Kamis, 29 September 2016

Peran Penting Arsitek dalam Permasalahan Sosial di Indonesia



Permasalahan Sosial menurut ahli Lesli,yaitu suatu kondisi yang berpengaruh terhadap kehidupan sebagai besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dan karenanya perlu tindakan untuk mengatasi atau memperbaikinya. Sedangkan menurut saya pribadi, permasalahan sosial adalah,hal-hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk interaksi baik terhadap benda hidup atau benda mati secara individu atau individu terhadap individu lainnya atau individu terhadap kelompok atau kelompok terhadap kelompok.
Permasalahan sosial di bidang arsitektur sering kita jumpai sehari-hari. Arsitektur yang berarti seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasi diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan,atau jika pengertian itu dibuat secara lebih singkat arsitektur berarti Ilmu merancang bangunan dan seni. Tetapi pada nyatanya, infrastruktur-infrastruktur yang sering kita jumpai tidak memiliki konsep arsitektur yang baik,entah memang bukan arsitek yang membangun infrastruktur tersebut atau bahkan tangan-tangan jahil yang sudah merusak karya-karya sang arsitek? Padahal infrastruktur yang terencana dan tertata rapih akan mempengaruhi psikologis masyarakat hingga ekonomi negara.
Misalnya di Jakarta, kurangnya RTH (Ruang Terbuka Hijau) bukan hal yang aneh. Seperti yang dilansir kompas (http://properti.kompas.com/read/2016/09/21/230000421/jakarta.masuk.daftar.kota.tidak.berkualitas)

Selain itu, ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta saat ini masih jauh dari standar yang seharusnya. Berdasarkan Undang Undang Nomor 26 tahun 2007, setiap daerah di Indonesia diwajibkan memiliki RTH sebesar 30 persen dari luas kota dengan rincian RTH privat 10 persen dan RTH publik 20 persen. Sementara itu, Jakarta, diakui oleh Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin Mungkasa, baru memiliki RTH sekitar 9-10 persen.Menurut konsultan RTH dan arsitek lansekap Nirwono Joga, sebanyak 80 persen kawasan, permukiman, dan komersial di wilayah Jakarta dianggap "mengangkangi" RTH.

Pemandangan Taman Menteng, Jakarta Pusat, dari udara, Jumat (6/2/2015). Ruang terbuka hijau menjadi salah satu penyeimbang dan oasis di tengah belantara gedung kota. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES



Peran arsitek dalam pembangunan-pembangunan gedung dan permukiman di daerah Jakarta harus diperhatikan. Sang Arsitek boleh saja membangun permukiman,tetapi harus ditunjang dengan fasilitas seperti RTH. Yang menyediakan lahan hijau bagi penghuninya,sehingga lahan yang dipakai untuk pembangunan permukiman baru tersebut dapat memberikan dampak baik pada lingkungan. Tidak hanya itu, pembangunan RTH dengan konsep unik dan tertata seperti taman-taman kota di Bandung, akan menarik antusias masyarakat untuk mengunjungi taman tersebut. Dari berduduk-duduk santai dibawah pohon yang memberi kesegaran dan kesehatan pernapasan pada masyarakat hingga berolahraga. Itulah tugas arsitektur lanskap dalam membangun taman-taman kota yang unik dan tertata.

Taman Dewi Sartika, Bandung


Kedua,pada terminal bus. Bagaimana pertama kali jika kita mengingat terminal bus? Kotor, kumuh, menkutkan. Tetapi mengapa pada stasiun kereta api atau bandara bisa selalu rapih? Seperti dilansir dari berita satu (http://sp.beritasatu.com/home/dipenuhi-tukang-ojek-minim-fasilitas-kondisi-terminal-bus-tanjung-priok-semrawut/82524)

"Kalau diterminal lainnya itu pasti di setiap lajur bus ada papan penunjuk arah tujuan kota, tapi kalau di sini malahan tidak ada," ujar Melani
"Tempat duduknya sempit, udah gitu lokasi menunggu ini tidak strategis untuk memantau kedatangan bis," keluhnya. Ia berharap agar kawasan ruang tunggu di terminal tersebut bebas dari asap rokok, pasalnya banyak ibu-ibu yang menyusui maupun membawa anaknya yang masih balita. 


Terminal Tanjung Priuk

Padahal terminal bus jika ditata layaknya stasiun kereta api atau bandara,akan menarik masyarakat agar menggunakan transportasi umum seperti bus dan angkutan umum. Sehingga dapat mengurangi kemacetan di kota-kota besar. Sekaligus dapat mengurangi polusi sehingga angka kesehatan masyarakat di Indonesia dapat meningkat.
Dengan menggunakan konsep programatik/pragmatic, yaitu konsep yang dikembangkan berkisarpersoalan2 yg pragmatis yang diidentifikasidari program sebuah bangunan. Konsep inimerupakan tanggapan langsung daripemecahan masalah, Arsitek dapat merancang dan menyusun infrastruktur-infrakstruktur dengan baik sesuai dengan daerah dan kebutuhan infrastruktur. Misalnya, membangun taman kota di Jakarta. Dibutuhkan rancangan-rancangan modern dan udara yang sejuk untuk menarik antusiasme warga Jakarta pergi ke taman kota, karena karakter orang-orang Jakarta yang menyukai kekinian dan udara sejuk,dapat dilihat dari kegemaran warga Jakarta untuk pergi ke mall.
Tidak hanya infrastruktur seperti taman kota dan terminal. Masih banyak infrastrutur-infrastruktur di Indonesia yang masih kurang fasilitas dan kerapihannya. Padahal kelengkapan fasilitas,desain-desain yang unik,kerapihan dan kenyamanan infrastruktur berpengaruh pada wisatawan yang berlibur di Indonesia. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara. Sangat disayangkan hal ini belum bisa terealisasikan,padahal ada ribuan lulusan arsitektur setiap tahunnya. Bahkan tidak sedikit yang tidak bekerja pada bidangnya. Inilah tugas kita sebagai Mahasiswa Arsitektur untuk membawa masa depan Indonesia yang lebih baik lagi.






Sumber:

http://www.misterbandung.com/2016/01/wajah-baru-taman-dewi-sartika-bandung.html


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive