Minggu, 30 April 2017

PENDERITAAN MASA KECIL

Nama : Soeltan Ryan Ramadhan
Kelas : 1TB03
Npm : 27316120

PENDERITAAN MASA KECIL

  Masa kanak kanak saya tidak begitu menyenangkan seperti anak anak kecil lainnya yang penuh warna dan menyenangkan, saat saya kecil dulu saya sering sekali sakit sakitan bahkan sampai saat saya sudah dewasa seperti sekarang masih saya rasakan.
  Saat kecil dulu saya sangat merasa menderita hampir setiap hari hidung saya mengeluarkan darah,banyak makanan kesukaan saya tidak boleh saya makan oleh seorang berjas putih yang dipanggil Dokter itu.
  Saat kecil saya iri dengan teman teman yang sehat sehat itu, terkadang saya berpikir “kenapa saya begini? Salah saya apa”, sampai sampai setiap malam saya tidak bisa tidur karena hanya sesak yang saya rasakan dan hanya menangis yang saya bisa lakukan, saya beruntung mempunyai orang tua yang sigap pada anak anaknya jadi saya cepat diurus oleh mereka.
  Dulu saya pernah merasa senang karena sakit sakitan,kenapa? Karena dulu saya berpikir dengan ini saya bisa jadikan alasan pada orang tua saya untuk tidak bersekolah alias bolos, karena saat sd dulu saya sering sesak dikelas sehingga diizinkan pulang lebih dulu.
  Sekarang saya pikir bodohnya saya dulu menyenangi apa yang seharusnya menjadi penderitaan saya sendiri, saat dibangku sekolah dasar dulu saya seorang yang tidak banyak bergerak karena tidak boleh kecapean dan ini menyiksa karena saya jadi sulit ikut pelajaran olahraga dan tidak boleh bermain, saat smp juga saya rasakan tidak boleh masuk eskul yang terlalu berat, tetapi saya suka memaksakan kehendak saya, saya menjadi anak yang bandel disekitaran kelas 2 SMP, saya tidak patuh jika disuruh orang tua saya minum obat karena saya lelah dengan itu,rasa yang tidak enak membuat saya ogah untuk menelan benda itu.
  Anehnya saat saya mulai bolong bolong minum obat saya merasa mulai bertenaga alias lebih sehat dari biasanya,saya jarang merasakan lelah yang berlebihan lagi, mungkin hanya sugesti yang membuat saya merasa lebih sehat.
  Saat SMA saya sudah jarang sekali minum benda itu,tapi malah menimbulkan penyakit yang lain yang membuat saya kesal dengan hidup saya ini, saat saya kira saya sudah sembuh malah ada saja yang lain datang, tetapi alhamdullilah tidak terlalu serius hanya saja ini membuat tekanan sosial yang membuat saya menderita dan setres dengan kehidupan saya,hidup saya merasa seperti dikekang oleh pantangan pantangan yang dokter buat apalagi soal larangan makan makanan kesukaan saya, dan saya sering sekali melanggar pantangan itu, saya kadang merasa menderita “kenapa saya begini?” sering sekali saya berpikir seperti itu, penderitaan masa kecil saya mungkin skalanya 80 karena hampir setiap hari saya merasakan derita tidak bisa tidur,sesak nafas,mimisan,tidak boleh main,selalu diikuti oleh ART saya kemana mana tetapi saya merasa bersyukur kepada Allah SWT atas semua yang telah diberikan kepada saya baik itu kesenangan maupun penderitaan,karena tidak mungkin seseorang hanya merasakan salah satu dari itu,dibalik kesenangan pasti ada penderitaan begitupun sebaliknya,sekian dan terima kasih wassalam.
Share:

Sabtu, 29 April 2017

Derita Minoritas Muslim Disejumlah Negara

TUGAS 6 ILMU BUDAYA DASAR
DYAH ALIA FAHRANA FILDZAHANI
1TB03
22316228
DERITA MINORITAS MUSLIM DISEJUMLAH NEGARA


Kaum Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya non-Muslim berteriak. Mereka menerima perlakuan diskriminatif yang akut. Tidak hanya ditekan secara politik dan ekonomi, mereka mengalami penindasan secara fisik, bahkan menghadapi genosida secara sistematis. 

Anehnya, teriakan mereka tidak mendapat perhatian yang semestinya dari dunia. Penindasan dan pembantaian yang mereka alami seolah menjadi angin lalu. Negeri-negeri Muslim pun tak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka. Kaum minoritas Muslim ini harus berjuang sendiri untuk melangsungkan hidupnya di bawah kungkungan tirani mayoritas non-Muslim.

Inilah yang terjadi di beberapa negara di kawasan Asia. Seperti yang dialami oleh kaum Muslim Rohingya di Myanmar. Nasib tragis dialami minoritas Rohingya yang tinggal di utara Arakan, tepatnya di negara bagian Rakhine, Myanmar. Sebuah catatan menunjukkan, lebih dari 6.000 kaum Muslim meninggal dunia akibat kekejaman mayoritas Budha yang didukung junta militer Myanmar.
Akibat kekejaman itu ribuan Muslim Rohingya terpaksa mengungsi ke negara yang terdekat, yakni Bangladesh dan Malaysia, bahkan sampai di Aceh. Mereka yang tidak bisa meninggalkan negara itu harus menerima perlakuan kejam tentara.

Secara statistik, Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Menurut catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Myanmar pada Mei tahun 1997, jumlah ini menurun drastis. Sebelumnya jumlah kaum Muslim di sana sekitar 7 juta jiwa. Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Myanmar berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam.

Tindakan diskriminatif itu terus berlangsung secara sistematis. Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Myanmar meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan sehingga memicu eksodus besar-besaran kaum Rohingya ke Bangladesh.
Junta militer Myanmar yang dikenal sebagai State Law and Order Restoration Council (SLORC) selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah-belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi. Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Ini mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.

Pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.

Sejumlah masjid dihancurkan, al-Quran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Berdasarkan catatan Myanmar Digest, pada 2005, muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan), tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.

Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam. Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Budha pada kolom agama mereka.

Sejak 1982, Undang-undang Kewarganegaraan Myanmar tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Ini pula yang memicu Muslim Rohingya meninggalkan negara itu.

Kalaupun tak eksodus, mereka seperti terpenjara di tanah kelahiran mereka. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun, sekalipun ke kota tetangga di negara tersebut. Junta militer selalu meminta surat resmi. Akibat kekejian junta militer, kini lebih dari 200 ribu orang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Mereka hidup seadanya, sekadar menghindari kekejian di negaranya.

Menurut saya tingkat penderitaan ini adalah 95 dan merupakan penderitaan sangat berat. Karena bisa dibayangkan rasanya diperlakuan secara diskriminatif dan brutal di negara kelahiran sendiri hanya karena perbedaan agama. Tidak ada organisasi internasional yang peduli. Tiba-tiba semuanya diam membisu, tidak ada seorang penguasa negeri Muslim pun yang berdekatan—termasuk penguasa negeri ini—yang merespon penderitaan minoritas Muslim tersebut secara memadai.


Share:

Penderitaan Seorang Remaja Yang Bermasalah

Penderitaan Seorang Remaja Yang Bermasalah

               REMAJA/ABG adalah manusia yang masih sangat-sangat membutuhkan bimbingan atau manusia yang masih belum menemukan jati diri yang sebenarnya. Tulisan saya kali ini akan membahas tentang beberapa kenakalan-kenakalan remaja yang dapat menyebabkan penderitaan terhadap remaja itu sendiri yang biasa/sering terjadi pada setiap remaja khususnya di Indonesia.

1.      SEKS BEBAS
Seks bebas merupakan kenakalan remaja yang sangat sering terjadi saat ini, kenakalan ini sangatlah merugikan bagi banyak pihak terutama kepada pihak perempuan karena perempuan yang melakukan seks bebas memiliki kerugian yang sangat banyak, kenakalan remaja yang satu ini memiliki tingkat penderitaan yang sangat besar.

2.      NARKOBA

Narkoba adalah hal yang sangat-sangat dilarang di hamper setiap negara di dunia ini, sebenranya benda ini tidak di larang asalkan dalam penggunaan yang benar contohnya untuk kegiatan medis, namun tidak sedikit dari remaja khususnya di Indonesia yang salah mengartikan dan bahkan salah menggunakan narkoba ini, sehingga banyak sekali remaja yang terenggut nyawanya akibat kesalah pahaman ini, namun dengan begitu tidak sedikit pula yang tidak peduli dengan dampak dari penyalah gunaan narkoba ini, ini lah senakalan remaja yang memiliki tingkat penderitaan yang paling tinggi bagi setiap remaja yang bermasalah.

3.      TAWURAN

Tawuran memiliki tingkat penderitaan yang 1 level di bawah penyalahan narkoba, twuran biasanya dilakukan oleh remaja-remaja labil yang belum mempunyai jati diri yang sebenarnya, maka dari itu merka (remaja yang bermasalah) melakukan aksi tawuran untuk menemukan jati diri yang sebenarnya dengan kata lain mereka ingin menunjukan kalua mereka adalah orang yang hebat dan berani, namun semua itu malah hanya akan membuat mereka mejadi menderita apa bila mereka terkena apes yang menyebabkan salah satu dari anggota tubuh mereka menjadi cacat atau bahkan dapat merenggang nyawa.

               Itulah contoh dari kenakalan remaja yang ada di Indonesia saat ini yang dapat menyebabkan penderitaan terhadap para remaja yang bermasalah dalam pergaulan.


               *tingkat penderitaan dari kenakalan remaja apa bila semua jenis kenakalan remaja itu di gabung adalah penseritaan yang sangat serius*
Share:

PENDERITAAN ANAK JALANAN


Cerita anak jalanan seolah-olah tidak ada habisnya. Derita dan penyiksaan yang mereka alami, kerap menghantui dan mengintai setiap saat. Mereka harus berjuang di tengah kota yang kejam untuk mendapatkan sejumlah uang agar bertahan hidup. Jual rokok, membersihkan bus umum, penjaja koran, atau apapun kerjaannya. Barangkali itu yang dapat mereka lakukan, dan mereka dapat kita jumpai di sudut terminal, jalanan atau tiap persimpangan kota besar. Diantara mereka ada yang memang karena faktor ekonomi, putus sekolah atau persoalan rumah tangga serta kondisi orang tua. Tak sedikit dari mereka yang bertahan, karena faktor tersebut yang menyelimutinya. Walau tak sedikit juga mereka yang berada di komunitas tersebut karena faktor kenakalan atau kurang mendapat perhatian keluarga ataupun lingkungan. Apapun keadaannya, mereka adalah komunitas anak jalanan yang patut untuk direnungkan eksistensi dan kelayakannya. Misalnya Herman (16), seorang pengamen yang sering mangkal di lampu merah Jalan Gunung Batu, Kota Cimahi, Jawa Barat. Dirinya menuturkan tidak memiliki biaya untuk meneruskan sekolah, sementara ayahnya sudah meninggal dan ia harus mencari nafkah bagi ibu dan ketiga adiknya, ditambah kondisi sang ibu yang sering sakit-sakitan. "Sebenarnya saya ingin sekolah dan belajar seperti anak lainnya. Tetapi, kondisi ekonomi keluarga yang memaksa saya harus turun ke jalan," bebernya. Berdasarkan pantauan, penggusuran terhadap anak jalanan kerap terjadi, entah karena alasan kenyaman dan keindahan sebuah daerah maupun faktor lain. Masalah yang ditimbulkan terkadang tak sedikit serta menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Menurut Hery Setiawan, Kepala Operasi Satpol PP, dirinya akan menangkap para anak jalanan (anjal), jika mereka sudah mengamen di tempat yang dilarang dan mengganggu ketertiban umum. Bila para anjal hanya berkumpul, tidak akan ditindak. "Kita menangkap mereka jika mereka memang sedang mengamen dan mengganggu ketertiban umum, tentunya juga ditempat yang menjadi larangan bagi para pengamen, tukang becak, dan delman, seperti di Jalan Gandawijaya, Amir Machmud, Demang Hardjakusuma dan Jalan Djualeha Karmita hingga ke Alun-alun Kota Cimahi," tegasnya. Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang negatif, pada dasarnya dapat diartikan sebagai anak-anak yang bekerja di jalanan. Bukan sekedar bekerja di sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, baik secara jasmani, rohani dan intelektual. Hal ini disebabkan antara lain karena jam kerja panjang, beban pekerjaan, atau lingkungan kerja. Menurut Soerjono Soekanto, pakar sosial Indonesia dalam bukunya Pengantar Sosiologi menyebutkan, fenomena munculnya anak jalanan ini bukanlah karena adanya transformasi sistem sosial ekonomi dan masyarakat pertanian kemasyarakat praindustri atau karena proses industrialisasi. Namun, adanya transformasi sosial ekonomi masyarakat industrialisasi menuju masyarakat yang kapitalistik. Kabag Humas Dinas Sosial Jawa Barat, Saefulloh, berpendapat bahwa masalah kemiskinan dianggap sebagai penyebab utama timbulnya anak jalanan ini. Hal ini dapat ditemukan dari latar belakang geografis, sosial ekonomi anak yang memang datang dari daerah-daerah dan keluarga miskin. "Banyak teori yang menjelaskan kontradiksi antara pembangunan dan keadilan pemerataan, desa dan kota.  Namun demikian, kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor penyebab timbulnya masalah anak jalanan," ucapnya. Kasus penggusuran, pelarangan, penangkapan, pemukulan yang menimpa anak-anak jalanan juga menjadi bukti bagaimana pembangunan memenangkan struktur formal yang bermodal dan mampu membayar pajak kepada negara. Sehingga public space of economy dikuasai dan dimonopoli oleh struktur formal serta formalisasi juga ditampilkan melalui praktek-praktek yang sama dengan legitimasi nilai bahwa pembangunan hanya akan berjalan akibat kontribusi sektor formal. Misalnya kasus penembakan yang terjadi pada Firman di daerah Soekarno-Hatta, Bandung, beberapa waktu lalu oleh sekelompok orang tak dikenal. Asumsi dan dugaan bermunculan, karena mereka sering mengambil wilayah mengamen orang lain. Hal tersebut terjadi karena para anak jalanan tersebut lemah dan tak mampu untuk melawan. Sementara sektor informal, dimana anak-anak jalanan tumbuh dan berkembang, sekali lagi dianggap sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan. Potret pembangunan yang diskriminatif dan tidak berpihak pada masyarakat menengah, ikut berperan serta memunculkan hal ini. Ada banyak perangkat nilai, norma ataupun hukum yang selalu digunakan untuk mencari pembenaran terhadap tindakan itu. Dari urutan di atas dapat dilihat betapa kompleksnya masalah anak jalanan ini. Sehingga penanggulan anak jalanan ini tidak hanya dapat dilakukan secara efektif bila semua pihak tidak ikut melakukannya seperti pemerintah, LSM, media, individu dan organisasi keagamaan. Penanggulangan ini dapat dilakukan dengan melalui proram aksi langsung. Program ini biasanya ditujukan kepada kelompok sasarannya yaitu para anak jalanan, misalnya saja memberikan pendidikan non-formal, peningkatan pendapatan keluarga, pelayanan kesehatan, kemudian program peningkatan kesadaran masyarakat. Menurut Soejono, masalah anak jalanan sangat kompleks dan menjadi masalah bersama. Masalah ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja, melainkan harus ditangani bersama-sama oleh berbagai pihak yang peduli. Dengan demikian kerja sama antara berbagai pihak mutlak diperlukan.
Khusus mengenai aspek hukum yang melindungi anak jalanan yang terpaksa bekerja juga merupakan komponen yang perlu diperhatikan karena masih lemahnya peraturan dan undang-undang yang mengatur masalah ini.

RANTING : SEDANG/60
*Tidak semua anak jalanan mengalami penderitaan yang berat, Karna mereka masih muda dan masih bisa mencari kerja yang baik tidak harus menjadi pengamen/pengemis.Untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain. "lebih baik tangan di atas, dari pada tangan dibawah"
Share:

Satu Menderita Semua Menderita

Related image
Tanah yang kita injak saat ini merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita pada masa lalu. Tak hanya dalam sekejap negara kita ini dapat di kuasai, terdapat banyak usaha, perjuangan, penderitaan dan pengorbanan yang telah di tempuh untuk mendapatkan apa yang sekarang dapat kita semua nikmati.
Dari Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris hingga Jepang ingin memiliki hak atas negara ini, keindahan dan kekayaan negara inilah yang membawa mereka untuk merampas negara ini dari kita.
Segala hal di lakukan negara negara tersebut untuk menguasai negara ini, dari yang mendidik warga pribumi agar sedikit lebih teredukasi sampai menyiksa warga pribumi agar dapat merampas apa yang dimiliki warga pribumi,
Warga pribumi pernah dipaksa untuk memberikan seluruh hasi pertanian yang merupakan sumber penghasilan warga pribumi terhadap Jepang, sehingga menyebabkan kelaparan terjadi dimana mana dan berujung fatal terhadap warga pribumi.
Warga pribumi pernh dipaksa untuk bekerja (romusha) tanpa adanya sedikitpun upah yang di dapat untuk hasil jerih payahnya, kelaparan dan eksploitasi seperti ini yang dirasakan warga pribumi pada saat masa masa romusha berlangsung.
Menanam suatu jenis tanaman tertentu dan memberikan seluruh hasil dari betani tersebut juga sering dirasakan oleh warga pribumi, menyebabkan banyaknya warga pribumi yang kekurangan bahan tertentu dan kerja secara terus menerus.
Pajak yang tinggi, penghasilan yang sedikit, sistem pemaksaan dari negara negara yang berkuasa, eksploitasi dan banyak lagi penderitaan harus di lalui oleh negara ini. Tidak hanya menyakiti fisik dari penduduk nya, tetapi menghancurkan hati dan batin semua pihak.
Banyak korban berjatuhan yang seharusnya dapat dihindari, tak jarang korban tersebur merupakan anak anak dan perempuan. Keluarga harus ikhlas dengan anggota keluarganya yang mati karena penyiksaan ini.
Walaupun di serang dengan banyak penyiksaan dan kesulitan, warga negara ini tetap bangkit dan melawan dengan sekuat tenaga agar apa yang seharusnya menjadi hak mereka tidak di salah gunakan oleh negara lain dan apa yang seharusnya merupakan bagian dari negara ini tidak dijadikan suatu pemuas kebutuhan untuk negara lain yang hanya datang untuk kekayaan negara ini dan pergi menyiksakan penderitaan.
Dengan banyaknya serangan bertubi tubi, penderitaan penderitaan yang di alami, negara ini tetap bangkit dan kuat dalam menghadapi segala cobaan yang ada sampai sekarang semua yang telah di korbankan oleh orang orang pada dulunya dapat dinikmati dan disyukuri oleh orang orang pada saat ini.
Tingkat penderitaan ini menurut saya adalah 90, karena penderitaan ini dirasakan bukan hanya oleh satu dua orang, melainkan satu negara merasakan apa yang di rasakan oleh satu sama lain, penderitaaan ini juga bukan hanya menyakiti fisik para warganya, namun menyakiti jiwa dari seluruh warga yang mengalami penderitaan ini.










Share:

PENYESALAN YANG TAK BERUJUNG KARENA TIDAK BERSEKOLAH DENGAN BAIK

NAMA                        : FAIZAL TANJUNG
KELAS                       : 1TB03
NPM                           : 22316541

PENYESALAN YANG TAK BERUJUNG KARENA TIDAK BERSEKOLAH DENGAN BAIK


Masa-masa SMP dan SMA jadi waktu yang paling menyenangkan bagi kebanyakan anak muda Indonesia. Bagaimana tidak, di masa-masa sekolah itu kita sudah cukup tahu caranya bersenang-senang tapi juga belum dibebani terlalu banyak tanggung jawab.
Usia remaja sepanjang SMP dan SMA jadi momentum pembentukan jati diri. Kamu yang sekarang adalah hasil dari apa yang kamu lakukan saat remaja. Ada nggak sih hal yang kamu harap pernah kamu lakukan atau tidak kamu lakukan semasa ini? Apakah hal-hal dibawah ini salah satunya
Sekolah adalah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa/murid di bawah pengawasan guru.
Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa kemajuan melalui serangkaian sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini bervariasi menurut negara (dibahas pada bagian Daerah di bawah), tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.
Selain sekolah-sekolah inti, siswa di negara tertentu juga mungkin memiliki akses dan mengikuti sekolah-sekolah baik sebelum dan sesudah pendidikan dasar dan menengah. TK atau pra-sekolah menyediakan sekolah beberapa anak-anak yang sangat muda (biasanya umur 3-5 tahun). Universitas, sekolah kejuruan, perguruan tinggi atau seminari mungkin tersedia setelah sekolah menengah. Sebuah sekolah mungkin juga didedikasikan untuk satu bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tariAlternatif sekolah dapat menyediakan kurikulum dan metode non-tradisional.
Ada juga sekolah non-pemerintah, yang disebut sekolah swasta. Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengankebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka; keagamaan, seperti sekolah Islam, sekolah Kristen, hawzas, yeshivas dan lain-lain, atau sekolah yang memiliki standar pendidikan yang lebih tinggi atau berusaha untuk mengembangkan prestasi pribadi lainnya. Sekolah untuk orang dewasa meliputi lembaga-lembaga pelatihan perusahaan dan pendidikan dan pelatihan militer.
Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki artiwaktu luang atau waktu senggang, di mana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi dalam kegiatan scolaanak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiridunianya melalui berbagai pelajaran di atas.
Saat ini, kata sekolah berubah arti menjadi: merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.Sekolah dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah. Kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah.Jumlah wakil kepala sekolah di setiap sekolah berbeda, tergantung dengan kebutuhannya. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memanfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengan fasilitas yang lain. Ketersediaan sarana dalam suatu sekolah mempunyai peran penting dalam terlaksananya proses pendidikan.
Masa-masa SMP dan SMA jadi waktu yang paling menyenangkan bagi kebanyakan anak muda Indonesia. Bagaimana tidak, di masa-masa sekolah itu kita sudah cukup tahu caranya bersenang-senang tapi juga belum dibebani terlalu banyak tanggung jawab.
Usia remaja sepanjang SMP dan SMA jadi momentum pembentukan jati diri. Kamu yang sekarang adalah hasil dari apa yang kamu lakukan saat remaja
Ada beberapa faktor yang membuat kamu gagal dalam bersekolah dan mencapai impianmu

1. Gagal Masuk Jurusan Impian Karena Belajar Pakai Sistem Kebut Semalam
Hatimu patah saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru keluar. Impianmu untuk bisa kuliah di jurusan dan universitas idaman pupus. Kamu tidak diterima di program studi yang paling kamu idamkan selama ini.
Tidak hanya sedih dan kecewa, tapi kamu juga terus menyalahkan diri sendiri. Sebenarnya kamu yakin kalau kamu mampu, kamu hanya kurang bisa memanfaatkan waktumu dengan baik. Dari 3 tahun sekolah kamu hanya belajar sungguh-sungguh di satu tahun terakhir. Sisanya? Buat main-main, bolos dan pacaran.
Jika saja 3 tahun sekolahmu dimanfaatkan dengan baik, jurusan idaman itu pasti bisa tergenggam tangan. Yeah, seandainya.

2. Tidak Memanfaatkan Waktu Untuk Menambah Kemampuan
Kalau kamu tengok lagi sekarang, waktu remajamu seakan menguap begitu saja. Entah untuk apa. 6 tahun masa sekolah tidak menghasilkan apapun untukmu. Kamu nggak jadi jago olahraga, tidak menambah keterampilanmu berbahasa, kamu juga bukan anak yang pintar secara akademis.
Terus, 6 tahun itu kamu manfaatkan buat apa?
Kebanyakan dari kita memang menyia-nyiakan masa remaja dengan kegiatan dan kecemasan yang nggak penting. Waktu nongkrong-nongkrong gak jelas sepulang sekolah itu seharusnya bisa dipakai untuk ikut les bahasa asing.
Energi untuk galau karena mikirin cewek yang kamu taksir habis-habisan selama 3 tahun itu harusnya bisa dimanfaatkan untuk jadi panitia pensi. Masa sekolah adalah waktu dimana kamu paling bebas bereksplorasi. Tapi apa yang kamu dapatkan dari masa remajamu hari ini?

3. Terbiasa Menyontek
Meniru jawaban teman, menyembunyikan buku di laci, SMS-an pakai kode sampai mengirimkan sandi jawaban lewat gerakan tangan jadi hal yang akrab banget sepanjang masa remajamu. Menyontek adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalananmu semasa sekolah. Kalau gak nyontek, gak afdol deh pokoknya.
Tanpa kamu sadari kebiasaan satu ini membuatmu jadi orang yang menggampangkan segala sesuatu. Kamu jadi lupa bahwa hasil yang baik selalu didapat dari kerja keras, bukan lewat jalan pintas yang mudah.
Saat kamu mulai kuliah dan tugas-tugasnya menuntutmu menggunakan kemampuan analisis baru deh kamu sadar bahwa kebiasaan menyontek hanya menumpulkan otakmu.

4. Tidak Mendengarkan Kata Orang Tua
Orang tua sempat jadi musuh terbesarmu. Apapun yang mereka katakan dan sarankan adalah hal yang haram hukumnya untuk dilakukan. Kamu akan selalu mengambil sikap berseberangan dengan mereka. Terlepas dari benar atau tidaknya apa yang mereka katakan, kamu hanya tidak mau menurutinya.
Kalau kamu tilik lagi ke belakang, sekarang semua terlihat konyol. Bagaimana bisa kamu menolak saat disuruh ikut les Bahasa Belanda, hanya karena kamu tidak mau terlihat menurut? Kenapa coba, kamu gak mendengarkan mereka saat dilarang merokok?
Padahal sekarang kamu suka naik gunung dan nafasmu jadi pendek karena kebiasaan itu.
Kamu akhirnya sadar kalau apa yang orang tua katakan pasti ada benarnya. Betapa kamu sempat jadi pribadi yang keras kepala dan egois dengan tidak mengindahkan perkataan mereka. Kamu juga jadi sadar kalau orang tuamu selama ini sabar sekali menghadapi anaknya yang kepala batu.

Untuk anda yang masih muda masih ada waktu untuk berubah sebelum umur menjadi tua dan membuat terus menyesal dan menmbuatmu menderita tanpa henti.

Sumber :

Share:

Penderitaan Menjalani Sebuah Hubungan Spesial di Kalangan Remaja

Remaja merupakan manusia yang labil yang butuh bimbingan. Pada saat remaja muncul ke ‘sok tahu’-an yang terkadangmenimbulkan dampak negative. Kali ini akan ditekankan pada objek ‘Hubungan spesial’ yang mana biasanya disebut berpacaran atau apapun yang sifatnya 1 laki-laki dan 1 perempuan yang saling mencintai. Maka dari itu judul ini saya tulis ‘hubungan special’. Tulisan ini dibuat akibat pengalaman sendiri dan juga curahan hati orang- orang disekitar.
Cinta terkadang gila, tetapi memang kata orang merasakan cinta itu indah, namun banyak penderitaan-penderitaan yang dialami yang tidak masuk akal namun jika difikir dengan akal seharusnya tidak seharusnya terjadi, tetapi sebenarnya  jika dirasakan itu adalah sesuatu yang wajar.
Awalnya memang saat menjalin hubungan sangat bahagia karena sama-sama menyukai, jika tidak sama-sama menyukai namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sedih bukan? Lalu muncul tingkah-tingkah sebagai wujud ‘protective’ seperti menanyakan makan sampai menanyakan ‘berbincang dengan siapa saja di kelas?’ Awalnya memang senang ditanya ‘sudah makan belum?’ tapi lama-lama mengapa hal sepele dipertanyakan. Munculah kecemburuan dan iri hati. Melarang bermain dengan lawan jenis bahkan melarang sekelas dengan lawan jenis. Hal- hal yang seperti itu yang terkadang dalam suatu hubungan mengalami penderitaan, kurang komunikasi dengan teman lain, hati selalu gundah gulana, pikiran selalu negative ataupun larangan-larangan menyukai kegiatan positif.
Hati yang selalu gundah karena kurangnya rasa percaya terhadap pasangannya. Terkadang muncul lah kalimat-kalimat tuduhan yang terkadang jika belum dijawab “iya” si pasangan yang menuduh akan kesal, bete ataupun marah terhadap pasangannya, lalu si pasangan yang tertuduh merasa gundah karena sejatinya mereka jujur bahwa mereka tidak seperti apa yang dikatakan pasangannya tersebut. Setelah muncul konflik muncul lah hari-hari yang membuang waktu,yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan sesuatu yang lebih /baik.
Larangan biasanya merupakan hal negative yang harus dihindarkan, namun terkadangan jika kita sedang menjalin hubungan special hal positif-pun bisa dilarang misalnya bermain. Menurut saya,sebagai pasangan yang baik sebaiknya memberi ingatan sudah cukup karena sudah sama-sama tau bahwa mana yang baik mana yang buruk bukan malah melarang lalu jika larangannya dilakukan maka akan marah. Tidak. Itu hanya membuat beban.
Begitulah cinta, berbeda orangnya,berbeda pula prinsipnya. Namun yang harus ditegaskan bahwa cinta pada masa remaja ini yang ‘belum matang’ sebaiknya jangan dibuat terlalu seperti pasangan suami-istri,melarang apapun yang mereka anggap suka(yang masih dalam batas wajar). Memang setiap hubungan apapun pasti akan mengalami penderitaan, namun bagaimana kita menjalankannya secara positif dan secara logika. Ada kala perasaan harus dikalahkan dengan logika. Merasa kesal boleh, namun jangan berlebihan ya.

*Tingkat penderitaan sesuai karakter masing-masing dan tergantung apa yang dialaminya. Jika dilakukan sesekali tergolong ringan, jika berkali-kali sedang, jika setiap hari selalu begitu tergolong berat.
Share:

Penderitaan Masa Lalu



Kondisi kehidupan masyarakat Indonesia zaman sekarang telah banyak mengalami perubahan terutama dalam perilaku sosialnya. Salah satu penyebabnya adalah masuknya budaya asing ke dalam Indonesia. Hal ini menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal, dan banyak sekali dampak yang diakibatkan oleh masuknya budaya asing ke dalam Indonesia. Berikut merupakan diantaranya:

1. Pola Hidup Konsumtif
2. Sikap Individualistik
3. Gaya Hidup Kebarat-baratan
4. Kesenjangan Sosial
5. Kenakalan Remaja

Di zaman sekarang seringkali kita melihat masyarakat Indonesia, terutama pada kalangan remaja meniru budaya asing. Dari pakaian yang sangat terbuka, sifat individualis dan hilangnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Semua itu menghilangkan karakter asli orang Indonesia. Padahal pada zaman dulu, masyarakat Indonesia berjuang mati-matian untuk mempertahankan dan memerdekakan Indonesia. Sebelum kita terjerumus kedalam budaya asing yang berlebihan, sebaiknya kita melihat ke belakang, melihat penderitaan dan perjuangan rakyat Indonesia di masa lampau agar kita dapat sadar diri dan lebih memilih untuk mempertahankan budaya Indonesia daripada meniru budaya asing.

Indonesia telah dijajah selama ratusan tahun, penderitaan yang dialami oleh rakyat Indonesia begitu lama dan pahit. Lebih dari enam negara telah menjajah Indonesia dimulai dari penjajanhan bangsa Portugis, Belanda, Inggris hingga Jepang. Dan pastinya semuanya memiliki tingkat penderitaan yang berbeda-beda. Namun, penderitaan yang sangat dalam disebabkan oleh penjajahan Jepang di Indonesia.

Penderitaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang jauh lebih berat daripada penderitaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Walaupun Jepang hanya menjajah Indonesia selama 3 tahun (1942-1945). Jepang memerintah rakyat Indonesia untuk kerja paksa (Romusha) untuk membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Berikut adalah penderitaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang:

1. Merampas Hasil Pertanian Rakyat


Jepang merampas seluruh hasil pertanian rakyat. Seperti beras, jagung, teh, rempah-rempah, dll. Akibatnya, banyak rakyat yang mati kelaparan.

2. Romusha


Romusha adalah sebutan bagi orang-orang di Indonesia yang diperintah untuk kerja paksa tanpa dibayar. Kebanyakan romusha adalah golongan petani.

3. Tanam Paksa


Saat Jepang menjajah Indonesia, Jepang memberlakukan sistem tanam paksa. Dalam sistem tanam paksa, rakyat Indonesia harus mengolah pertanian lalu diberikan kepada Jepang.

4. Pajak


Walaupun petani diperintah untuk tanam paksa, namun mereka tetap harus membayar pajak kepada Jepang. Rakyat Indonesia harus membayar pajak ketika melewati jembatan, jalan raya, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia semakin menderita.

5. Pembatasan Pers


Jepang sangat mengawasi dan membatasi pers di Indonesia. Bahkan semua media massa pun disegel. Jika seandainya Sutan Syahrir tidak mendengar berita lewat radio internasional bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu, maka bisa jadi Indonesia tidak akan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.


Semoga dengan melihat penderitaan masa lalu, masyarakat Indonesia terutama di kalangan remaja lebih menghargai budaya lokal. Karena remaja (pemuda) adalah masa depan bangsa.
Share:

Pendidikan Edukasi Dengan Sistem Pembodohan – Penderitaan Tak Berujung



Brian Arthur
1TB03-21316480

  
Jika dibilang setiap manusia memiliki otak yang berbeda . Hal tersebut jelas menciptakan manusia dengan daya ingat yang berbeda, cara pandang yang berbeda, kelebihan, kekurangan dan banyak hal yang berbeda.
Namun… Mengapa seringkali sistem penilaian seseoarang disamaratakan? Bagaimana bisa seseorang yang jelas berbeda dinilai dengan sebuah kriteria yang sama. Dengan kriteria yang ditentukan sebuah sistem hanya membuat seseorang yang tidak sesuai akan selamanya merasa bodoh.
Lalu apa yang harus dilakukan? Tidak ingin mengikuti sistem namun bukan seorang jenius yang mampu bertahan diluar sana. Hanya terpuruk dalam sebuah sistem yang disebut "Pendidikan"


1. Jika dibilang ketika melihat kesuksesan seseorang pendidikan edukasi merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh. Semakin tinggi pendidikan edukasi yang dimiliki akan semakin tinggi juga status karir yang dimiliki. Tapi tidak semua orang yang sukses memiliki latar belakang pendidikan edukasi yang tinggi. Maka dari itu sejatinya pendidikan bukanlah sesuatu yang didapat di atas kertas. Ketika berkata pendidikan maka itu termasuk dengan inidividu dengan dirinya dan lingkungannya sendiri. Bagaima cara seseorang menyikapi suatu masalah, memandang sesuatu dan bertingkahlaku akan lebih menentukan kesuksesan seseorang dibanding sebuah edukasi yang kita dapat pada sekolah ataupun universitas. Namun seringkali yang terjadi adalah sebuah sekolah ataupun universitas memaksa murid untuk mencapai target yang mereka inginkan tanpa memperhatikan keadaan murid - murid mereka.
2. Ketika membicarakan pendidikan, kita membicarakan masa lalu masa kini maupun masa depan. Masa depan seseorang merupakan hasil dari pendidikan yang dijalani saat ini. Pendidikan masa kini seseorang merupakan hasil dari masa lalu seseorang. Siklus ini yang menyebabkan sebuah pendidikan tak berujung. Bagaimana sebuah tindakan dapat mempengaruhi hidup seseorang selama berkepanjangan.


     Ketika masih sekolah saya selalu berpikir mengenai masa depan. Apa yang akan saya lakukan nanti, apa yang akan terjadi pada orang - orang di sekitar saya. Tentu saja semua tak luput dari pengamatan berdasarkan nilai yang ada di atas kertas. Bagaimana nilai akan mempengaruhi seseorang. Karena ulah oknum sekolah yang seolah hanya memandang nilai yang sering terjadi dalam lingkungan sekolah adalah menyontek. Bagaimana sistem pendidikan berhasil membuat murid menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tidak seberapa. Bagaiamana mereka membuat seeorang tertekan atas ketidakmampuannya menghadapi soal yang diberikan, membuat kepercayaan diri seseorang menjadi rontok. 

     Tapi juga disisi lain membuat seseorang termotivasi untuk mencapai suatu yang lebih, bagaimana membuat sisi ambisius seseorang dominan. Setiap orang memiliki respon yang berbeda - beda pada sistem pendidikan. Itu semua menjadi pilihan kita masing - masing. Tapi apakah semua orang memiliki latar yang belakang yang positif dan lingkungan yang positif untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Seakan sekolah tidak memberi sebuah kontribusi pada perkembangan siswa. Mereka hanya peduli pada siswa yang sudah jadi dan hanya tinggal dipoles untuk mencapai suatu tingkat tertentu. Jika ini terus berlanjut bukannya yang terpuruk akan selamanya seperti itu? Bagaimana seseorang menjadi menyerah pada cita - cita nya menyerah karena merasa tindak mampu untuk menggapainya. Bagaimana seseorang yang bisa berbuat lebih tetapi hanya menginginkan yang kecil saja. Bagaimana seseorang yang dengan mudah mendapatkan yang diinginkan. Bagaimana seseorang yang harus mati-matian untuk mendapatkan sesuatu. 
     
     Mengapa seolah-olah sistem pendidikan yang kita miliki hanya mendukung seseorang yang mampu dan menyeleksi yang tidak sesuai kriteria. Jika mengingat hal itu saya merasa sangat sedih. Ketika mengetahui suatu hal namun kita tidak bisa melakukan apapun. Itulah yang menciptkan sifat malas saya. Karena saya berpikir buat apa pintar kalau tidak bermanfaat. Sejauh yang saya lihat, bagaimana seorang yang pintar pun diatur dalam sebuah sistem. Lalu apa yang kita rubah?? Kita hanya memperketat sistem. 

     Jika kita membutuhkan ratusan abad untuk menghentikan perang. Berapa jauh waktukah yang kita perlukan untuk memperbaiki pola pikir sistem pendidikan yang seperti ini? Saya rasa banyak yang memiliki pemikiran seperti saya di luar sana. Tapi apa? sudah berapa lama sistem ini berjalan dan tidak kunjung membaik. Itu karena tidak ada yang mau peduli dengan ketidakmampuan orang lain. Bagaimana seseorang hanya mementingkan diri sendiri. Orang pintar yang dikuasi oleh orang - orang bodoh yang mengklasifikasikan manusia berdasarkan nilai edukasi. Membuat murid untuk bersaing satu sama lain dan menyingkirkan yang tidak tahan. Semua itu bahkan berlanjut ke dunia orang dewasa.


"Yang gagal akan selalu disusahkan."
"Yang berhasil akan didukung, jika ia gagal maka akan dibuang juga."
Begitulah yang saya lihat saat ini terhadap dunia pendidikan.

Jika ditanya berapa ratingnya tentu saja 100/100
Penderitaan yang tidak ada ujungnya, yang berdampak domino bahkan kepada anak cucu kita di masa depan.  
 
Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive