Sabtu, 25 Maret 2017

KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA TENGAH ( WONG JOWO)

NAMA : KIKI SETIANINGSIH
NPM : 23316913
KELAS : 1TB03
MATA  KULIAH : ILMU BUDAYA DASAR 1
JUDUL TUGAS KE 2: KEBUDAYAAN MASYARAKAT DAERAH

KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA TENGAH ( WONG JOWO)

A.    Pengertian Kebudayaan

Kata "kebudayaan berasal dari (bahasa Sanskerta) yaitu "buddayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata "budhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai "hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal". Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.
             Sedangkan menurut definisi Koentjaraningrat yang mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil yang harus didapatkannya dengan belajar dan semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Didefinisikan oleh Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi, pada bukunya Setangkai Bunga Sosiologi, merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. 
Kebudayaan dalam bahasa Inggris (Culture) sendiri dalam bahasa inggris muncul pada pertengahan abad ke-19. Sebelumnya para ahli antropologi memberi arti kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam, sebagaimana tercermin dalam istilah agriculture dan holticulture. Hal ini bisa kita mengerti karena istilah culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Pada arti kiasan kata itu juga berarti "pembentukan dan pemurnian jiwa". Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (New York ; Brentano's, 1924), hal 1, mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. 
B.  Kebudayaan Pada Masyarakat Jawa Tengah

Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Ibu kotanya adalah Semarang. Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Luas wilayahnya 32.548 km², atau sekitar 28,94% dari luas pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan perbatasan Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.
Pengertian Jawa Tengah secara geografis dan budaya kadang juga mencakup wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jawa Tengah dikenal sebagai "jantung" budaya Jawa. Meskipun demikian di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat. Selain ada pula warga Tionghoa-Indonesia, Arab-Indonesia dan India-Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi ini.
Kebudayaan Masyarakat Jawa Tengah menurut Unsur-Unsur Kebudayaan (C.Kluckhohn)
·                     Sistem Religi (Keagamaan)
Sehubungan dengan agama yang dianut adalah agama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha. Kenyataan bahwa sebelum agama Islam dan agama Kristen masuk di Indonesia telah sampai lebih dahulu di negri ini yaitu agama Hindu dan agama Budha, maka penduduk Pulau Jawa telah terpengaruhi oleh agama Hindu dan agama Budha sebelum belajar agama Islam, Protestan, dan. Agama Hindu-Budha sendiri membawa pengaruh besar terhadap Pulau Jawaseperti adanya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Kepercayaan lain yang ada dalam masyarakat Jawa adalah  para Muslim di jawa Tengah dan jawa Timur biasanya berkelompok di sebuah kampung bernama Kauman yang berada di sekitar masjid. Orang-orang yang beragama Protestan dan Katolik berkelompok sebagai jemaah dalam suatu organisasi yang berhubungan dengan gereja mereka masing-masing.
Penghayataan mereka sedikit bercampur dengan sejumlah upacara keagamaan yang lebih banyak berbau takhayul daripada tata-cara yang bisa didekati secara rasional. Ini bisa dijumpai pada upacara-upacara perkawinan, kelahiran, khitanan dan kematian yang sebagian besar tidak sejalan dan sukar bisa diterima oleh agama-agama yang percaya pada Tuhan Yang Mahaesa.
·         Sistem Kemasayarakatan

Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.
-Ningrat atau Bendara adalah kelas tertinggi dalam masyarakat Jawa
-Priyayi ini sendiri konon berasal dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para kaum terdidik.
-Santri : Golongan ini tidak hanya merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang taat dengan beragama, yaitu para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di seluruh daerah Jawa.
-Wong cilik atau golongan masyarakat biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial.
Sistem kemasyarakatan ini kami akan membahas tentang bentuk desa sebagai kesatuan masyarakat terkecil setelah rt dan rw yang umum ditemui di masyarakat Jawa.
Desa-desa di Jawa umumnya dibagi-bagi menjadi bagian-bagian kecil yang disebut dengan dukuh, dan setiap dukuh dipimpin oleh kepala dukuh. Di dalam melakukan tugasnya sehari-hari, para pemimpin desa ini dibantu oleh para pembantu-pembantunya yang disebut dengan nama Pamong Desa.
·         Sistem Pengetahuan ( Pendidikan )
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa menurut kelompok para ahli, adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan sedikit adanya pengaruh budaya barat.

·         Sistem Mata pencaharian hidup & Ekonomi
Tidak ada mata pencaharian yang khas yang dilakoni oleh masyarakat suku Jawa. pada umumnya, orang-orang disana bekerja pada segala bidang, terutama administrasi negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang Jawa. selain itu, mereka bekerja pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan dan pertanian dan perkebunan. Sektor pertanian dan perkebunan.
 Salah satu yang paling menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti padi, tebu, dan kapas.
Tetapi orang Jawa juga terkenal tidak memiliki bakat yang menonjol dalam bidang industri dan bisnis seperti halnya keturunan etnis tionghoa. Hal ini dapat terlihat, bahwa pemilik industri berskala besar di Indonesia, kebanyakan dimiliki dan dikelola oleh etnis Tionghoa.
·      Bahasa

Bahasa Lisan
Bahasa Jawa, sebagai bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat suku Jawa, ternyata di dalamnya pun dikenal berbagai macam tingkatan dan undhak-undhuk basa. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, mengingat beberapa bahas lain yang berada dalam rumpun austronesia pun dikenal undhak-undhuk dalam berbahasa.
Ketika seseorang berbicara selain harua memperhatikan kaidah-kaidah tata bahasa, juga masih harus memperhatikan siapa yang diajak berbicara. Berbicara kepada orang tua maupun kepada anak kecil atau yang seumuran. Kata-kata atau bahasa yang ditujukan pada orang lain inilah yang disebut Unggah-unghing bahasa.Unggah-unghing bahasa Jawa antara lain adalah:
a.       Basa ngoko: 
1)      Ngoko lugu
2)      Ngoko Andhap
b.      Basa madya:
1)      Madya ngoko
2)      Madya krama
3)      Madyatara
c.       Basa karma:
1)      mudha krama
2)      Kramantara
3)      Wredha krama
4)      krama inggil
5)      Krama desa
Bahasa Tulis
Bahasa tulis ini biasa disebut dengan huruf jawa/aksara jawa. Keberadaan huruf Jawa (juga memiliki kemiripan dengan huruf  Sunda, Bali, dan sasak) yang dikenal sekarang ini.
Huruf Jawa atau lebih dikenal dengan huruf  honocoroko ini terdiri dari 20 huruf, dimana setiap huruf nya memiliki makna tersendiri, diantaranya:
HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.
 DA TA SA WA LA
DA TA SA WA LA (versi pertama):
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
 DA TA SA WA LA (versi kedua):
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk 
PA DHA JA YA NYA = Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf). 
 MA GA BA THA NGA :
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
·           Kesenian
Kesenian yang terdapat dalam kebudayaan Jawa sangat beraneka ragam, mulai dari tari-tarian, lagu daerah, wayang orang, dan juga wayang kulit, serta masih ada berbagai macam kesenian lainya.
Yang pertama adalah tari-tarian. Dalam bahasa Jawa, tari disebut dengan kata beksa yang berasal dari kata “ambeg” dan “esa” kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu meyerahkan seluruh jiwanya pada tarian.  Pada mulanya orang jawa mulai membuat seni seperti cincin, kalung, gelang, patung-patung kecil dan lain-lain. Awal mulanya hasil karya yang dibuat oleh orang jawa dipakai untuk peralatan upacara persembahan kepada yang gaib.
Macam-macam seni kebudayaan Jawa antara lain adalah:
1.    Seni Bangunan
Bentuk bangunan candi merupakan perkembangan bentuk seni”Cungkup” dengan mengenalkan bentuk dasar “meru” yaitu penggayaan bentuk gunung Mahameru atau gunung Himalaya sebagai tempat bersemayam para dewa. Bentuk meru pada candi berpengaruh pada bentuk, atap rumah yang disebut rumah “joglo". Rumah joglo adalah rumah yang beratap meru. Atap meru sering dibuat bersusun yang disebut “tumpang” dengan “soko guru”di dalamnya. Soko guru adalah empat buah tiang pokok di tengah-tengah banguan rumah jawa.
2.      Seni Pahat
 Seni ukir Jepara banyak digunaka pada perabot rumah tangga, daerah Jepara dan sekitarnya banyak mengahasilkan kayu jati sebagai bahan bakunya, gaya seni ukir Jepara luwes dan cantik.                                 
3.              Seni Kria Batik
Tempat-tempat yang masyarakat memproduksi kain batik sandang melahirkan corak batik tersendiri seperti batik corak Banyumasan , batik corak Wonogiri, batik corak Mataram, batik corak Lasem dan sebagainya. Di Jawa Timur juga muncul beberapa corak batik seperti batik corak Ponorogo, Tulungagung dan lain-lainnya.
·                Seni musik dan seni tari
1.      Seni musik
Orang jawa menyebut tangga nada gamelan disebut “raras”. Raras artinya adalah hati atau rasa. Orang jawa sering mengucapkan kata “raras” dengan “laras”. Ada dua macam “raras” gamelan, yaitu raras “sledro” dan raras “pelog”
2.    Seni Tari
Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera Damarwulan, Tari Bondan, Tari Topeng, Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung, Lengger dari Wonosobo.
3.             Wayang
Wayang dalam bentuk yang asli merupakan kreasi budaya orang Jawa yang berisi berbagai aspek kebudayaan Jawa. Wayang sudah ada jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia. Pada jaman Neolitikum pertunjukan wayang awalnya terdiri atas upacara-upacara keagamaan yang berlangsung di malam hari untuk persembahan kepada “Hyang”Jenis wayang :
Wayang kulit dan wayang wong/orang
·      Sistem teknologi & peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain. Sistem Sistem peralatan hidup atau teknologi ini terbagi menjadi 3 bagian: yaitu sistem bangunan, sistem transportasi, sistem logam.
1.        Sistem Bangunan 
Ada beberapa  jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Ada beberapa  jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting.
2.        Transportasi
a.              Kapal Jung
Kapal Jung Jawa adalah teknologi kapal raksasa buatan orang –orang jawa.Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal.
b.              Andong/delman/dokar
Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Solo dan Yogyakarta dan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Sukoharjo. Keberadaan Andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang hingga kini masih terus dilestarikan, khususnya di Solo. keberadaan Andong di Solo difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar, Andong juga tidak jarang berfungsi sesuai dengan aslinya sebagai alat transportasi umum bagi masyarakat di Solo dan sekitarnya.
3.             Logam
Keris adalah kecanggihan teknologi penempaan logam Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara.









Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive