Minggu, 25 September 2016

PERMASALAHAN SOSIAL : Pembangunan Bendungan Terhambat Pembebasan Lahan

Waduk Bajulmati di Jawa Timur.[Dok Kementerian PUPR]
Pernahkah anda melihat rumah-rumah kumuh dipinggir bantaran sungai? Atau gedung-gedung bertingkat yang menutupi daerah resapan air? Atau juga sedikitnya taman-taman kota?  Pastinya anda sudah melihat hal-hal tersebut, apalagi dikota-kota besar yang penduduknya sudah semakin banyak dan lahannya yang makin sempit.

Hal-hal tadi hanya sebagian kecil contoh dari  permasalahan sosial dalam bidang infrastruktur. Masih banyak sebenarnya masalah-masalah sosial yang saat ini kita hadapi.

Tapi taukah anda apa sebenarnya definisi dari permasalahan sosial?

Menurut Gerald R. Leslie (1974) yang dikutip oleh Parsudi (1981) masalah sosial adalah suatu kondisi yang mempunyai pengaruh kepada kehidupan sebagian besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau disukai.

Menurut saya sendiri permasalahan sosial adalah kondisi yang tidak diinginkan untuk terjadi dalam lingkungan sosial. Karena kondisi tersebut tidak diingankan, maka masyarakat tidak tahu apa solusinya sehingga lama kelamaan kondisi itu seakan-akan menempel dalam kehidupan di masyarakat yang kemudian akan membawa dampak buruk bagi lingkungan sosial.

Salah satu contoh permasalahan sosial lainnya adalah sering terhambatnya pembangunan bendungan. Keterhambatan tersebut diakibatkan oleh kurangnya lahan terbuka. Pembangunan bendungan merupakan pekerjaan konstruksi yang komplek pelaksanaannya, membutuhkan teknologi tinggi juga resiko tinggi termasuk resiko sosialnya.

Menurut Kepala Pusat Bendungan, Ditjen SDA Kementerian PUPR Imam Santoso, pembuatan bendungan itu sangat komplek pembangunannya sehingga dituntut kehati-hatian dalam membuatnya. Dalam setiap pembangunannya sudah harus mendapat sertifikasi desai dari KKB (Komisi Keamanan Bangunan) yang ketuanya Menteri PUPR beserta anggota gabungannya yang memang  adalah ahli geologi, ahli hidrologi dll.

Ditambahkannya pembahasan di KKB dilakukan mulai tahap perencanaan sampai desain bendungan yang memerlukan waktu pembahasan satu sampai dua tahun karena melewati beberapa persidangan dan bila dalam sidang pleno disetujui maka bisa dilakukan pelelangan untuk konstruksinya.

Dalam pelaksanaan fisiknya pun harus memenuhi persyaratan yakni sudah ada penetapan lokasi oleh Gubernur sehingga bisa dilakukan pembebasan lahan minimal lahan tapak bangunannya dan jalannya. Kemudian hal penting lain adalah rencana pembangunan bendungan harus ada dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) dan LARAP (Land Acquisition Resettlement Action Plan).

Ia menambahkan, beberapa pembangunan bendungan sering kali terkendala pembebasan tanah. Misalnya Bendungan Tanju dan Mila di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Tukul di Jawa Timur dan Bendungan Pidekso di Jawa Tengah yang progres pembangunan fisiknya terlambat karena terkendala lahan.

Saat ini pembangunan Tanju dan Mila progresnya mencapai 31 persen dari target 34 persen, Bendungan Tukul masih 14 persen dibawah target sebesar 19 persen dan Bendungan Pidekso saat ini progress fisiknya 9 persen dari target 15 persen.

Sangat disayangkan sekali bendungan yang mempunyai banyak fungsi malah terhambat pembangunannya. Beberapa fungsi bendungan antara lain adalah untuk irigasi, mengalirkan air ke sebuah PLTA dan bahkan sebagai tempat rekreasi. Bahkan bendungan juga bisa untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi.

Menurut saya kurangnya lahan terbuka yang menghambat pembangunan bendungan tersebut disebabkan oleh banyaknya pembangunan gedung-gedung bertingkat. Pembanguan gedung-gedung yang terlalu banyak membuat lahan terbuka menjadi sedikit. Yang tadinya ada lahan untuk resapan air atau sebagai paru-paru kota sekarang digantikan oleh aspal-aspal. Menurut saya pengurangan pembangunan gedung-gedung bertingkatlah solusinya. Karena ketika ada lahan terbuka lebih baik dibangun sebagai daerah resapan air atau sebuah bendungan yang banyak manfaatnya.

Sebagai calon arsitek saya juga harus sadar bahwa untuk mendesain dan membangun sebuah bangunan bukan hanya diperlukan keunikan atau kemegahannya melainkan bagaimana bangunan tersebut nantinya akan membawa manfaat untuk masyarakat dan bahkan dapat mengurangi permasalahan sosial.

Sumber :

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive