Jumat, 04 November 2016

FUNGSI KELUARGA DAN PENGGOLONGAN MASYARAKAT

PENGERTIAN,FUNGSI KELUARGA DAN MASYARAKAT


1. KELUARGA
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).
Suatu keluarga setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan darah atau adopsi.
2. Anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka membentuk satu rumah tangga.
3. Memiliki satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.
4. Mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas.


Dijelaskan dalam sebuah kasus jika seandainya ada anggota keluarga yang pernah menjadi pecandu narkoba apa yang harus kita lakukan berdasarnya 5 fungsi keluarga tersebut :
Fungsi Biologis
· Memberi nasihat dan motivasi kepada anggota yang menjadi pecandu secaara kontinyu.
· Mengadakan musyawarah tentang langkah terbaik yang harus diambil.
Fungsi Pemiliharaan
  • Memberi pengertian tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.
· Tetap mendukung dan tidak mengucilkan anggota keluarga tersebut.
Fungsi Ekonomi
· Menangani anggota keluarga pecandu narkoba dengan cepat dan tuntas supaya tidak menguras keadaan ekonomi karena narkoba sendiri relatif tinggi harganya.
Fungsi Keagamaan
· Memberi tahu larangan dan nasihat tentang penyalah gunaan narkoba dalam perspektif keagamaan.
· Membimbing anggota keluarga tersebut untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Fungsi Sosial
· Melaporkan info pengedar kepada pihak yang berwajib sehingga oknum tersebut dapat lebih mudah ditemukan dan anggota keluarga pecandu juga dapat di rehabilitasi lebih dini.
2. MASYARAKAT
Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.
Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju.
  • Masyarakat Sederhana
Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Kaum pria melakukan perkerjaan yang berat seperti, menangkap ikan di laut, berburu, bertani, berternak, dan menebang pohon. Sedangkan kaum wanita pekerjaan yang ringan-ringan seperti, mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak, bercocok tanam, merajut, membuat pakaian dan membersihkan rumah. Pembagian dalam bentuk lain tidak terungkap dengan jelas, sejalan dengan pola kehidupan dan pola perekonomian masyarakat primitif atau belum sedemikian rupa seperti pada masyarakat maju.
  • Masyarakat Maju
Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai. Dalam lingkungan masyarakat maju dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat industri.
1. Masyarakat Industri
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian atau kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri.
Contoh-contoh : tukang roti, tukang sepatu, tukang bubur, tukang las, ahli mesin, ahli listrik, tukang bakso, mereka dapat bekerja secara mandiri. Dengan timbulnya spesialisasi fungsional, makin berkurang pula, ide-ide kolektif untuk diekspresikan dan dikerjakan bersama. Dengan demikian semakin komplek pembagian kerja, semakin banyak timbul kepribadian individu.
Abad ke-15 sebagai pangkal tolak dari berkembang pesatnya industrialisasi, terutama di daratan Eropa. Hal tersebut telah melahirkan bentuk pembagian kerja antara majikan dan buruh. Laju pertumbuhan industri-industri membawa konsekuensi memisahkan pekerja dengan majikan lebih nyata. Akibatnya terjadi konflik-konflik yang tak dapat dihindari, kaum pekerja membentuk serikat-serikat kerja/serikat buruh.
Perjuangan kaum buruh semakin meningkat, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Ketidakpuasan kaum buruh terhadap kondisi kerja dan upah semakin meluas. Ketidakpuasan buruh menjadi bertambah, karena kaum industrialis mengganti tenaga manusia oleh mesin-mesin.
2. Masyarakat non industri
Masyarakat non industri bisa di bedakan menjadi 2 golongan yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder.
Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut juga kelompok ”face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab. Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok, yaitu menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Contoh-contohnya adalah rukun tetangga, keluarga, kelompok agama, kelompok belajar dan lain-lain
Kelompok sekunder
Antaran anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja, antar anggota kelompok diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional dan objektif. Kelompok sekunder dapat dibagi dua yaitu : kelompok resmi (formal group) dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah kelompok tidak resmi tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) seperti lazim berlaku pada kelompok resmi.



Kuasai Cadangan Migas Nasional, Modal Investasi Pertamina Naik 3 Kali Lipat


Jakarta - Dalam Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Energi dan Migas pada 1 November 2016 lalu, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan keinginannya agar revisi UU Migas dapat memperkuat BUMN perminyakan.
Caranya dengan mengalihkan cadangan migas nasional yang saat ini dikuasakan kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) ke Pertamina. Cadangan migas nasional akan dijadikan leverage alias aset yang dapat digunakan Pertamina untuk mencari pinjaman.
Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam mengungkapkan, kemampuan investasi Pertamina bisa meningkat sampai 3 kali lipat bila rencana itu terealisasi. Capital expenditure (capex) Pertamina saat ini US$ 5-7 miliar per tahun.
"Cadangan minyak (nasional) misalnya ada 3 miliar barel, itu cukup besar, jadi kita bisa meningkatkan kemampuan investasi kita 2-3 kali lipat dari sekarang," kata Alam kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (4/11/2016).
Pinjaman yang diperoleh dengan menjaminkan aset tersebut bisa untuk meningkatkan produksi migas, Pertamina bisa makin ekspansif menguasai cadangan-cadangan migas di luar negeri.
"Banyak kalau kita sudah mampu, bisa tambah investasi di hulu," ucapnya.
Hingga 2025, Pertamina membutuhkan biaya sebesar US$ 70 miliar atau setara dengan Rp 910 triliun untuk investasi di hulu migas. Itu dibutuhkan agar produksi minyak dan gas bumi pada 2025 mencapai target sebesar 1,9 juta barel setara minyak per hari (barel oil equivalent per day/boepd).
Pertamina juga bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Sekarang Pertamina hanya menguasai 24% dari produksi migas nasional. Diharapkan ke depan Pertamina bisa dominan dalam produksi migas nasional, seperti Petronas di Malaysia. (drk/drk)



Sumber:
http://finance.detik.com/energi/3337523/kuasai-cadangan-migas-nasional-modal-investasi-pertamina-naik-3-kali-lipat
http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive