunan. Namun, ada cara lain yang dapat dilakukan pemerintah maupun penduduk itu sendiri untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yaitu :

1. Melaksanakan Program Transmigrasi dan Menyediakan Fasilitas bagi Transmigran
Tujuan transmigrasi agar terjadi pemerataan jumlah penduduk di seluruh Indonesia. Program ini sangat baik dalam menyebarkan sumber daya manusia agar semua daerah bisa membangun dengan baik. Misalnya dengan melakukan pemindahan penduduk dari wilayah yang padat penduduknya ke wilayah yang kurang penduduknya. Dengan upaya ini akan mengurangi jumlah kepadatan di wilayah yang padat penduduknya. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan fasilitas bagi transmigran, seperti tempat tinggal, penyediaan lahan dan mempermudah proses pelaksanaan transmigrasi agar para transmigran tidak keberatan untuk melakukan transmigrasi.

2. Memperluas lapangan kerja
Usaha pemerintah untuk terus membuka lapangan kerja baru menjadi program yang wajib. Hal ini karena setiap tahun angkatan kerja baru terus bermunculan. Dengan semakin banyak yang bekerja diharapkan pengangguran bisa dikurangi dan kesejahteraan rakyat menjadi meningkat. Perluasan lapangan kerja dilakukan dengan mengembangkan Industri, pertanian, perkebunan, petambangan dan perikanan di wilayah yang lain. Dengan upaya ini diharapkan penduduk tidak terfokus untuk mencari pekerjaan di satu wilayah saja.

3. Memperhatikan pembangunan Indonesia Timur
Pemerintah harus lebih fokus dalam memperhatikan pembangunan wilayah Indonesia di bagian timur. Dengan adanya pembangunan di daerah tersebut, maka akan terjadi pemerataan kependudukan dan dapat menghindari kepadatan penduduk yang terjadi di wilayah tertentu.

4. Peningkatan mutu pendidikan
Pendidikan bisa meningkatkan mutu SDM sebuah negara. Penduduk yang berpendidikan bisa mengahsilkan produktifitas yang tinggi untuk pembangunan. Selain itu pendidikan bisa membuat rakyat lebih realistis dalam membangun sebuah keluarga. 

B. PRANATA SOSIAL

Pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir dan mengejewantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Ada 8 bidang pranata sosial, yaitu sebagai berikut:

1.       Domestic Institutions
Domestic Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan masyarakat. Contoh pranata sosial dari domestic instituions adalah keluarga dan kekerabatan.
2.       Economic Institutions
Economic Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun dan mendistribusikan harta benda. Contoh pranata sosial dari Economic Institutions adalah pertanian.
3.       Scientific Institutions
Scientific Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia. Contoh pranata sosial dari Scientific Institutions adalah ilmu pengetahuan.
4.       Educational Institutions
Educational Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan manusia. Contoh pranata sosial dari Educational Institutions adalah TK, SD, SMP, dan SMA.
5.       Aesthetic and recreational Institutions
Aesthetic and recreational Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan rasa keindahan dan rekreasi. Contoh pranata sosial dari Aesthetic and recreational Institutions adalah seni rupa dan seni lukis.
6.       Religius Institutions
Religius Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. Contoh pranata sosial dari Religius Institutions adalah masjid, gereja, pura, dan wihara.
7.       Political Institutions
Political Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kebutuhan berkelompok atau bernegara. Contoh pranata sosial dari Political Institutions adalah pemerintahan dan partai politik.
8.       Somatic Institutions
Somatic Institutions adalah pranata sosial yang bertujuan untuk mengurus kebutuhan jasmani manusia. Contoh pranata sosial dari Somatic Institutions adalah pemeliharaan kesehatan dan kecantikan.



Sumber: 
http://bidanpedulikb.blogspot.co.id/2013/06/masalah-kependudukan-di-indonesia-dan.html 





Share:

PERMASALAH SOSIAL : PENATAAN KEMBALI KAMPUNG LUAR BATANG

 


Masalah Sosial adalah suatu kondisi yang terlahir dari sebuah keadaan masyarakat yang tidak ideal, atau definisi masalah sosial yaitu keditaksesuaian unsur-unsur masyarakat yang dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial. Masalah sosial merupakan suatu kondisi yang dapat muncul dari keadaan masyarakat yang kurang atau tidak ideal, maksudnya selama terdapat kebutuhan dalam masyarakat yang tidak terpenuhi secara merata maka masalah sosial akan tetap selalu ada didalam kehidupan.

Martin S. Weinberg mengemukakan pengertian masalah sosial, Masalah Sosial merupakan situasi yang dinyatakan sebagai keadaan yang bertentang dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup penting, dimana masyarakat sepakat melakukan suatu tindakan guna mengubah situasi tersebut.

Kampung Luar Batang ini berbeda secara sosial budaya dengan kampung-kampung pesisir lainnya di Jakarta yang terkesan kumuh dan tidak tertib. Oleh karena itu, pendekatan antropologis harus dilakukan untuk melihat perosalan secara jernih terkait upaya relokasi Kampung Luar Batang ini. Ketika artikel ini dibuat, belum semua KK di Luar Batang bersedia untuk dipindahkan. Bahkan rumah-rumah yang berada di sekitar lokasi Makam Kramat Masjid Luar Batang belum bersedia untuk pindah meski dengan iming-iming ganti rugi yang menguntungkan. Menurut keterangan Daeng Mansyur Amin, sekretaris pengurus Masjid Luar Batang, masyarakat Luar Batang tidak bersedia untuk pindah meski dijanjikan uang yang menggiurkan. Menurut laporan Republika (28/4/2016), sekitar 315 kepala keluarga di RW 04 Kampung Luar Batang yang akan tergusur demi proyek revitalisasi kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Saya kira Pemprov DKI Jakarta dibawah Ahok sudah memahami keberadaan Masjid Luar Batang dan Makam Kramatnya. Oleh karena itu, mereka menawarkan perluasan dan penataan yang lebih baik agar potensi Masjid Luar Batang sebagai wisata religi menjadi lebih menarik bagi para wisatawan. Meski demikian, warga di sektar masjid tetap tidak bergeming. Ketika terjadi jalan buntu (deadlock) seperti ini, maka mediasi saya kira diperlukan dalam proses pendekatan kepada masyarakat Luar Batang untuk mencapai solusi yang bisa diterima semua pihak. Selama ini, Pemprov DKI melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat. Sikap seperti ini tidak selamanya tepat karena kepercayaan masyarakat Luar Batang terhadap Pemprov DKI Jakarta lagi rendah. Apalagi, antara pihak Pemprov DKI Jakarta dengan masyarakat Luar Batang bersikeras dengan perbedaan-perbedaan mereka sehingga tidak mampu mencapai jalan keluar atau solusi. Membangun kesepakatan bukan keterpaksaan Ketika masing-masing pihak memiliki tujuan yang berbeda, maka mediasi membantu semua pihak untuk berunding terkait hak dan kewajibannya. Mediator, atau juru runding harus berasal dari pihak ketiga dan bersikap netral karena akan mendampingi Pemprov DKI Jakarta dan masyarakat Luar Batang untuk berunding dan mencapai kesepakatan dengan sukses. Sayaratnya, tidak boleh ada satu pihakpun yang dipaksa untuk berunding karena perundingan adalah suatu kegiatan yang bersifat sukarela. Kesepakatan adalah karakteristik penting dari pengelolaan pembangunan secara kolaboratif. Mengapa? Karena berbagai pihak memiliki kepentingan yang berbeda, seperti pemerintah, masyarakat, LSM/ORNOP dan sektor swasta. Dalam pengelolaan Masjid Luar Batang, yang diperlukan adalah terjaganya keseimbangan antara pembangunan dan pelestariannya. Intinya, mediasi membantu memberdayakan kemampuan masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang timbul sambil membantu membangun hubungan-hubungan yang positif dalam masyarakat. Pemprov DKI Jakarta, saya kira sudah memahami karakteristik masyarakat Luar Batang dan keberadaan Makam Kramat Masjid Luar Batang yang dikultuskan oleh masyarakat setempat. Hanya saja, pesan ini kurang sampai ke masyarakat. Fungsi mediator dengan demikian akan menjembatani miskomunikasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan masyarakat Luar Batang sehingga tercapai kesepakatan. Bukan pemaksaan dan keterpaksaan.

Solusi
Masyarakat dan Pemerintah harus memiliki simbiosis mutualisme yang bisa menguntungkan ke 2 belah pihak. Masyarakat harus taat pada aturan yang sudah di tetapkan oleh pemerintah, dan Pemerintah pun harus menjadi pemimpin yang amanah agar masyarakat tidak berpikir negatif ketika pemerintah melakukan sosialisasi. Karena tidak sedikit masyarakat yang berpikir ada pihak yang ingin mengambil keuntungan dari sosialisasi yang di lakukan pemerintah, pemerintah tidak boleh semena-mena kepada masyarakat terlebih membuat aturan yang menyengsarakan masyarakatnya. Maka dari itu sikap saling percaya dibutuhkan untuk dapat mewujudkan penataan kampong luar batang yang tertib



Sumber :

http://www.kompasiana.com/adlinsila/kisruh-di-kampung-luar-batang-antara-relokasi-dan-mediasi_575362441bafbd430dff1cde
http://www.pengertianku.net/2015/08/pengertian-masalah-sosial-dan-contohnya-maupun-penyebabnya.html
http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-masalah-sosial-menurut-pakar.html
http://www.rmoljakarta.com/read/2016/05/10/25921/MUI-Janji-Bakal-Ikut-Bantu-Pertahankan-Kampung-Luar-Batang-
Share:

PERAN ARSITEK DALAM MENGATASI KEPADATAN PENDUDUK

Tugas ke 2

NAMA                                    : FRISKA APRILIANI
KELAS                                   : 1TB03
NPM                                       : 22316924
JURUSAN                              : TEKNIK ARSITEKTUR

1. KEPADATAN PENDUDUK

Penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus atau kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.

      Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan menempati urutan keempat dalam daftar Negara dengan penduduk terbesar di dunia. Hal itu menyebabkan kependudukan menjadi sorotan banyak pihak di lingkungan Pemerintah, pengamat, akademisi, serta media massa. Salah satu masalah kependudukan adalah laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang ada. Akibatnya penduduk berbondong bondong mencari pekerjaan ke pusat kota. Apa itu pertumbuhan penduduk? Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi.

       Migrasi yang meningkat pesat menimbulkan dampak dan permasalahan baru. Overload kota dapat menyebabkan kota menjadi kelebihan penduduk dan kurang terjaga kesehatannya karena keterbatasan fasilitas-fasilitas kesehatan sedangkan penduduknya tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal. Perencanaan kota tanpa  visi,  misi dan Pembangunan tidak  menggarap potensi unggulan. Pembangunan kota bersifat sporadis dan takluk pada kepentingan pemodal. Siapa saja boleh mendirikan bangunan di kota asal punya uang, tanpa  mengacu pada rencana umum tata ruang, rencana detail, atau rencana teknis yang telah dibuat oleh aparat pemerintah kota. Akibatnya, banyak ambisi yang mengorbankan gedung-gedung bersejarah demi pamrih ekonomistik. Tidak mengherankan jika kota-kota besar di negeri ini, baik yang berkategori metropolitan maupun megapolitan dipadati mal, supermal, department store, pusat-pusat belanja, apartemen, serta aneka bangunan dan fasilitas yang serba raksasa, tanpa ketersediaan ruang terbuka hijau yang memadai. Pada akhirnya, lahan untuk perumahan makin sulit didapat dan harganya juga mahal. Hal itu yang menyebabkan penduduk di kota sangat padat. Kita lihat banyak penduduk  yang  mendirikan bangunan tidak resmi, bahkan ada pula yang membuat  tempat tinggal sementara dari plastik atau dari karton di pinggir sungai atau di bawah kolong jembatan. 

       Model perencanaan kota seperti itu, sangat berbahaya bagi masa depan kota. Pembangunan yang serampangan, lambat laun membentuk kota mirip human zoo. Dimana kota yang seharusnya menjadi impian malah menjadi kota yang mengerikan dan menyengsarakan. Masyarakat yang seharusnya menikmati berbagai infrastruktur dan fasilitas di kota, malah mendapatkan yang sebaliknya. Ruang-ruang publik  jadi  sumpek, penghuninya tidak peduli  lingkungan dan  berpotensi menciptakan manusia-manusia temperamental, liar, serta intoleran. 

Foto : Kompasiana.com
       Keseluruhan gejala tersebut jadi satu indikasi nyata terbentuknya human zoo bila tidak segera direvisi. Kota-kota telah kehilangan apa yang disebut sebagai urban paradise atau surga perkotaan di antaranya berupa taman, lapangan olahraga, tempat bermain, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Berbagai tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota yang terjadi saat ini membuat sebagian besar RTH dikonversi menjadi fasilitas perkotaan. Kota-kota di Indonesia sering kali tidak menempatkan RTH sebagai salah satu ruang penting yang harus ada dalam kota. Padahal RTH dalam suatu kota perlu memiliki  perencanaan dan perhatian yang khusus, karena memiliki berbagai fungsi yang tinggi bagi suatu kota seperti ekologis, ekonomi,  arsitektur  dan  sosial atau budaya. Ketersediaan RTH berperan dalam memasok O2, menyaring kotoran (debu jalanan, abu pabrik/rumah tangga), mereduksi beberapa zat pencemar udara seperti gas rumah kaca, membantu penyerapan air hujan, menjaga kesuburan tanah, membantu menghindari kebisingan, menciptakan kesejukan oleh rimbunnya dedaunan serta suasana kota yang lebih indah dan nyaman. 

        Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008, disyaratkan luas RTH minimal 30% dari luas wilayah  (negara, provinsi, kota/kabupaten). Namun pada kenyataannya, hanya kurang lebih 10% hingga 20% dari keseluruhan luas perkotaan yang dapat dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau. Dapat kita lihat, bahwa daerah perkotaan telah menjadi daerah komersil  yang  setiap  jengkalnya dimanfaatkan  untuk  usaha  dan pembangunan. Alhasil, kota kerap tumbuh sebagai ruang tak bertata nilai, kering, dan kaku. Nilai-nilai budaya terpinggirkan. Kota perlahan tak lagi sanggup menampung manusia. Kota menjadi bergelimang kesengsaraan, tidak terkendali, miskin fasilitas dan utilitas kota, yang mengakibatkan kesengsaraan yang berkepanjangan bagi warganya. 

      Untuk mencegah hal tersebut agar tidak terjadi, proses pembangunan kota harus berorientasi pada tindakan yang berlandaskan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Jika pembangunan tidak berlandaskan pada hal tersebut, maka pemerintah akan memberikan sanksi yang tegas. Sanksinya bukan hanya dikenakan kepada pelaku pembangunan, tetapi juga pemberi izin. Selain itu, diperlukan adanya bukti izin pembangunan  yang sah mulai  dari  tata ruang nasional, pulau, provinsi, kabupaten, sampai kota dan desa.

     Seorang perencana kota dituntut memiliki wawasan holistik, memahami arti pentingnya keanekaragaman hayati, konservasi warisan alam, warisan budaya dan dapat mengupayakan keterpaduan antara tata guna lahan dengan jaringan transportasi dan infrastruktur perkotaan. Disisi lain, pembangunan infrastruktur jangan  hanya  berpusat pada wilayah perkotaan namun di wilayah kecil lainnya, agar pembangunan di Indonesia merata sehingga angka migrasi dapat berkurang.

Upaya untuk mengatasi kepadatan penduduk
  1. Membangun sarana dan prasarana pendidikan yang jumlahnya sebanding dengan jumlah penduduk usia sekolah.
  2. Meningkatkan jumlah fasilitas sosial dan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dan poliklinik).
  3. Pembangunan gedung-gedung sekolah baru beserta fasilitasnya, penyelenggaraan sekolah terbuka, dan penyelenggaran beasiswa bagi siswa tak mampu dan berprestasi.
  4. Pembangunan perumahan-perumahan murah baik rumah sederhana, maupun rumah sangat sederhana, untuk mengatasi ketersediaan perumahaan yang kurang.
  5. Penyelenggaraan hutan lindung, reboisasi, penghijauan serta melarang pertanian sistem ladang berpindah untuk mengatasi kerusakan hutan.
  6. Pembangunan industri-industri baru, pusat-pusat perdagangan dan pariwisata sebagai upaya mengatasi kurangnya kesempatan kerja.
2. PRANATA SOSIAL

Menurut Dr. Koentjaraningrat, pranata sosial memiliki 8 macam tujuan, yaitu :
  1. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan, yaitu yang disebut kinship atau domestic institutions. Contohnya perkawinan, tolong-menolong antar kerabat, pengasuhan anak, sopan santun antar kerabat, sistem istilah kekerabatan, poligami, percerian, dan sebagainya.
  2. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan mendistribusikan harta benda atau economic institutions. Contohnya pertanian, perikanan, koperasi dan macam-macam perdagangan.
  3. Pranata yang bertujan memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pendidikan manusia atau educational institutions. Contohnya pendidikan masyrakat, TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, tempat-tempat kursus, dan tempat-tempat pelatihan-pelatihannya.
  4. Pranata yang betujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia atau scientific institutions. Contohnya sebagai macam metode ilmiah dan pendidikan ilmiah lainnya.
  5. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk menyatakan rasa keindahan dan rekreasi atau aesthetic and recreational institutions. Contohnya seni suara, seni rupa, seni gerak, seni lukis, dan seni sastra.
  6. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau religus institutions. Contohnya doa.
  7. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara atau political institutions. Contohnya pemerintahan, demokrasi, kehakiman kepoisian, dan sebagainya.
  8. Pranata-pranata yang mengurus kebutuhan jasmani manusia atau cosmetic institutions. Contohnya pemeliharaan kecantikan, kesehatan, dan kedokteran.


Share:

Peran Penting Arsitek dalam Permasalahan Sosial di Indonesia



Permasalahan Sosial menurut ahli Lesli,yaitu suatu kondisi yang berpengaruh terhadap kehidupan sebagai besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dan karenanya perlu tindakan untuk mengatasi atau memperbaikinya. Sedangkan menurut saya pribadi, permasalahan sosial adalah,hal-hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk interaksi baik terhadap benda hidup atau benda mati secara individu atau individu terhadap individu lainnya atau individu terhadap kelompok atau kelompok terhadap kelompok.
Permasalahan sosial di bidang arsitektur sering kita jumpai sehari-hari. Arsitektur yang berarti seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasi diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan,atau jika pengertian itu dibuat secara lebih singkat arsitektur berarti Ilmu merancang bangunan dan seni. Tetapi pada nyatanya, infrastruktur-infrastruktur yang sering kita jumpai tidak memiliki konsep arsitektur yang baik,entah memang bukan arsitek yang membangun infrastruktur tersebut atau bahkan tangan-tangan jahil yang sudah merusak karya-karya sang arsitek? Padahal infrastruktur yang terencana dan tertata rapih akan mempengaruhi psikologis masyarakat hingga ekonomi negara.
Misalnya di Jakarta, kurangnya RTH (Ruang Terbuka Hijau) bukan hal yang aneh. Seperti yang dilansir kompas (http://properti.kompas.com/read/2016/09/21/230000421/jakarta.masuk.daftar.kota.tidak.berkualitas)

Selain itu, ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta saat ini masih jauh dari standar yang seharusnya. Berdasarkan Undang Undang Nomor 26 tahun 2007, setiap daerah di Indonesia diwajibkan memiliki RTH sebesar 30 persen dari luas kota dengan rincian RTH privat 10 persen dan RTH publik 20 persen. Sementara itu, Jakarta, diakui oleh Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin Mungkasa, baru memiliki RTH sekitar 9-10 persen.Menurut konsultan RTH dan arsitek lansekap Nirwono Joga, sebanyak 80 persen kawasan, permukiman, dan komersial di wilayah Jakarta dianggap "mengangkangi" RTH.

Pemandangan Taman Menteng, Jakarta Pusat, dari udara, Jumat (6/2/2015). Ruang terbuka hijau menjadi salah satu penyeimbang dan oasis di tengah belantara gedung kota. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES



Peran arsitek dalam pembangunan-pembangunan gedung dan permukiman di daerah Jakarta harus diperhatikan. Sang Arsitek boleh saja membangun permukiman,tetapi harus ditunjang dengan fasilitas seperti RTH. Yang menyediakan lahan hijau bagi penghuninya,sehingga lahan yang dipakai untuk pembangunan permukiman baru tersebut dapat memberikan dampak baik pada lingkungan. Tidak hanya itu, pembangunan RTH dengan konsep unik dan tertata seperti taman-taman kota di Bandung, akan menarik antusias masyarakat untuk mengunjungi taman tersebut. Dari berduduk-duduk santai dibawah pohon yang memberi kesegaran dan kesehatan pernapasan pada masyarakat hingga berolahraga. Itulah tugas arsitektur lanskap dalam membangun taman-taman kota yang unik dan tertata.

Taman Dewi Sartika, Bandung


Kedua,pada terminal bus. Bagaimana pertama kali jika kita mengingat terminal bus? Kotor, kumuh, menkutkan. Tetapi mengapa pada stasiun kereta api atau bandara bisa selalu rapih? Seperti dilansir dari berita satu (http://sp.beritasatu.com/home/dipenuhi-tukang-ojek-minim-fasilitas-kondisi-terminal-bus-tanjung-priok-semrawut/82524)

"Kalau diterminal lainnya itu pasti di setiap lajur bus ada papan penunjuk arah tujuan kota, tapi kalau di sini malahan tidak ada," ujar Melani
"Tempat duduknya sempit, udah gitu lokasi menunggu ini tidak strategis untuk memantau kedatangan bis," keluhnya. Ia berharap agar kawasan ruang tunggu di terminal tersebut bebas dari asap rokok, pasalnya banyak ibu-ibu yang menyusui maupun membawa anaknya yang masih balita. 


Terminal Tanjung Priuk

Padahal terminal bus jika ditata layaknya stasiun kereta api atau bandara,akan menarik masyarakat agar menggunakan transportasi umum seperti bus dan angkutan umum. Sehingga dapat mengurangi kemacetan di kota-kota besar. Sekaligus dapat mengurangi polusi sehingga angka kesehatan masyarakat di Indonesia dapat meningkat.
Dengan menggunakan konsep programatik/pragmatic, yaitu konsep yang dikembangkan berkisarpersoalan2 yg pragmatis yang diidentifikasidari program sebuah bangunan. Konsep inimerupakan tanggapan langsung daripemecahan masalah, Arsitek dapat merancang dan menyusun infrastruktur-infrakstruktur dengan baik sesuai dengan daerah dan kebutuhan infrastruktur. Misalnya, membangun taman kota di Jakarta. Dibutuhkan rancangan-rancangan modern dan udara yang sejuk untuk menarik antusiasme warga Jakarta pergi ke taman kota, karena karakter orang-orang Jakarta yang menyukai kekinian dan udara sejuk,dapat dilihat dari kegemaran warga Jakarta untuk pergi ke mall.
Tidak hanya infrastruktur seperti taman kota dan terminal. Masih banyak infrastrutur-infrastruktur di Indonesia yang masih kurang fasilitas dan kerapihannya. Padahal kelengkapan fasilitas,desain-desain yang unik,kerapihan dan kenyamanan infrastruktur berpengaruh pada wisatawan yang berlibur di Indonesia. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara. Sangat disayangkan hal ini belum bisa terealisasikan,padahal ada ribuan lulusan arsitektur setiap tahunnya. Bahkan tidak sedikit yang tidak bekerja pada bidangnya. Inilah tugas kita sebagai Mahasiswa Arsitektur untuk membawa masa depan Indonesia yang lebih baik lagi.






Sumber:

http://www.misterbandung.com/2016/01/wajah-baru-taman-dewi-sartika-bandung.html


Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive