Sabtu, 29 April 2017

Pendidikan Edukasi Dengan Sistem Pembodohan – Penderitaan Tak Berujung



Brian Arthur
1TB03-21316480

  
Jika dibilang setiap manusia memiliki otak yang berbeda . Hal tersebut jelas menciptakan manusia dengan daya ingat yang berbeda, cara pandang yang berbeda, kelebihan, kekurangan dan banyak hal yang berbeda.
Namun… Mengapa seringkali sistem penilaian seseoarang disamaratakan? Bagaimana bisa seseorang yang jelas berbeda dinilai dengan sebuah kriteria yang sama. Dengan kriteria yang ditentukan sebuah sistem hanya membuat seseorang yang tidak sesuai akan selamanya merasa bodoh.
Lalu apa yang harus dilakukan? Tidak ingin mengikuti sistem namun bukan seorang jenius yang mampu bertahan diluar sana. Hanya terpuruk dalam sebuah sistem yang disebut "Pendidikan"


1. Jika dibilang ketika melihat kesuksesan seseorang pendidikan edukasi merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh. Semakin tinggi pendidikan edukasi yang dimiliki akan semakin tinggi juga status karir yang dimiliki. Tapi tidak semua orang yang sukses memiliki latar belakang pendidikan edukasi yang tinggi. Maka dari itu sejatinya pendidikan bukanlah sesuatu yang didapat di atas kertas. Ketika berkata pendidikan maka itu termasuk dengan inidividu dengan dirinya dan lingkungannya sendiri. Bagaima cara seseorang menyikapi suatu masalah, memandang sesuatu dan bertingkahlaku akan lebih menentukan kesuksesan seseorang dibanding sebuah edukasi yang kita dapat pada sekolah ataupun universitas. Namun seringkali yang terjadi adalah sebuah sekolah ataupun universitas memaksa murid untuk mencapai target yang mereka inginkan tanpa memperhatikan keadaan murid - murid mereka.
2. Ketika membicarakan pendidikan, kita membicarakan masa lalu masa kini maupun masa depan. Masa depan seseorang merupakan hasil dari pendidikan yang dijalani saat ini. Pendidikan masa kini seseorang merupakan hasil dari masa lalu seseorang. Siklus ini yang menyebabkan sebuah pendidikan tak berujung. Bagaimana sebuah tindakan dapat mempengaruhi hidup seseorang selama berkepanjangan.


     Ketika masih sekolah saya selalu berpikir mengenai masa depan. Apa yang akan saya lakukan nanti, apa yang akan terjadi pada orang - orang di sekitar saya. Tentu saja semua tak luput dari pengamatan berdasarkan nilai yang ada di atas kertas. Bagaimana nilai akan mempengaruhi seseorang. Karena ulah oknum sekolah yang seolah hanya memandang nilai yang sering terjadi dalam lingkungan sekolah adalah menyontek. Bagaimana sistem pendidikan berhasil membuat murid menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tidak seberapa. Bagaiamana mereka membuat seeorang tertekan atas ketidakmampuannya menghadapi soal yang diberikan, membuat kepercayaan diri seseorang menjadi rontok. 

     Tapi juga disisi lain membuat seseorang termotivasi untuk mencapai suatu yang lebih, bagaimana membuat sisi ambisius seseorang dominan. Setiap orang memiliki respon yang berbeda - beda pada sistem pendidikan. Itu semua menjadi pilihan kita masing - masing. Tapi apakah semua orang memiliki latar yang belakang yang positif dan lingkungan yang positif untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Seakan sekolah tidak memberi sebuah kontribusi pada perkembangan siswa. Mereka hanya peduli pada siswa yang sudah jadi dan hanya tinggal dipoles untuk mencapai suatu tingkat tertentu. Jika ini terus berlanjut bukannya yang terpuruk akan selamanya seperti itu? Bagaimana seseorang menjadi menyerah pada cita - cita nya menyerah karena merasa tindak mampu untuk menggapainya. Bagaimana seseorang yang bisa berbuat lebih tetapi hanya menginginkan yang kecil saja. Bagaimana seseorang yang dengan mudah mendapatkan yang diinginkan. Bagaimana seseorang yang harus mati-matian untuk mendapatkan sesuatu. 
     
     Mengapa seolah-olah sistem pendidikan yang kita miliki hanya mendukung seseorang yang mampu dan menyeleksi yang tidak sesuai kriteria. Jika mengingat hal itu saya merasa sangat sedih. Ketika mengetahui suatu hal namun kita tidak bisa melakukan apapun. Itulah yang menciptkan sifat malas saya. Karena saya berpikir buat apa pintar kalau tidak bermanfaat. Sejauh yang saya lihat, bagaimana seorang yang pintar pun diatur dalam sebuah sistem. Lalu apa yang kita rubah?? Kita hanya memperketat sistem. 

     Jika kita membutuhkan ratusan abad untuk menghentikan perang. Berapa jauh waktukah yang kita perlukan untuk memperbaiki pola pikir sistem pendidikan yang seperti ini? Saya rasa banyak yang memiliki pemikiran seperti saya di luar sana. Tapi apa? sudah berapa lama sistem ini berjalan dan tidak kunjung membaik. Itu karena tidak ada yang mau peduli dengan ketidakmampuan orang lain. Bagaimana seseorang hanya mementingkan diri sendiri. Orang pintar yang dikuasi oleh orang - orang bodoh yang mengklasifikasikan manusia berdasarkan nilai edukasi. Membuat murid untuk bersaing satu sama lain dan menyingkirkan yang tidak tahan. Semua itu bahkan berlanjut ke dunia orang dewasa.


"Yang gagal akan selalu disusahkan."
"Yang berhasil akan didukung, jika ia gagal maka akan dibuang juga."
Begitulah yang saya lihat saat ini terhadap dunia pendidikan.

Jika ditanya berapa ratingnya tentu saja 100/100
Penderitaan yang tidak ada ujungnya, yang berdampak domino bahkan kepada anak cucu kita di masa depan.  
 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive