Sabtu, 12 November 2016

Fungsi Keluarga dalam Menangani Pecandu Narkoba dan Kondisi Masyarakat Indonesia


Fungsi Keluarga dalam Menangani Pecandu Narkoba
     Apa reaksi saya bila ada salah seorang dari keluarga saya ternyata pecandu narkoba? Jawabannya adalah panik, membayangkan salah seorang dari keluarga saya akan berurusan dengan polisi atau panik karena tak menyangka “kok bisa” orang yang saya kenal dekat terkena narkoba. Lalu apa yang harus saya dan keluarga saya lakukan?


     Fase panik melihat orang terdekat sebagai pecandu narkoba, hal ini merupakan reaksi terbaik daripada membiarkannya terus-menerus jatuh kekubangan candu. Pilihan awal yaitu mengumpulkan anggota keluarga untuk bermusyawarah menentukan apa yang terbaik untuk menolongnya. Sumbang saran dari masing-masing anggota keluarga sangat diperlukan barangkali ada opsi terbaik. Pilihan kedua yaitu mencari tahu segala informasi mengenai penanganan pecandu narkoba.

     Setelah cukup mendapatkan informasi dan tahu apa yang harus dilakukan, pastinya tidak boleh bertindak gegabah. Saya akan mengajaknya bicara baik-baik untuk mengetahui lebih dalam apakah ia korban atau sudah pada tahap pengedar. Pada tahap bicara baik-baik ini, harus mengutamakan proses kehati-hatian. Memperhatikan tanda-tanda di dirinya apakah ia memang korban atau sudah menjadi pengedar agar tak terkecoh.
     Tentu ketika berbicara baik-baik, mengusahakan mendapatkan informasi darimana ia mendapatkan pasokan narkoba. Tujuannya untuk membantu ia terbebas dari jeratan bandar atau sindikat narkoba. Di sinilah peran melibatkan masyarakat sekitar diperlukan. Meminta info siapa nama bandar narkoba itu agar masing-masing tetangga bisa mencegah penyebaran sindikatnya secara dini.
     Setelah cukup mendapatkan informasi dari dirinya, langsung melapor ke BNN. Kemudian ke pusat rehabilitasi rujukan BNN. Selama ia di panti rehabilitasi, saya dan keluarga saya akan sesering mungkin meluangkan waktu untuk menjenguk ataupun mendampinginya. Selain sebagai pemberi semangat juga untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tindak pencegahan peredaran narkoba dari petugas pendamping.

     Sembari mendapatkan berbagai informasi tentang tindak pencegahan terkait narkoba secara perlahan-lahan, saya akan berbagi semua informasi tersebut ke masyarakat sekitar maksudnya seperti teman-teman, tetangga dan lainnya. Misalnya pada saat kumpul bersama teman-teman berbicara sejenak sebagai saksi hidup betapa jerat narkoba itu sangat menghancurkan sendi-sendi agama, kekeluargaan, dan ekonomi.
     Semua ini dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga karena fungsi dari keluarga itu sendiri adalah tempat pertama untuk berbagi kasih dan mencurahkan segala isi hati atau permasalahan dan juga salah satu dasar terbentuknya kehidupan sosial.
Kondisi Masyarakat Indonesia
     Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju.

Masyarakat Sederhana


     Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Kaum pria melakukan perkerjaan yang berat seperti,menangkap ikan di laut, berburu, bertani, berternak, dan menebang pohon.Sedangkan kaum wanita pekerjaan yang ringan-ringan seperti, mengurus rumah tangga,mengasuh anak-anak,bercocok tanam,merajut,membuat pakaian dan membersihkan rumah. Pembagian dalam bentuk lain tidak terungkap dengan jelas, sejalan dengan pola kehidupan dan pola perekonomian masyarakat primitif atau belum sedemikian rupa seperti pada masyarakat maju.

Masyarakat Maju


     Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai. Dalam lingkungan masyarakat maju dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakatnon industri dan masyarakat industri.

  1. Masyarakat Industri

     Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian atau kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.

     Contohnya tukang roti, tukang sepatu, tukang bubur, tukang las, ahli mesin, ahli listrik, tukang bakso, mereka dapat bekerja secara mandiri. Dengan timbulnya spesialisasi fungsional, makin berkurang pula, ide-ide kolektif untuk diekspresikan dan dikerjakan bersama. Dengan demikian semakin komplek pembagian kerja, semakin banyak timbul kepribadian individu.


      Abad ke-15 sebagai pangkal tolakdari berkembang pesatnya industrialisasi, terutama didaratan Eropa. Hal tersebut telah melahirkan bentuk pembagian kerja antara majikan dan buruh. Laju pertumbuhan industri-industri membawa konsekuensi memisahkan pekerja dengan majikan lebih nyata. Akibatnya terjadi konflik-konflik yang tak dapat dihindari, kaum pekerja membentuk serikat-serikat kerja/serikat buruh.
     Perjuangan kaum buruh semakin meningkat, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Ketidakpuasan kaum buruh terhadap kondisi kerja dan upah semakin meluas. Ketidakpuasan buruh menjadi bertambah, karena kaum industrialis mengganti tenaga manusia oleh mesin-mesin.

  1. Masyarakat non industri

Masyarakat non industri bisa di bedakan menjadi 2 golongan yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder.

  1. Kelompok primer
     Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut juga kelompok ”face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab.Sifat interaksidalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok, yaitu menerima serta menjalankan tugas idak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Contohnya adalah rukun tetangga,keluarga,kelompok agama,kelompok belajar dan lain-lain.

  1. Kelompok sekunder
     Antaran anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu sifat interaksi, pembagian kerja, antaranggota kelompok diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasiomnal dan objektif.  Kelompok sekunder dapat dibagi dua yaitu : kelompok resmi (formal group) dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah kelompok tidak resmi tidak berststus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) seperti lazim berlaku pada kelompok resmi.

     Berdasarkan penjelasan masyarakat dan penggolongan di atas. Kondisi masyarakat Indonesi a pada saat ini termasuk dalam golongan masyarakat maju. Hal ini dapat dilihat dari pembagian pekerjaan yang tidak lagi dilihat dari jenis kelamin. Perempuan maupun laki-laki dapat bekerja dengan kedudukan yang sama.
Berikut salah satu contoh yang menguatkan bahwa Indonesia termasuk golongan masyarakat yang maju.
Jakarta, kabarbisnis.com: Batik tradisional khas Banyuwangi menjadi role model Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berstandar SNI yang akan dipamerkan pada Indonesia Quality Expo (IQE) 2016. Meskipun diproduksi industri lokal, teknologi pembuatan batik tradisional ini memenuhi standar SNI.

Plt Kepala Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), Doni Palli, mengatakan, banyak jenis batik berstandar SNI yang akan dipamerkan pada IQE tahun ini, namun khusus batik khas Banyuwangi akan dijadikan model percontohan UMKM yang memenuhi kualitas SNI.
"Kami ingin mengidentifikasi batik asli daerah, di mana dari sisi kualitas pewarnaan dan proses lainnya ternyata sudah memenuhi SNI," kata Doni Palli.

Kata Doni, produsen batik daerah Banyuwangi layak menjadi contoh untuk produsen batik lain. Meskipun di daerah terpencil, produsen batik ini berhasil memberdayakan masyarakat setempat dan tetap mengutamakan kualitas.

Selain batik Banyuwangi, dua produk teknologi lokal juga menjadi role model dalam IQE tahun ini adalah teknologi laundry untuk kebutuhan rumah sakit dan hotel serta konverter kit untuk mesin perahu nelayan di Pontianak. Konverter kit ini bertujuan menghemat bahan bakar minyak dari bensin dan solar dengan menggunakan gas elpiji. Baca selengkapnya disini
Sumber :

Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive