Selasa, 28 Maret 2017

Ilmu Budaya Dasar: CINTA dan KASIH

CINTA dan KASIH

      Seperti yang kita ketahui (atau pura-pura tidak mengetahui), cinta datang tanpa petunjuk dan bantuan customer service. Cinta adalah makhluk aneh yang tidak bisa dijelaskan asal mula, keberadaan, dan tujuannya. Terkadang kita mendapati diri kita bertanya kepada cinta, “Siapa kamu, dan apa maumu?” Namun banyak juga yang bilang kalau cinta itu tidak untuk dimengerti, tapi untuk dirasakan. Tetapi, kata siapa cinta itu hanya untuk dirasakan?

      Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik yang pernah kita alami dalam hidup ini. Sangat disesali, orang pada umumnya masih bingung akan apakah cinta itu sesungguhnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfileman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu dititik beratkan pada perasaan dan cerita romantika.
      
      Dari jaman dulu sampai sekarang hakikat cinta kasih masih menjadi perbincangan yang tidak dibatasi secara jelas dengan makna yang luas pula. Walaupun, sulit juga untuk diungkapkan dan diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Khalil Gibran, seorang punjagga terkenal, berpendapat bahwa “Cinta hanyalah sebuah kemisterian”. Cinta sangat erat dalam kehidupan dan tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan. Tidak pernah selintas pun orang berpikir bahwa cinta itu tidak penting. Mereka haus akan cinta, mereka butuh akan cinta.

      Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu,  cinta bisa diibaratkan sebagai suatu seni yang sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk bisa menggapainya. Begitupun dengan kasih sering sekali kita terkecoh bahkan sulit untuk membedakan cinta dan kasih itu sendiri.

      Ada beberapa pendapat mengenai pengertian cinta kasih. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hamper sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

      Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah pada orang yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.

     Berikut merupakan macam-macam tingkatan cinta. Tingkatan Cinta tingkat tinggi adalah cinta kepada Allah SWT, Rosulullah SAW dan berjihad kepada Allah SWT. Cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya. Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, maka orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan penciptanya. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, saudara/kerabat, sahabat, dan cinta terhadap idola atau motivator. 

      Cinta terhadap orang tua dapat di cerminkan melalui perhatian dan selalu berusaha membuat hati kedua orang tua senang selalu. Selain itu, cinta terhadap orang tua dapat diwujudkan dengan cara berprestasi di sekolah untuk membuat kedua orang tua bangga. Cinta terhadap saudara/kerabat dapat diwujudkan dengan cara berkunjung dan membawa buah tangan ke rumah kerabat untuk menjaga tali silaturahmi. Cinta terhadap sahabat dapat dilakukan Apabila seorang sahabat berkunjung kerumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat/makanan kepadanya, berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sedang sakit itu. Selain itu, cinta terhadap sahabat dapat dilakukan dengan cara membagi suka duka kita kepada sahabat kita. Cinta terhadap idola/inspirator, Idola merupakan seseorang yang memiliki nilai lebih bagi penggemarnya, baik dari segi penampilan, prestasi dan lain sebagainya. Maudy ayunda merupakan sosok yang dapat dijadikan sebagai seorang idola yang menginspirasi. "Paras Cantik dengan kecerdasan yang mumpuni"

                            Hasil gambar untuk maudy ayunda graduate
Share:

ILMU BUDAYA DASAR : Love and Give

Love and Give

sumber : Google image


Berbicara tentang “cinta”, cinta adalah satu kata dengan sejuta makna. Sebuah kata yang di persepsikan berbeda oleh setiap mata dan pikiran manusia. Menurut etimologi cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Sedangkan Abraham Maslow dalam teori Hierarki Maslow, beranggapan bahwa cinta merupakan kebutuhan pada manusia. Dalam teori ini cinta berarti kasih sayang dan rasa terikat (to belong). Rasa saling menyayangi dan terikat satu sama lain, antara individu satu dengan individu lainnya. Maslow mengatakan bahwa kita semua membutuhkan rasa diingini dan diterima oleh orang lain. Ada yang memuaskan kebutuhan ini melalui berteman, berkeluarga, atau berorganisasi. Tanpa ikatan ini,kita akan kesepian.( sobur,2003:277)
Cinta membuat suka, duka ataupun buta. Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa harus meminta apa-apa, namun cinta akan menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. Saya pribadi sebagai penulis lebih memilih untuk percaya pada konsep Give and Give jika dibandingkan dengan Take and Give dalam hal percintaan. Mengapa demikian? Karena hubungan, dengan prinsip Give and Give lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi, dimana hal itu sangat dibutuhkan dalam suatu hubungan. Setiap manusia pasti memiliki tingkat ego masing-masing, namun untuk menjalin hubungan yang sehat kita harus dapat bertoleransi dan saling pengertian kepada pasangan kita. Karena ketika kita sudah memilih untuk berbagi kehidupan dengan pasangan kita, dalam konteks ini teman, sahabat, ibu, ayah, pacar, suami maupun istri, kisah itu bukan lagi hanya tentang kita pribadi namun juga tentang pasangan kita. Bertoleransi dan pengertian adalah sebuah konsekuensi pahit yang berbuah manis jika kita telah memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Sebagai manusia memang sangatlah tidak mudah untuk bertoleransi, menurunkan ego, ataupun menerima hal-hal yang tidak kita sukai namun ada dalam pribadi pasangan kita. Namun disitulah hebatnya “cinta”, rela berkorban, mengalah untuk menang dan berjuang bersama-sama, lebih mengenal dan memperbaiki pribadi masing-masing untuk kepentingan bersama. Jadi hubungan antara 2 orang atau lebih harus dilandasi oleh dua hal tersebut dan dilakukan oleh keduanya secara seimbang. Tidak boleh ada yang merasa berjuang lebih banyak dari pada yang lainnya. Dalam hal ini unsur pendukung lainnya juga dibutuhkan, seperti percaya terhadap pasangan. Menurut saya pribadi Take and Give dalam percintaan terkesan lebih egois. Karena didalam konsep itu ada satu pihak yang memberi dan pihak lainnya menerima. Alangkah egoisnya pihak yang hanya ingin menerima dan tidak memberi dan betapa malangnya pihak yang selalu memberi cinta tanpa menerimanya. Bukanlah arti sebuah cinta jika hanya berjuang sendirian. Karena hubungan yang baik harus dilandasi oleh kata “saling”. Saling membutuhkan, saling memahami, saling menerima, dan tentunya saling mencintai. Betapa sulitnya kita jika kita memberikan sesuatu, dengan harapan dapat menerima. Bayangkan, diri menjadi dihinggapi banyak kecemasan, banyak pengharapan, dan banyak kekecewaan ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harap yang kita mau. Sebaliknya jika kita memberi tanpa adanya pengharapan, kita menjadi lebih tenang dan ikhlas. Ketika hal yang tidak kita harapkan dapat diberikan orang lain kepada kita, bayangkan betapa bahagianya. Jika ditelaah lagi, konsep dari Take and Give berarti “menerima dan memberi” sedangkan konsep Give and Give memiliki arti “memberi dan memberi” dalam hal tersebut dapat terlihat dengan jelas adanya unsur “saling” dalam konsep Give and Give, yaitu saling memberi. Oleh karena itu saya sebagai penulis lebih memilih Give and Give dibandingkan Take and Give.
Cinta dapat timbul antara 2 makhuk atau lebih, dapat datang secara tiba-tiba ataupun direncanakan dan tidak bisa di paksakan ataupun dibuat-buat. Suatu perasaan terdalam manusia yang membuatnya rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Pengorbanannya yang tulus, tidak mengharap balasan. Cinta bukan saja hanya kepada pasangan suami dan istri, namun lebih luas lagi cinta atau kasih dapat di tujukan kepada siapa saja teman-teman, sahabat, ayah, ataupun ibu. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kasih ibu sepanjang masa, betapa besarnya cinta kasih yang telah ia berikan untuk anak, suami dan keluarganya. Kasihnya tidak bisa digantikan walau dengan semua yang ada di bumi dan langit dan di antara keduanya. Kasihnya abadi sepanjang masa. Namun menurut penulis, kasih ibu kurang sesuai dengan konsep Give and Give yang kita bahas sebelumnnya. mengapa demikian? seperti pribahasa mengatakan “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”. Pribahasa terebut memang benar adanya, kasih ibu kepada anaknya tak akan pernah ada habisnya. Apapun yng terjadi, kasih ibu tetap tulus, putih, dan sakral terhadap anaknya. Namun, kasih sayang anak terhadap ibunya terkadang masih perlu di pertanyakan. Tak jarang anak yang lebih memilih atau mementingkan pasangannya ataupun dunianya sendiri daripada ibunya yang telah melahirkannya. Saya menganggap bahwa konsep Give and Give sangat cocok dan banyak diterapkan oleh para muda-mudi yang menjalin hubungan cinta atau yang lebih di kenal pacaran. Dalam fase ini penjajakan, pengenalan dan hal-hal dasar seperti itu harus sangat ditekankan. karena itulah fungsinya pacaran. Agar dua insan lebih mengenal dan menerima satu sama lain sebelum masuk ke fase yang lebih serius, yaitu pernikahan. Di fase ini memiliki beberapa tingkat atau masa. Pada awal pacaran, semuanya masih terasa indah, keduanya masih “malu-malu” kucing, rasa cinta mereka masih sangat tinggi dan merasa yakin bahwa mereka saling mencintai dan dicintai. Pada masa ini pasangan tersebut akan merasa seakan dunia hanya milik berdua, pasangan tersebut sedang dilanda kasmaran sehingga sifat buruk pada pasangan belum menjadi fokus mereka. Setelah lebih lama lagi berpacaran, sebuah pasangan akan masuk ke fase datar, dimana akal sehat akan mulai aktif bekerja. Mereka mulai dapat menilai pasangan secara obyektif. Ia tak akan ragu menyinggung, memperdebatkan, atau bahkan memarahi pasangannya jika berbuat kesalahan, mereka akan mulai berpikir kritis. Kelemahan demi kelemahan masing-masing pihak akan mulai nampak dan akan erat hubungannya dengan konflik atau pertengkaran-pertengkaran kecil, mulai dari perbedaan cara pandang hingga perbedaan kebiasaan yang tidak bisa disembunyikan lagi dapat menyulut sumbu pertengkaran. Pada fase ini diperlukan adanya titik temu, dimana keduanya dituntut untuk belajar memahami pola penyelesaian sesuai dengan karakter dan kebiasaan pasangan masing-masing. Disinilah konsep Give and Give harus mulai di terapkan, memberi dukungan dan toleransi pada fase ini dapat meyakinkan pasangan bahwa kamulah orang yang tepat. Terus berada di dekatnya dalam keadaan suka ataupun duka. Sedangkan jika konsep Take and Give yang kamu terapkan, itu akan menjadi boomerang untuk dirimu sendiri. Rasa berharap akan pemberian pasangan kita dan rasa kecewa yang timbul jika harapan tak berjalan sesuai keinginan hanya akan memperkeruh hubungan pasangan tersebut. Dan bukan tidak mungkin jika hal itu dapat menimbulkan akibat yang lebih fatal atau “putus”. Sehingga pada fase ini, diharakan untuk lebih bijak untuk mengambil keputusan. Fase ketiga adalah fase dimana kalian sudah melewati fase penuh emosi dan kebosanan, namun bukan berarti hubungan kalian aman. Kamu perlu mengerti satu sama lain pada level yang lebih dalam lagi. Sekarang kamu lebih peduli soal apa saja yang pasanganmu suka dan benci, perspektif dan penilaiannya, dan pada akhirnya kamu akan lebih peduli soal perasaannya padamu lebih dari apapun. Kamu percaya padanya sebagai pasangan dan sebagai manusia biasa. Kamu tahu bahwa pasanganmu bisa hebat meskipun sendirian namun tetap bersamamu melewati suka dan duka. Meskipun antusiasme kalian berdua sebagai pasangan tak lagi semeriah awal jadian, namun perlahan perasaan kalian mulai mengakar. Kalian mulai percaya satu sama lain. Dan fase terakhir yang harus di lalui setiap pasangan, ini adalah momentum kamu menemukan cinta yang bisa bertahan selamanya, cinta yang dalam dan perasaan luar biasa yang tak bisa dirasakan semua orang. Fase penemuan kembali ini menggambarkan ketiga fase sebelumnya. Ini adalah periode saat kamu merasa sangat membutuhkan kehadiran pasanganmu agar hari-harimu terasa menyenangkan. Ini adalah waktu ketika kamu tahu pasanganmu luar dalam namun tetap memutuskan untuk bersamanya. Ini adalah momen kamu bisa mempercayakan seluruh hidupmu padanya, mempercayakan seluruh cintamu untuknya karena kamu tahu hanya dia yang mampu. Akhirnya kamu belajar untuk tumbuh bersama dan menjadi dewasa bersama-sama. Kamu belajar untuk berbagi dan berkompromi, untuk menghargai perasaan dan kebutuhan satu sama lain. Kalian saling membutuhkan dan itu adalah perasaan yang luar biasa. Dan jika kalian bisa bersikap dewasa dan bijak, fase ini bisa bertahan selamanya.
Jadi cinta dan memberi memiliki hubungan yang sangat erat, dalam praktiknya “memberi” mendukung adanya cinta yang tulus tanpa berharap imbalan. Toleransi dan saling mengerti pun menjadi pendukung yang sangat dibutuhkan dalam menjalin hubungan cinta. Seperti yang sudah tertulis diatas, cinta itu dibutuhkan kata “saling”. Dan bukanlah cinta artinya jika hanya berjuang sepihak. Cinta itu tentang kebersamaan, bersama-sama berjuang, bersama-sama bersedih dan bersama-sama bahagia. Pada akhirnya kita berpikir bahwa bersama lebih bahagia.



Nama : Andini Fitriani
Kelas : 1TB03
NPM : 20316791
Share:

Senin, 27 Maret 2017

ILMU BUDAYA DASAR TUGAS 3 : CINTA DAN KASIH SAYANG

IBD TUGAS 3 : CINTA DAN KASIH SAYANG
cinta


  Pada tugas ilmu budaya dasar yang ketiga ini saya akan menjelaskan tentang apa itu cinta dan kasih sayang pada orang tua,sahabat saya sendiri.

  Apa itu Cinta? Cinta adalah rasa sangat suka atau rasa sangat sayang kepada seseorang atau sesuatu atau cinta adalah sesuatu yang sangat menarik hati sangat tertarik hatinya.

 Apa itu Kasih Sayang? kasih sayang adalah Rasa yang timbul dalam diri hati yang tulus untuk mencintai, menyayangi, serta memberikan kebahagian kepada orang lain , atau siapapun yang dicintainya

 Cinta sendiri memiliki beberapa unsur, yaitu :
1. Passion (kemesraan)
2. Inimacy (keintiman)
3. Commitment (keterikatan)

 Menurut ajaran Agama cinta adalah sebagai berikut:
1. Cinta kepada Allah
2. Cinta kepada rasul
3. Cinta diri
4. Cinta kepada sesama manusia
5. Cinta seksual
6. Cinta kebapakan

 Cinta itu timbul dengan sendirinya tanpa paksaan dari berbagai pihak,cinta yang paling utama adalah cinta saya kepada Tuhan yang masa esa,yang kedua adalah kecintaaan saya kepada Orang Tua saya, melebihi cinta saya kepada siapapun setelah cinta saya pada Tuhan, saya sangat mencintai mereka karena ya memang saya cinta mereka tanpa alasan,saya sayang mereka juga melebihi kasih sayang saya kepada siapapun, cinta dan kasih sayang saya kepada orang tua akan selalu sama, selalu cinta dan saya kepada mereka.

 Cinta saya pada sahabat saya, sahabat adalah keluarga kedua bagi saya karena jika saya sedang ada masalah dalam keluarga tempat kedua untuk saya adalah sahabat sahabat saya sendiri, cinta terhadap sahabat beda dengan cinta pada teman “biasa”, cinta atau sayang pada sahabat saya sendiri melebihi cinta pada teman teman saya biasanya.

 Cinta pada idola, disini saya bukan seeorang yang terlalu fanatis kepada seorang idola mungkin hanya sekedar suka kepada mereka yang menurut saya bagus.
 Sekian penjelasan dari saya,terima kasih.

SOELTAN RYAN RAMADHAN
27316120
1TBO3
ILMU BUDAYA DASAR
Share:

Minggu, 26 Maret 2017

Kebudayaan Daerah Jawa Barat

TUGAS MATA KULIAH ILMU BUDAYA DASAR
Nama    : Lydia Jasmine Fauzia
Kelas    : 1TB03
NPM    : 24316154
Dosen    : Rizqi Intan Sari Nugraheni
KEBUDAYAAN DAERAH JAWA BARAT

    Kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki begitu banyak ragam budaya pada setiap daerahnya. Keragaman budaya daerah tersebut bergantung pada faktor geografis. Semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. Jika kita melihat dari ujung pulau Sumatera sampai ke pulau Irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.   
    Salah satu daerah yang memiliki keragaman budaya yang banyak adalah Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.
    Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.
    Berikut ini pembahasan mengenai hasil kebudayaan yang ada di Jawa Barat.

Rumah Adat
    Seperti halnya rumah-rumah adat yang lain pada umumnya, Rumah Adat Jawa Barat umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, ijuk, daun kelapa, sirap, batu, dan tanah. Selain itu, bangunannya tidak berdiri langsung di atas tanah, melainkan berbentuk rumah panggung. Tujuannya adalah melancarkan sirkulasi udara sekaligus menghindari serangan dari binatang buas.
    Tinggi panggung rumah-rumah khas Parahyangan ini biasanya sekitar 40 hingga 60 cm di atas permukaan tanah, cenderung dilengkapi geladak berupa tangga serta teras depan. Uniknya, bentuk atap pada Rumah Adat Jawa Barat memiliki perbedaan pada tiap-tiap wilayah Tanah Sunda.
    Salah satu contoh rumah adat Jawa Barat dinamakan Keraton Kasepuhan Cirebon yang di pada bagian depannya terdapat pintu gerbang. Keraton Kasepuhan Cirebon ini terdiri dari 4 ruangan, yaitu:
1.    Jinem atau pendopo untuk para pengawal/penjaga keselamatan Sultan.
2.    Pringgodani, tempat Sultan memberi perintah kepada adipati.
3.    Prabayasa, tempat menerima tamu istimewa Sultan, dan
4.    Panembahan, ruang kerja dan istirahat Sultan.


Pakaian Adat
    Pakaian adat pria Jawa Barat berupa tutup kepala (destar), berjas dengan leher tertutup (jas tutup). Ia juga memakai kalung, sebilah keris yang terselip di pinggang bagian depan serta berkain batik.
    Sedangkan wanitanya memakai baju kebaya, kalung, dan berkain batik. Beberapa hiasan kembang goyang menghiasi bagian atas kepalanya. Begitu pula rangkaian bunga melati yang menghiasi rambut yang disanggul. Pakaian ini berdasarkan adat Sunda.

Upacara Adat
    Salah satu upacara adat yang ada di daerah Jawa Barat adalah upacara Seren Taun. Upacara Seren Taun adalah upacara adat khas tradisional Jawa Barat dimana upacara adat ini intinya adalah mengangkut padi (ngangkut pare) dari sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya diadakan riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/pemuka masyarakat dengan para pejabat pemerintah setempat.
        Upacara Seren Taun membawa hasil tani sebagai permohonan syukur kepada Tuhan

Kehadiran pejabat setempat adalah untuk menyampaikan berita gembira mengenai keberhasilan panen (hasil tani) dan kesejahteraan masyarakat yang dicapai dalam kurun waktu yang telah dilalui. Salah satu ciri khas di dalam upacara ini adalah dengan prosesi seba atau dapat diartikan semacam menyampaikan segala hasil tani yang telah dicapai untuk dapat dinikmati oleh pejabat-pejabat setempat yang diundang untuk menghadiri acara tersebut.

Salah satu tujuan upacara adat ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan dan perlindungan selama masa tani serta sebagai sebuah permohonan agar di masa kedepan na dapat emmperoleh hasil tani yang lebih baik lagi. Upacara Sereh Taun ini dapat kita jumpai di Kasepuhan Sirnarasa Cisolok, Sukabumi Selatan; Cigugur-Kuningan.

Tari-tarian Jawa Barat

1.    Tari Topeng Kuncuran, merupakan sebuah tarian yang mengisahkan dendam kesumat seorang raja karena cintanya ditolak.
2.    Tari Merak, sebuah tari yang mengisahkan kehidupan burung merak yang serba indah dan memukau.
3.    Tari Rarasati. Dewi Rarasati sebagai selir Arjuna yang cantik dan lembut ternyata memiliki jiwa keprajuritan. Kepandaiannya dalam memanah telah menyadarkan Srikandi dari kesombongannya. Saripati gambaran tersebut kemudian diangkat dalam bentuk tari kelompok dengan sumber gerak tari tradisi Cirebon.
4.    Tari Jaipong, suatu bentuk tarian pergaulan Jawa Barat yang terkenal.

Senjata Tradisional
    Di Jawa Barat senjata tradisional yang terkenal adalah kujang. Senjata lainnya adalah keris kirompang, keris kidongkol, golok, bedok, panah bambu, panah kayu dan tombak.
    Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.
    Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
    Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.

Suku
Sunda, Badui, Betawi, Banten, dan lain-lain.
    Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di Kabupaten Indramayu menggunakan bahasa Cirebon dialek Indramayu atau dikenal dengan dermayon dan beberapa kecamatan yang terletak di pantai utara kabupaten Subang dan Kabupaten Karawang seperti Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon dan Pedes (Cemara) menggunakan bahasa Cirebon yang hampir mirip dengan bahasa Cirebon dialek dermayon. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkaraktaristik kontras dengan dua identitas: masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah Jabodetabek (sekitar Jakarta) serta Bandung Raya; dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa. Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi. Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun    Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.

Bahasa Daerah
Sunda, Betawi

Lagu Daerah
Sintren, Cing Cangkeling, Bubuy Bulan.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat
http://www.kebudayaanindonesia.com/2013/06/jawa-barat.html
https://baraya-pasundan.blogspot.co.id/2014/01/tradisi-jawa-barat-upacara-adat-jawa.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kujang

Share:

SUKU REJANG

Suku Rejang

Kebudayaan merupakan salah satu sarana untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, karena kebudayaan merupakan bagian atau aspek langsung melibatkan manusia indonesia dalam menentukan sikap hidup sehari-hari yang dapat mencerminkan identitas bangsa serta memastikan pegangan hidup bangsa untuk tidak mudah dipengaruhi oleh kebudayaan luar yang nilainya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Seperti di daerah lain, di Bengkulu banyak diwarisi budaya, dan nilai budaya itu sendiri ternyata masih merupakan faktor yang dominan dalam kehidupan masyarakat. Adat istiadat dan norma-norma yang terkandung didalamnya merupakan suatu pegangan dan pedoman masyarkat di dalam berinteraksi dengan sesamnya untuk mengayomi kedamaaian hidup sehari-hari.
Unsur-unsur kebudayaan yang mengandung nilai yang luhur dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pendukungnya, karena unsur kebudayaan tersebut mengandung nilai-nilai yang mampu mengendalikan atau mengatur kelangsungan hidup masyarakat dalam suasana yang aman, damai sehingga terbentuknya suatu masyarakat yang harmonis kehidupannya. Dengan nilai-nilai yang luhur itu pula, masyarakat mendapat suatu pegangan yang kuat dan dapat menyeleksi unsur-unsur kebudayaan luar, sehingga unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada akan tersisih dengan sendirinya.
Suku rejang adalah salah satu suku yang mendiami propinsi Bengkulu yang telah diwarisi oleh banyak budaya dan nilai budaya. Suku Rejang adalah salah satu suku bangsa tertua di Sumatera. Suku Rejang mendominasi wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Lebong. Berdasarkan perbendaharaan kata dan dialek yang dimiliki bahasa Rejang, suku bangsa ini dikategorikan Melayu Proto. Berikut kebudayaan yang terdapat pada suku rejang


A.   Sistem Kekerabatan
Hubungan kekerabatan Suku Rejang adalah bilateral, Walaupun keturunan mereka cenderung patrilineal. Adat menetapkan sesudah kawin yang dalam bahasa rejang disebut duduk letok (menentukan tempat tinggal) ditentukan berdasarkan asen (mufakat) oleh kedua belah pihak. Asen ini ada beberapa macam. Bentuk kekerabatan lama adalah keluarga luas yang disebut tumbang. Antara satu tumbang dengan tumbang tertentu masih ada hubungan petulai (saudara) dan disebut sebagai kelompok satu ketumbai atau sukau. Beberapa ketumbai atau satu berdiam di sebuah sadei (dusun).

B.    Sistem Sosial dan masyarakat
Masyarakat suku rejang mengenal sistem kesatuan sosial yang bersifat teritorial genealogis yang disebut mego atau marga atau bang mego. Kesatuan sosial ini berasal dari kelompok keturunan sutan sriduni, cikal bakal mereka. bang mego asal ada empat, yaitu tubai, bermani, jekalang, dan selupuak. Pada masa sekarang jumlah bang mego sudah bertambah, namun pengaruh yang asli masih kuat, mereka yang disebut tiang empat limo dengan rajo. Pada zaman dahulu merekalah yang menunjuk raja.
Pelapisan masayarakat rejang pada zaman dahulu diantaranya pertama, golongan bangsawan yang terdiri dari raja-raja dan kepala marga. Golongan kedua adalah kepala dusun yang disebut potai, dan yang ketiga disebut golongan tun dawyo atau orang biasa. Golongan yang dihormati adalah para pedito(pemimpin agama) dan labgea (dukun).
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Rejang Lebong, aktivitas yang didasarkan pada semangat gotong royong masih tetap dilaksanakan baik dalam kelompok-kelompok kecil yang mempunyai hubungan kekeluargaan maupun dalam kelompok-kelompok masyarakat dalam suatu dusun atau desa. Ungkapan “tei ne tanggung jawab besamo, ban benek, lengan sarno-samo masung” yang secara turun temurun diwariskan dan dijiwai oleh masyarakat di Kabupaten Rejang Lebong merupakan nilai-nilai luhur Dalam hal tolong menolong ada juga ungkapan yang berbunyi ” kasiak mbales sayang betimbang, ade tepok tebis, ade tanjung menyuung” yang lebih kurang terrjemahannya “kasih dibalas sayang dipertimbangkan, ada tebing di tepi air runtuh ada tanjung menjelma” Maksud dari kiasan ini adalah budi baik dan kasih sayang tidak akan sia-sia. Ungkapan ini pada dasarnya menganjurkan agar anggota masyarakat selalu berbuat baik, tolong –menolong, jangan kikir dengan harta benda dan ilmu pengetahuan.
Sebagai kelompok masyarakat yang secara historis telah ada sejak zaman Majapahit dahulu, budaya bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan terhadap sesuatu yang harus diputuskan untuk kepentingan bersama telah lama dipraktekan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Rejang Lebong. Ungkapan kio sesudo keker abis, mbeak nyesoa kedong bilai, mbeak nyeletuk kedong malem. Nyesoa coa ko nyesoa bae. Soa nu moi pateak indoi, nyeletuk moi pateak nangis. Kecek nik supayo ko micik, kecek lai supayo ko metai. Mbeak ko micik sesu’ang. Supayo ko metai ngen pupuk kaum”, yang dalam bahasa Indonesia lebih kurang berarti “renungi secara mendalam, pikir sampai habis. Jangan menyesal dikemudian hari, jangan menggerutu di kemudian malam. Sesalmu bukan sembarang sesal. Sesalmu akan menimbulkan tangis, gerutumu akan menimbulkan isak. Kata halus supaya kau resapkan, kata jelas supaya kau artikan. Jangan kau resapkan sendiri. Supaya engkau artikan bersama-sama dengan sanak keluarga”. Ungkapan ini merupakan anjuran agar selalu bermusyawarah dengan sanak famili dalam menghadapi persoalan-persoalan yang rumit dalam keseharian kita untuk mencari jalan keluarnya. Ungkapan “Pat sepakat, lemo sernpurno” sebenarnya menunjukan bahwa proses musyawarah untuk mufakat dalam masyarakat dapat saja dilakukan tanpa harus melibatkan pimpinan formal mereka. Kehadiran pemimpin hanyalah sebagai penyempurna dari kesepakatan yang dilakukan oleh masyarakatnya.

C.   Sistem Religi
Sebelum masuknya agama islam di Bengkulu, suku Rejang masih memegang kepercayaan Animesme dan Dinamisme yaitu percaya kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistis serta arwah roh nenek moyang. Dalam bukunya Antonie Cabaton menyebutkan bahwa orang Rejang dalam jangka waktu tertentu memberi persembahan berupa beras dan buah-buahan pada gunung Kaba yang dimuliakan oleh suku Rejang.[4]
Memasuki abad ke-16 islam mulai masuk ke Bengkulu dari Banten, terutama dari daerah Selatan, diperkirakan juga Islam masuk dari Aceh dan Minang Kabau sedangkan untuk Daerah Rejang kemungkinan Islam masuk dari Palembang di daerah ini Islam merupakan agama terbesar yaitu melebihi 99%. Selai agama Islam agama Nasrani dan Katolik datang di Bengkulu senagaja disebarkan oleh Zending Katolik.  pada tahun 1916 ada dua padri Katolik Roma, memimpin misi kurang lebih 600 jiwa.[5]
Sampai pertengahan abad ke-19 masi terdapat sisa-sisa kepercayaan lama di daerah pedalaman, tetapi pada akhir abad ke-19 tidak terdapat lagi penganutnya secara sempurna. Masyarakat Rejang telah menganut Islam atau Nasrani, meskipun cara lama masi terbawa juga.[6]

D.   Adat Istiadat dan Peraturan
Pada zaman dahulu pengaturan dalam kerajaan dilakukan oleh para pejabat negara dan puncak pimpinan terletak ditangan seorang raja. Dalam pelaksanaan operasionalnya rajapun dibantu oleh para pembantu seperti; penghulu, kepala kaum, datuk, patih, tuai kutai, depati, pemangku, penggawa, gide dan pemangku muda.
Dasar dari pengaturan ini adalah peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis seperti adat istiadat, yang telah ditetapkan berdasarkan pemufakatan para umara dan ulama serta orang-orang tua atau tokoh-tokoh yang terpandang dalam masyarakat. Dalam pemerintahan anjai-anjai kerajaan pat petula, segalah sesuatu mengenai ketertiban dalam pengaturan negara sebagian sudah diatur dalam adat istiadat bangsa Rejang. Menurut adat ini barng siapa yang melanggar adat akan dibunuh. Setelah kedatangan para biku dari Maja pahit dan menjadi raja bangsa pajang; maka suku Rejang di Daerah Bengkulu mendapatkan pelajaran bertanih dan peraturan baru untuk memperbaiki dan penyempurnaan peratiran yang lama. Salah satunya adalah Gawai Bunuh diganti Gawai Bngun, artinya barang siapa yang membuat kesalahan besar seperti membunuh tidak lagi dibunuh tetapi diganti gawai Bangun. Gawai Bngun artinya siapa yang membuat kesalahn besar seperti membunuh tidak lagi dibunuh tetapi diganti dengan membayar berupa emas dan perak kepada ahli famili si mati.[7]
Adat rejang yang masih berlaku hingga sekarang aialah:
1.          Membunuh-membangun artinnya: kalau membunuh orang hukumnnya si pembunuh harus membayar bangun kepada famili yang mati, yaitu berupa emas dan perak.
2.          Salah berhutang, artinya kesalahan terpikul oleh orang yang bersalah itu sendiri.
3.          Gawai Mati atau Gwai Bunuh, seseorang yang melakukan keslahan yang sangat besar atau yang dilarang keras oleh adat, dihukum mati atau dibunuh.
4.          Melukai menepung, artinya memberi emas atau uang kepada oarng yang dilukai.
5.          Selang berpulang, artinya tiap barang yang dipinjam harus dikembalikan.
6.          Suarang berbagai, artinya harta yang diperoleh bersama harus dibagi sama banyak.
7.          Burung puang si jlupang, artinya patah tumbuh hilang berganti; tiap yang hilang harus ada gantinya.
8.          Kalah adat karena janji.
9.          Diberi habis saja, artinya suka sama suka.

E.    Sistem Bahasa

Suku Rejang memiliki perbedaan yang mencolok dalam dialek penuturan bahasa. Dialek Rejang Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek Rejang di Kabupaten Rejang Lebong yang dikenal dengan dialek Rejang Curup, dialek Rejang Bengkulu Utara, dialek Rejang Bengkulu Tengah, dan dialek Rejang yang penduduknya di wilayah kabupaten Lebong. Secara kenyataan yang ada, dialek dominan Rejang terdiri tiga macam. Dialek tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Dialek Rejang Kepahiang (mencakup wilayah Kabupaten Kepahiang)
  2. Dialek Rejang Curup (mencakup wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Utara)
  3. Dialek Rejang Lebong (mencakup wilayah Kabupaten Lebong dan wilayah Kabupaten Bengkulu Utara yang berdekatan dengan wilayah Kabupaten Lebong)
Dari tiga pengelompokan dialek Rejang tersebut, saat ini Rejang terbagi menjadi Rejang Kepahiang, Rejang Curup, dan Rejang Lebong. Namun, meskipun dialek dari ketiga bahasa Rejang tersebut relatif berbeda, tetapi setiap penutur asli bahasa Rejang dapat memahami perbedaan kosakata pada saat komunikasi berlangsung. Karena perbedaan tersebut seperti perbedaan dialek pada bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris Britania, dan bahasa Inggris Australia. Secara filosofis, perbedaan dialek bahasa Rejang terjadi karena faktor geografis, faktor sosial, dan faktor psikologis dari suku Rejang itu sendiri.


F.    SistemTulis


Dalam perkembangannya selain bahasa Rejang, suku Rejang juga menggunakan Aksara kaganga. Akasara kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra Selatan. Aksara yang termasuk kelompok ini adalah Akasara Rejang, Lampung, Rencong dan lain-lain. Nama aksara Kaganga ini merujuk pada Ketiga aksara Pertama. Yaitu ka, ga, dan nga. Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of hull (Inggris) dalam buku Folk Literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat disebelah selatan adalah Surat ulu.
Aksara batak atau surat batak juga berkerabat dengan kelompok surat Ulu akan tetapi urutannya berebda. Diperkirakan zaman dahulu diseluruh pulau sumatra aceh diujung sampai lampung di selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara kaganga (surat ulu) ini. Tetapi aceh dan minangkabau yang dipergunakan sejak lama adalah huruf kawi.
Perbedaan antara aksara kaganga dengan jawa ialah bahwa kasara surat ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara jawa. Aksara ulu diperkirakan berkembang dari aksara palawa dan aksara kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.

G.   Kesenian
Kebudayaan di daerah bengkulu, masih termasuk dalam rumpun Melayu Polenesia. Salah satu aspek penjelmaan kebudayaan ini adalah tata adat sekapur sirih. Tata adat tersebut hingga kini masih ada terpelihara di kalngan masyarakat bengkulu terutama suku Rejang. Banyak sekali kesenian yang ada di miliki Suku Rejang ini diantarnya tari tarian.
Tarian sekapur sirih yang hanya ditarikan untuk tamu-tamu kehormatan. Karena dulunya tarian ini hanya tarian  persembahan bagi tamu-tamu kerajaan yang hadir di balai bundar. Selain itu ada tarian kumbang marak bungo. Tarian ini menggambarkan gadis yang banyak penggemarnya. Penarinya semua memakai pakaian adat. Selain itu ada pula tari kejei yang dibawakan oleh muda mudi suku rejang. Tari Kejei adalah satu-satunya tarian adat Rejang Lebong,dalam membawakan tari kejei penari harus berpasangan ( laki-laki dan perempuan ),penari harus ganjil ( 5 pasang,7 pasang, atau 9 pasang ) Gerakan inti tari kejei ada 2 macam yaitu gerakan tetap dan gerakan peralihan* Pada gerakan tetap penari perempuan,kedua telapak tangan menghadap kedepan setinggi bahu d depan dada,dan setelah gerakan matah dayung memegang ujung selendang * Pada gerakan tetap penari laki-laki,kedua telapak tangan menghadap ke depan setinggi kepala,dan setelah gerakan peralihan ( matah dayung ),kedua telapak tangan menghadap ke depan disamping paha. Di inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai. Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan belek dan Tebo Kabeak.
Gerakan Sembah (Penghormatan):
1.          Sembah Tari : Tangan diangkat diatas bahu
2.          Sembah Tamu : Tangan diangkat diatas dada
3.          Penyerah Siri setengah jongkok dan setengah berdiri pada saat berada diluar rumah
4.          Khusus busana yang menyerahkan siri ( wanita ) mengenakan pakaian / baju kurung / renda penutup dada.


H.   arsitektur rumah adat

Seperti di desa tua lainnya di Lebong, bentuk dan ornament yang ada di bangunan rumah-rumah penduduknya hampir sama. Ornament yang terdapat pada rumah-rumah penduduk asli orang Rejang terdiri dari 2 (dua) kelompok. Jenis (kelompok) pertama merupakan bangunan rumah berornamen dan memiliki seni arsitektur bernilai tinggi yang sangat erat kaitannya dengan status social dan keberadaan pemiliknya.
Rumah rumah serupa juga bisa ditemukan di desa Kota Donok. Pada umumnya, rumah asli penduduk Rejang terbuat dari bahan kayu yang berkualitas tinggi. Rumah yang terbuat dari bahan kayu (papan) tersebut mampu bertahan hingga ratusan tahun dan sampai sekarang masih utuh. Rumah-rumah tua itu selalu dihiasi dengan ornament seni yang tinggi, meskipun terlihat sangat sederhana. Misalnya di bagian risplang rumah. Selalu dihiasi dengan ukiran penuh dengan simbol-simbol flora seperti daun, bunga atau lainnya. Demikian pula di bagian dinding rumah—terutama di bagian depan selalu dihiasi dengan ukiran dari papan, yang kemudian ditempelkan dinding kayu (menyatu).

Ciri khas ornamen klasik dengan arsitektur bernilai seni tinggi pada rumah orang Rejang mengisyaratkan status sosial pemiliknya. Ciri khasnya adalah pemasangan papan pada dinding dilakukan secara berdiri, di bagian dinding depan rumah biasanya hanya ada dua jendela dan sebuah pintu berukuran besar. Rumah orang Rejang seperti itu, biasanya memiliki ruang tamu di bagian depan yang cukup besar (beranda) . Di samping jendela di bagian depan. Masih ada dua jendela di sisi kiri dan kanan. Kecenderungan seperti itu hampir pada semua rumah asli orang Rejang. Pada ruang kedua, biasa merupakan ruangan keluarga yang berukuran separuh dari ruangan tamu yang ada di depannya. Di ruangan kedua itu, sebagian ruangnya digunakan untuk kamar tidur utama. Sementara dipan tempat tidur bagi yang mampu bisa saja diletakkan di salah satu sudut ruang tamu, ruang keluarga pertama dan ruang keluarga kedua.

Ciri khas lainnya rumah asli orang Rejang adalah bertingkat dan mempunyai karakter tinggi dengan tiang-tiangnya disertai bentuk rumahnya yang membujur (empat persegi panjang). Ada yang memanfaatkan tingkat bawah sebagai temat kumpul-kumpul keluarga sehari-hari dan ada yang tidak memanfaatkannya. Artinya dibiarkan kosong dan biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk menyimpan bahan kayu bakar, kandang sapi, kandang ayam atau menyimpan bahan-bahan bangunan lainnya.
Rumah-rumah tua ini hampir semuanya dilengkapi kamar mandi di bagian belakang lengkap dengan pancurannya beserta tempat menyimpan berbagai alat-alat pertanian dan menggantung pakaian kerja. Karena, kalau diletakkan di ruang kamar mandi yang serbaguna itu, akan mudah untuk dicuci (dibersihkan). Dulunya, rumah-rumah asli Rejang itu, walau papan lantainya sudah demikian mengkilat karena selalu di-pel, sebagian pemiliknya yang mampu akan menambahkan alas lantainya berupa paran (tikar anyaman dari rotan atau kulit bambu yang tua dan pilihan). Paran itu juga dianyam dengan tambahan ukiran sedemikian rupa.
Rumah-rumah itu memiliki plapon yang juga terbuat dari bahan kayu (papan) pilihan, sehingga di atasnya dimanfaatkan untuk tempat menjemur atau mengeringkan biji kopi. Menyimpan hasil perkebunan lainnya, seperti pisang, nangka dan buah-buahan lainnya.
Bangunan rumah asli orang Rejang memang sudah sedemikian maju dan itu menandakan pengetahuan orang Rejang terhadap design bangunan rumah sudah demikian tinggi. Karena, sebuah bangunan rumah mereka, sudah lengkap dengan ruang-ruangnya. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang bermusyawarah, kamar tidur, kamar gudang (tempat beras dan lainnya), dapur, kamar mandi (ruang kamar mandi), ruang menyimpanan berbagai hasil pertanian dan sebagainya. Ruangan-ruangan ini dipisahkan oleh dinding papan yang dibuat sedemikian rupa. Oleh karena itu, ada beberapa istilah yang dipakai untuk menyebut ruang-ruang atau kamar di dalam struktur rumah asli Rejang. Misalnya

brendo (beranda, teras rumah),
smigo (ruang utama yang letaknya paling depan sesudah bredo),
bilik (kamar tidur),
dopoa (dapur),
palai (ruang di atas plapon rumah),
ndea (tangga),
kemdan (jendela)
bang (pintu).

Untuk menyebut bilik (kamar tidur) biasanya ditambah dengan nama siapa yang sering tidur di kamar tersebut. Misalnya kamar tidur nenek maka disebut bilik sebei dan seterusnya. Dalam arsitektur orang Rejang sudah mengenal model-model daun jendela dan pintu. Untuk pintu utama, biasanya selain pintu lapisan pertama terbuat dari kayu. Kemudian pada lapisan kedua ada pintu yang terbuat dari kaca yang dibingkai dengan kayu. Sementara untuk pintu kedua (di dalam rumah) tidak demikian. Cukup dengan daun pintu terbuat dari papan. Melihat seni arsitek ‘ukir’ pada dinding, pintu, jendela dan dinding-dinding ruang rumah orang Rejang kemungkinan dipengaruhi oleh seni kaligrafi dalam agama Islam dan aliran naturalisme. Sebab, melihat dari lika-liku ukiran, simbol yang dilukis dan rangkaian-rangkaian ukirannya, memang demikian.

Secara khusus ragam hias rumah Rejang :
1.     Mengungkapkan makna simbolik yang ada dalam Ragam Hias;
2.     Mendeskripsikan komponen pada rumah tradisional Rejang seperti :
tiang,
tangga,
dinding,
ruang
atap;
3.     Mendeskripsikan tata cara dan upacara dalam pembuatan sebuah rumah tradisional Rejang.Data dan informasi ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, seni dan teknologi guna mentransformasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sistem kepercayaan, sistem nilai, pengetahuan dan aturan, serta simbol yang dimiliki masyarakat Rejang mendasari konsepsi mengenai rumah tradisional, mulai dari aturan pembuatan, upacara, memilih bahan, penataan ruang sampai ke bentuk tiang; Pada Ragam Hias yang menggambarkan manusia sangat erat kaitannya dengan kepercayaan suku Rejang yang percaya akan kekuatan roh nenek moyang, dan bentuk mengacu pada gaya primitif yang lebih mementingkan kepentingan sakral;
Ragam Hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada rumah memperlihatkan adanya pengaruh budaya Minang dan tidak diterapkannya beberapa motif makhluk hidup pada rumah Muara Aman, disebabkan pengaruh konteks budaya dalam ruang waktu yang berbeda;  Motif pada rumah tradisional Rejang merupakan tanda yang mengandung makna simbolik dari adat istiadat Rejang.




Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive