Jumat, 23 Juni 2017

FENOMENA MUDIK KETIKA LEBARAN DI INDONESIA



NAMA : ERIKA BUDI H.
KELAS : 1TB03
NPM : 22316362

MUDIK LEBARAN

Image result for mudik

Memang sampai sekarang mudik masih menjadi fenomena di kalangan indonesia. Karena mudik adalah kegiatan setiap orang melakukan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia sangat identik dengan tradisi setiap tahun yang terjadi menjelang Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya orang Jawa, Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi Indonesia yang sering dilakukan dari zaman sampai zaman sekarang. Yang membuat  pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul bersama dengan keluarga – keluarga , saudara , dan teman lama yang terjadi ketika lebaran.

Tahukah anda Mudik diambil dari kata “udik” yang artinya  kampung atau jauh dari kota. Entah sejak kapan tradisi mudik yang pulang kampung ke halman masing – masing  di indonesia dimulai . Tetapi menurut seseorang budayawan Jacob Soemardjo, mudik ialah tradisi primordial masyarakat – masyarakat  Jawa yang sudah mengenal tradisi yang sudah lama  ini jauh sebelum berdiri Kerajaan besar Majapahit untuk membersihkan kuburan keluarga dan berdo’a bersama untuk dewa-dewa di kahyangan untuk meminta pertolongan keselamatan kampung halamannya yang sangat rutin dilakukan satukali dalam satu tahun. Kebiasaan membersihkan kuburan dan berdoa bersama di kuburan keluarga masing – masing  sewaktu pulang kampung sampai saat ini teradisi  tersebut masih banyak ditemukan di daerah Jawa.

Budaya mudik  tersebut merupakan suatu nilai sosial positif bagi orang Indonesia, karena dengan pulang kampung yang berguna untuk memperkuat nilai silaturahmi terhadap keluarga. Anda pastinya ada acara yang dilakukan ketika mudik khususnya menjelang lebaran ini  bukan hanya menjadi milik umat muslimah maupun muslimin yang akan merayakan idul fitri bersama keluarga, tetapi telah menjadi milik “masyarakat indonesia” seluruhnya. karena pada dasarnya bersilaturahmi adalah sebuah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak akan dapat hidup tanpa orang lain, meskipun manusia adalah  individu yang boleh menetukan tujuan hidupnya sendiri.

Selain melakukan bersilaturahmi, mudik juga merupakan  momen – momen dimana untuk menunjukkan sebuah eksistensi para pemudik terhadap orang lain. Dengan bertemu keluarga, mereka bisa menunjukkan sampai sejauh mana hasil jerih payah mencapai taraf hidup di perantauan. meskipun ajang “pamer” ini cenderung berdampak negatif. para perantau rela menghabisi tabungannya,disaat jerih payahnya selama dia merantau untuk menunjukkan “keberhasilan” kepada keluarga mereka dan tetangga. Tidak heran penjual handphone dan motor/mobil sangat laris ketika mendekati hari lebaran.

Sebetulnya pulang kampung bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di luar Negeri seperti Eropa atau Amerika, yang memiliki tradisi berkumpul untuk makan bersama dengan keluarga besar mereka pada saat malam natal. Walaupun mobilisasi yang ada tidak sehebat “pulang kampung” di indonesia. diperkirakan mobilitas mudik di indonesia, adalah mobilisasi penduduk terbesar di dunia setiap tahunnya.

Setiap negara memiliki tradisi yang berbeda didalam merayakan hari raya Idul Fitri. Seperti di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia. Kendati Islam adalah agama mayoritas dan penerapan syariat sangat ketat, namun tetap saja perayaan Idul Fitri tidak semeriah di Tanah Air.

Syarif Rahmat, warga Negara Indonesia yang 10 tahun bermukim di Arab Saudi, merasakan suasana berbeda perayaan Idul Fitri di jazirah Arab itu. Yang membedakan Idul Fitri di Indonesia dengan di Arab Saudi. Pertama, di Arab Saudi, tidak mengenal tabuh ‘beduk’. Beda di Indonesia, malam takbiran, masyarakat mulai anak-anak hingga orang dewasa larut dalam kegembiraan dengan menabuh beduk di Masjid, Musholla dan jalan raya.

“Di Indonesia ada beduk. Kalau disini tidak ada beduk. Disini hanya takbir-takbir saja,” kata Syarif Rahmat, dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Jumat (17/7/2015).

Kedua, di Tanah Air, setelah Shalat Ied biasanya saling mengunjungi sanak keluarga, dan tetangga bahkan keliling kampung untuk bersilaturahmi. Sementara di Arab Saudi, sebaliknya. Selesai shalat langsung kembali ke rumah masing-masing. Aktivitas di lakukan pada malam hari, itu pun hanya mengunjungi kelurga terdekat.

Ketiga, soal makanan. Di Indonesia menu utama adalah ketupat dan daging sapi atau ayam. Sementara di rumah orang Arab, justru lebih banyak makanan manis seperti cokelat.

“Jadi siap-siap saja dengan penyakit gula. Di Arab, pertama yang disajikan adalah kopi  arab dan kurma. Warna kopinya itu bukan hitam tetapi hijau kekuningan. Disini juga ada kunafa, sejenis mie kering yang ditimpa dengan susu kental”.

Bagi WNI yang ‘rindu’ dengan ketupat dan opor, tenang saja di Arab Saudi, ratusan toko menjual makanan khas Indonesia. Di wisma KBRI juga biasanya disediakan untuk memanjakan WNI.

Adapun perbedaan yang paling mencolok adalah tradisi mudik. Di Arab tidak dikenal tradisi mudik. “Tidak ada tradisi mudik. Disini lebaran dan tidak lebaran sama saja. Begini-begini saja. Di sini tidak mudik. Biasanya hari kedua masyarakat Arab pergi ke luar kota untuk liburan tapi sebentar. Misal ke daerah pegunungan di Thaif,” terangnya.

Sumber: rri.co.id
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.