Minggu, 26 Maret 2017

Kebudayaan Kabupaten Pati

Kebudayaan Kabupaten Pati 


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik , adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian , bangunan , dan karya seni. Pada kesempatan ini saya akan memperkenalkan budaya kabupaten pati, Jawa Tengah. Pati terletak di Jawa Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat. Kabupaten ini terkenal dengan semboyan Pati Bumi Mina Tani. Karena Kabupaten Pati penduduknya mayoritas bekerja dalam bidang pertanian, bahkan 70% kabupaten Pati adalah sawah.

Selain itu Pati juga terkenal dengan Kota Manggis, Karena Kabupaten Pati merupakan penghasil manggis terbesar alias terbanyak se Jawa Tengah , Kota PensiunanKarena kotanya sebagian besar dihuni oleh para pensiunan yang lahir atau dibesarkan di kota ini, juga terdapat warga pensiunan dari luar kota menghabiskan masa tuanya di Pati, karena Kabupaten Pati sangat tenang karena kotanya tidak berkembang sehingga masih berupa pedesaan/perkampungan menjadikan kabupaten Pati menjadi kota pensiunan juga menjadi kota liburannya para pensiunan. Kota Kacang Karena sebagai tempat pabrik yang memproduksi pengolahan berbagai macam varian kacang terbesar di Indonesia, diantaranya yang terkenal adalah Kacang Garuda dan Kacang Dua Kelinci, jika anda pulang kampung dan lewat jalan raya kudus- pati pasti anda melihat pabrik kacang dua kelinci ini dipinggir jalan. Hogwarts van Java, Karena di Kabupaten Pati sejak zaman Majapahit hingga sekarang mayoritas masyarakatnya menekuni ilmu-ilmu mistis, baik itu ilmu putih maupun ilmu hitam dan banyak pula yang menjadi dukun.



Seni Budaya Kabupaten Pati adalah Gong cik. Gong Cik merupakan kesenian khas warisan Leluhur yang sudah tidak eksis lagi di era Global. Gong Cik bersal dari kata “Gong” yaitu Alat musik tradisional (Gong), sedangkan “Cik” berasal dari kata Pencik / mencik (pencak). Gong Cik adalah Seni Tari Bela diri, yang keberadaannya semakin Langka. Dalam acara Sedekah Bumi, Gong Cik ikut andil dalam Upacara adat. Para jawara dari Lahar unjuk kebolehan dalam pagelaran tersebut. Adapun instrumen yang terdapat di dalam Gong Cik adalah sebagai berikut:
  1. Dua buah Kendang kecil (Kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo
  2. Sebuah Gedug sebagai pembakar semangat seolah-olah genderang perang
  3. Tiga buah Gong kecil (Genjur, Kening dan Kenong) sebagai pengatur irama, penegas lagu
Kabupaten Pati memiliki acara/tradisi yang selalu diadakan setiap tahunnya, tradisi ini merupakan turun merun dari nenek moyang dan juga kepercayaan masyarakat terhadap sesuatu hal.. Biasanya tradisi dilakukan karena rasa syukur, hari jadi maupun wafatnya sesorang. Berikut adalah tradisi/acara yang rutin dilakukan di Kabupaten Pati.
1. Sedekah Bumi Tani
Tradisi sedekah bumi bagi warga setempat diyakini mengandung unsur tuah dan memiliki kesakralan tersendiri. Karena itu, warga mengadakan ritual prosesi setiap tahun, lebih dari satu abad lamanya.Tradisi sedekah bumi untuk bersih desa di sini sudah lama dilakukan nenek
moyang. Sejak 1874, penduduk setempat sampai sekarang masih menggelar rangkaian upacara budaya. Semuanya menjadi cara bagi kami untuk bersyukur atas berkah yang diberikan Tuhan berupa keselamatan dan kesejahteraan. Dalam prosesi sedekah bumi, warga menempatkan hasil bumi yang diletakkan dalam tempat berbentuk semacam rumah, disebut dengan julen. Julen menjadi salah satu syarat untuk mengarak hasil bumi keliling desa.

2. Sedekah Laut

Upacara ritual sedekah laut di Pati dilaksanakan dua kecamatan
yaitu kecamatan Tayu dan Kecamatan Juwana. Ritual Upacara Sedekah laut di Pati diawali dengan upacara kecil yang disebut Jhodang Sajen kemudian dilarung. Jhodang Sajen berbentuk Perahu Naga Mina. Ritual ini biasanya diadakan setiap setahun sekali yakni tiap tanggal atau hari antara Hari raya Idul Fitri dengan Ketupat

3. Meron

Meron diadakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh masyarakat kecamatan Sukolilo yang jaraknya 27 km
ke arah selatan dari kota Pati. Upara ini ditandai dengan arak- arakan nasi tumpeng yang disebut Meron dan dibawa ke masjid Sukolilo untuk upacara selamatan. Aneka ragam kesenian tradisional setempat turut ditampilkan menambah keunikan upacara tradisi ini.

4. Tradisi 10 Syura

Merupakan sebuah bentuk tradisi yang hidup dan berkembang di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati yang diwariskan secara turun temurun dan dirayakan setiap tahun yang berlangsung di makam Syekh Kyai H. Ahmad Mutamakkin yang berada di tengah-tengah desa Kajen dan sekitarnya. Dimana penyampaiannya secara lisan dan merupakan milik bersama pendukungnya. Awal mula dilaksanakannya tradisi 10 Syura, Syekh Ahmad Al- Mutamakkin ini adalah untuk mengenang akan jasa – jasa beliau sebagai tokoh agama Islam dan menghargai jasa ilmu yang beliau turunkan. Fungsi dari tradisi 10 Syura ini adalah sebagai penghormatan terhadap leluhur, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagai gotong royong dan kebersamaan, serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Tradisi ritual 10 Syura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin ini didalamnya terdapat bebarapa kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari berturut-turut, yaitu mulai tanggal 6 Syura sampai pada penutupan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Syura. Semuanya merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
Adapun rangkaian ritual keagamaan yang dilaksanakan antara lain; Tahtiman Al-Quran Bilghoib dan Binnadhor, buka selambu dan pelelangan, serta tahlil khoul. Serangkaian ritual ini dimulai dengan manaqiban pembukaan di pesareyan pada tanggal 6 suro.
Selain acara inti dari suronan tersebut biasanya perguruan – perguruan turut memeriahkan tradisi ini. Di Perguruan Matholiul Falah diadakannya Batsul Masail yang dihadiri para kyai – kyai, di Kampus STAI Mathaliul Falah sendiri juga mengadakan ExPo yang dikunjungi oleh berbagai kalangan, di stand terdapat aneka makanan dan minuman, ada juga bazar buku, batik, grosir pakaian, serta pagelaran pertas seni dan budaya, sedangkan di perguruan Salafiyah juga mengadakan pagelaran pentas seni dan budaya. Selain tradisi suronan ini ada juga yang namanya megengan. Tradisi ini merupakan tanda syukur yang diberikan oleh Allah kepada masyarakat. Megengan ini dilakukan pada bulan ruwah / sya’ban pada tanggal 20 keatas. “Kajen merupakan desa kecil, tapi ia tak pernah mati”

5. Khoul Syeh RonggoKusumo

K.Raden Ronggokusumo adalah putera K.Agung Meruwut yang juga masih keponakan KH.Ahmad Mutamakkin yang merupakan salah satu murid yang lain, ia diperintahkan untuk membuka tanah (menebang hutan) disebelah barat Desa Kajen. Perintah beliau dilaksanakan penuh tanggungjawab sehingga dalam waktu yang singkat (konon dalam waktu satu malam) tanah tersebut terlihat emplak-emplak, sehingga oleh beliau dinamai Desa NGEMPLAK. K.Raden Ronggokusumo menetap di Desa tersebut dan ia berjasa besar dalam menyiarkan Agama Islam.Setiap tanggal 10 Shafar, Hari Ulang Tahun atau Haul yang selalu dibanjiri oleh para zairin dari berbagai daerah. Makam beliau terletak di Desa Ngemplak, Kecamatan Margoyoso,Kabupaten Pati,.

6. Khoul Syeh Jangkung

Syeh Jangkung merupakan salah seorang murid Sunan Kalijaga (Wali Songo). Menurut cerita Saridin (Syeh Jangkung) dilahirkan di Desa Landoh Kiringan Tayu, setelah dewasa beliau berkelana di daerah-daerah Pulau Jawa bahkan sampai di Sumatera untuk menyebarkan Agama Islam. Makam Syeh Jangkung terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen. Jarak dari kota Pati kira kira 17 Km kearah selatan menuju Kabupaten Grobogan. Makam ini ramai dikunjungi wisatawan, lebih-lebih hari Jum at Pahing, pengunjung berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur,Sumatera bahkan Malaysia dan Singapura.
Upacara khaul Syekh jangkung dilaksanakan 1 tahun sekali yaitu pada bulan Rajab tanggal 14-15. Adapun acara atau ritual yang di laksanakan antara lain upacara ganti selambu ,pengajian

7.  Rajabiyah

Rajabiyah atau yang sering di sebut sebagai rejeban oleh masyarakat jawa adalah upacara yang dilaksanakan untuk memperingati wafatnya Sunan Prawoto yaitu raja keempat Kasultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama aslinya ialah Raden Mukmin. Prosesi ini dilaksanakan Makam Sunan Prawoto, yang terletak pekuburan umum Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Pelaksanaan khaul Sunan Prawoto dilaksanakan setiap tanggal 15 Rajab.

8. Prosesi Sendang Sani

Sendang Sani Terletak di Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu sejauh lebih kurang 4 Km dari Kota Pati. Sendang Seni adalah sumber air dimana Sunan Kalijogo akan mengambil air wudlu tiba-tiba disisani oleh pengawalnya sehingga disabda oleh beliau menjadi seekor bulus. Di komplek ini terdapat Makam Adipati Pragola beserta pengawalnya dan masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya. Setiap tahun tepatnya bulan Maulud selalu diadakan prosesi oleh Yayasan Handodento.
Ditempat itu terdapat tempat-tempat ritual yang di anggap kramat, antara lain : Paseban yakni empat untuk mengheningkan diri mohon kepada Sang Pencipta, Padusan yakni tempat mandi yang airnya diambil dari Sendangsani yang sementara dipercayai membawa berkah., dan pintu gerbang

9. Mapati

Mapati adalah upacara yang dilakukan pada bulan ke-4 ketika bayi masih berada dalam perut ibunya. Mapati merupakan suatu upacara untuk menghormati kehamilan seorang wanita yaitu dengan memanjatkan doa dan ritual-ritual tertentu kepada yang maha Esa yang di tujukan untuk ibu yang mengandung dan anak yang dikandung supaya mendapat kan berkah dan rahmat dari Tuhan yang maha Esa. Mapati dilakukan pada hari ke-4 yakni pada saat janin berumur 120 karena pada saat itu janin yang ada dalam perut ibunya itulah Allah meniupkan ruh ataunyawa pada si jabang bayi.


9. Suronan

Prosesi bulan suro dimulai sejak permulaan bulan, yakni pada malam satu suro. tradisi seperti "kungkum" atau berendam dalam air mungkin sudah sangat populer di masyarakat dengan tempat favorit kayak pertemuan kali oya dan kali opak di jogja. selanjutnya prosesi bulan suro tuh diikuti ama tradisi "grebeg ageng suro" utamanya di kraton jogja dan solo, dan umumnya di beberapa daerah lainnya. selain kedua di episentrum tampuk pemerintahan tersebut juga acap kali di gelar di dua episentrum pendulum alam, yakni di merapi dan pesisirselatan, seperti bakti pisungsum jaladri dan larung ageng merapi.

10. Pati Night Carnival
Pati Night Carnival merupakan salah satu rangkaian acara Hari Jadi Kabupaten Pati, pada Pati Night Carnival yang pertama kali dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2014
Selain memliki tradisi yang banyak, Kabupaten Pati juga memliki kesenian Tong-Tong Thek, kesenian ini merupakan kesenian yang belum terlalu berkembang di masyarakat luas. Namun Pati, Kesenian Tong-Tong Thek Suto Wijoyo Kenanti Dukuh Seti Pati patut mendapat simpati semua pihak. kreatifnya para anggotanya dalam mengemas kreasi seni antara lagu dan perangkatnya serba dari bambu. Demikian juga dengan kreasi tarian yang ditampilkan para anggota wanita dalam setiap lagu yang dibawakan menambah komplit dalam penyajiannya.
Dengan mengalunkan lagu-lagu keluaran terbaru dimodifikasikan dengan peralatan tong-tong thek dan seperangkat pendukung saund system menjadikan sajian tarian dan alunan lagu semakin menarik.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive