Sabtu, 20 Mei 2017

KEYAKINAN

Manusia yang hidup di dunia ini tidak mungkin lepas dari beragam perasaan senang, sedih, sakit, sehat, kuat, lemah, rajin, malas, dan beragam sifat manusia lainnya. Bagitu juga dengan rasa yakin dan ragu, selalu menyertai denyut nadi kehidupan manusia. Rasa yakin yang biasa mengawal hidup manusia, baik dalam dunia, bisnis, relasi sosial, hingga interaksi spritualnya, merupakan modal primer yang tidak layak untuk disia-siakan. Rasa yakin akan menggiring manusia menuju kunci kesuksesan dan keberhasilan menggapai kebahagiaan hidup dunia-akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan, perjalanan hidupnya akan goyah tak tentu arah. Oleh karena itu, keraguan yang mengganggu pikiran tidak akan mampu menggoyahkan status hukum yang telah dimiliki oleh kayakinan.

Adapun ditinjau dari segi bahasa, Kata yakin (يقين) merupakan isim mashdar yang berasal dari ,يقنا – ييقن – يقن  yang bermakna الأمر  (jelas dan pasti). Diskursus seputar makna kata yakin (selanjutnya di-indonesia-kan menjadi yakin) cukup semarak dibicarakan, terutama dalam kajian ilmu fiqh, Ushul Fiqh, maupun Kaidah Fiqh. Dilihat dari sisi bahasa, yakin secara sederhana dimaknai sebagai ketetapan hati atas suatu kenyataan atau realitas tertentu. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa yakin secara bahasa adalah pengetahuan yang tidak disertai keragu-raguan. Sedangkan makna yakin secara istilah, di sini ada beberapa pendapat mengenai hal tersebut. Di antaranya dikemukakan oleh Ali bin Muhammad al-Jurjani seorang ahli bahasa dan teologi menuturkan bahwa yakin adalah kepercayaan hati terhadap suatu objek bahwa objek tersebut berwujud seperti itu dan wujudnya sesuai dengan kondisi objektifnya. Al-Junaid al-Bagdadi seorang tokoh sufi klasik mengatakan bahwa yakin adalah mantapnya pengetahuan, sehingga orang yang memilikinya tidak ingin berpaling dan berubah haluan.

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan ‘Ilmul Yaqin, niscaya kamu akan benar-benar melihat neraka jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘Ainul Yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang dirasakan sendiri/Haqqul Yaqin)” [At Takaatsur 102: 5-8]
Menurut ayat diatas keyakinan akan suatu kebenaran dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu;
1.Ilmul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan ilmu, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara mempelajari ilmu yang sudah ada mengenai pengetahuan tentang hal tersebut. Misal ingin mengetahui tentang api, bisa kita tahu berdasar ilmu pengetahuan yang mengajarkannya. Bagaimana ciri-cirinya, seperti rasanya panas, warnanya kuning kemerahan, bentuknya menjilat seperti lidah, menghasilkan asap dan seterusnya. Dari sini bisa kita gambarkan bentuk api sebagaimana ilmu pengetahuan yang sudah dipaparkan diatas. ‘Ilmul Yaqin bisa dijadikan sebagai salah satu dasar pembenar suatu fakta yang objektif dalam taraf yang paling rendah. Tetapi walaupun ilmu didapat berdasarkan fakta kebenaran, adakalanya dalam penyampaian ilmu tidak tersampaikan secara sempurna, entah karena kelemahan pembawa ilmu atau si penerima ilmu. Dengan demikian ‘Ilmu Yaqin belum tentu menghasilkan kebenaran yang objektif.
2.‘Ainul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan penyaksian, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara melihat langsung fakta yang ada. Misal ingin mengetahui tentang api, bisa kita tahu dengan melihat langsung keberadaan api dan mengetahui kebenaran faktanya. Ainul Yaqin menjadi dasar pembenar yang lebih objektif atas fakta suatu kebenaran. Karena orang bisa mengetahui fakta suatu kebenaran berdasar mata kepalanya sendiri atau melihat langsung. Tetapi kelemahan tetap masih ada, jika penglihatan kita tidak sempurna atau ada penghalang, maka pandangan kita menjadi terganggu, sehingga benda yang kita lihat menjadi samar atau tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Misalkan kita melihat gajah, tetapi karena terhalang kabut atau karena mata kita ada katarak, mungkin kita bisa menyimpulkan apa yang kita lihat itu bukit. Dengan demikian ‘Ainul Yakin juga belum tentu menghasilkan kebenaran objektif.
3. Haqqul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan pengalaman, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara mengalaminya langsung. Misalkan ingin mengetahui tentang api, bisa kita tahu dengan memasukkan badan kita dalam api, sehingga bisa merasakan langsung panasnya api. Haqqul Yaqin menjadi dasar pembenar yang paling objektif atas fakta suatu kebenaran. Karena orang bisa mengetahui fakta suatu kebenaran berdasar pengalaman yang dialami sendiri, sehingga sulit terbantahkan kebenarannya.
Keyikanan seorang muslim tidak akan terlepas dari Al-Quran, Al-Quran adalah pedoman hidup umat manusia. Dan dari semua surat dan ayat yang di wahyukan kepada Nabi Muhammadﷺ baru beberapa ayat yang saya pelajari maknanya dan sejauh ini menjadi kutipan ayat yang saya sukai yaitu
QS ALI IMRAN:169
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
2. QS ALI IMRAN:170
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
3. QS AN NISA:74
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا 
Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.
4. QS AL HAJJ:58
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ - See more at: 
Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
5. QS MUHAMMAD:4
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
6. QS MUHAMMAD:5
سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ
Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka,
7. QS MUHAMMAD:6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.